https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu
Jumat 12 April 2019, 13:36 WIB
Kolom
Doa dan Isyarat Gaib Pemilu
Candra Malik - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu#>
Candra Malik
<https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu#> 15
komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4507623/doa-dan-isyarat-gaib-pemilu#>
Doa dan Isyarat Gaib Pemilu Candra Malik bersama Mas Lurah Hastono
Sumitro (Foto: koleksi pribadi)
*Jakarta* - Mas Lurah Hastono Sumitro namanya. Seorang tua yang telah
mengabdi 57 tahun pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lebih dari dua
per tiga hidupnya yang kini berumur 81 tahun. Ia adalah juru kunci Makam
Raja-Raja Mataram di Kotagede. Sumitro juga saksi hidup betapa banyak
tokoh publik, pejabat atau calon pejabat, termasuk calon presiden yang
telah sowan menziarahi Panembahan Senopati dan raja-raja lainnya, serta
para leluhur Mataram.
Sore kemarin, Sumitro yang seorang diri membukakan gerbang area makam,
setia memeriksa dupa-dupa yang meranggas dimakan api. Tak ingin
mencampuri urusan siapa pun yang berziarah, ia menunggu para tamu di
luar gedung makam. Ya, nisan-nisan besar dan tua para raja itu memang
tidak dibiarkan diterpa terik matahari dan dibasahi derai hujan.
Menyilakan masuk peziarah, tanpa membatasi waktu, tentu Sumitro yakin
peziarah layak dipercaya.
"Sebagian orang beranggapan manusia yang telah wafat benar-benar telah
tiada. Namun, sebagian lainnya menilai, beliau-beliau ini tidak
benar-benar telah tiada, sesungguhnya masih ada walau pun kini beda
dimensi. Dan oleh karena itulah ada saja yang terus melanggengkan
ziarah, terutama ke makam raja-raja dan para /Waliyullah/," kata Sumitro
dalam bahasa Jawa. Ya, arus ziarah ke makam-makam keramat memang tidak
pernah putus.
Omongan Sumitro bukan tanpa dasar. Q.S. Al Baqarah [2]: 154 menyebutkan,
"Dan janganlah kau mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati; bahkan sesungguhnya mereka hidup, tetapi kau tidak
menyadarinya." Selain itu, dalam Q.S. Ali Imran [3]: 169 Allah
berfirman, "Janganlah kau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat
rezeki." Betapa mulia mereka.
Dunia memang melesat maju, tapi akhirat tidak pernah tertinggal meski
sejengkal. Di negeri ini, suara milenial memang sangat diperebutkan
untuk memenangi pemilihan presiden dan calon presiden, juga calon
legislatif, namun suara dari alam gaib tidak pernah diremehkan. Hanya
saja, berbeda dengan suasana batin dan percakapan di warung-warung kopi
pada masa-masa pemilu yang telah lalu, khususnya di Jawa, kini tema
wahyu /keprabon/ tidak menonjol.
Perseteruan antarkubu didominasi oleh isu sentimen agama, terutama agama
mayoritas. Perang ideologi bahkan telah terjadi pada tahun-tahun pertama
periode pertama Joko Widodo menjabat presiden. Perang opini di media
massa maupun media sosial seperti tidak mengenal istirahat. Propaganda
apa pun, mulai dari hoaks, ujaran kebencian dan permusuhan, hingga
perdebatan sengit tanpa ujung pangkal, mewarnai proxy war. Termutakhir,
people power diancamkan.
Barangkali juga karena Pemilihan Presiden 2019 ini hanya semacam
pengulangan dari Pemilihan Presiden 2014, yaitu antara Joko Widodo dan
Prabowo Subianto, maka tidak menyeruak lagi cengkerama tentang Jangka
Jayabaya. Konsep Notonagoro tidak di-/uthak-athik gathuk/ seperti yang
sudah-sudah. Ya, masih muncul perbincangan tentang trah. Namun, bukan
untuk menegaskan siapa yang nasabnya lebih baik melainkan untuk
menegasikan tuduhan Jokowi anak PKI.
Belajar kepada Sumitro, yang setia untuk menjaga dan merawat makam
Raja-Raja Mataram, alam tampak dan alam tidak tampak sesungguhnya
berkelindan. Ada kenyataan di atas meja, ada pula di bawah meja. Ada
informasi terbuka yang dapat diakses siapa pun, ada pula info intelijen
yang bersifat tertutup. Sebesar apa pun pasang-surut arus, tidak akan
pernah air permukaan dan kedalaman terpisahkan. Ritual dan spiritual
dikodratkan menyatu.
Kampanye tidak hanya soal memberi janji pada konstituen, tapi juga
meminta doa dari mereka. Entah permintaan itu benar-benar tulus ataukah
hanya manis di lisan, mereka sesungguhnya tahu bahwa selalu ada faktor
tak terpetakan yang kebenarannya niscaya melampaui seluruh hasil polling
dari pihak dan lembaga mana pun. Faktor penentu itu adalah kehendak
Tuhan. Mereka tak akan menampik doa dari siapa pun sepanjang itu doa
kemenangan. Para calon juga berdoa di tempat-tempat ijabah demi hajat
politiknya.
Pesta demokrasi akan tiba dalam beberapa hari ke depan. Siapa
pemenangnya, apakah Joko Widodo atau Prabowo Subianto, telah tertulis
sejak mula di /Lauh al Mahfudz./ Tidak dapat diubah dengan kecurangan
oleh kubu mana pun dengan modus apa pun. Jauh sebelum agama dipolitisasi
untuk perebutan kekuasaan, dalam hal ini pada Pemilu 2019 di Indonesia,
Allah telah mengingatkan Nabi Muhammad SAW tentang sesungguhnya Dialah
yang menentukan kekuasaan.
Dalam Q.S. [3]: 26, Allah tegas berfirman, "Katakanlah: Wahai Tuhan Yang
mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang
yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." Allah-lah penentu
kemenangan, bukan kita.
Dalam skala kecil, Sumitro mengatakan ia selalu menerima isyarat gaib
sebelum diberi gelar oleh Raja Yogyakarta. Bermula dari Hastono, lalu
Bekel, kemudian Ngabehi, lantas Mas Lurah, Sumitro selalu merasa
terhubung dengan isyarat gaib. "Tapi, kalau ditanya apakah saya sudah
menerima isyarat gaib mengenai siapa yang menang pemilihan presiden,
saya hanya bisa berkata, siapa yang menyayangi dan disayangi rakyatnya
maka ia yang akan terpilih," tuturnya.
*Candra Malik* /budayawan sufi/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*