https://pemilu.antaranews.com/berita/828100/sosok-jokowi-dibahas-peneliti
Sosok Jokowi dibahas peneliti
* Pilpres <https://pemilu.antaranews.com/pilpres>
* 13 April 2019 00:13
Komisi Penyiaran Aceh tegur sejumlah radio dan televisi Simposium
peneliti membahas berbagai kajian akademik tentang sosok Jokowi di Hotel
JS Luwansa, Jakarta, Jumat malam (12/4/2019). (ANTARA/Sugiharto Purnama)
Jakarta (ANTARA) - Kehadiran Joko Widodo (Jokowi) dalam kancah
perpolitikan nasional dianggap sebagai fenomena baru bagi sejarah
demokrasi di Indonesia. Sosok itu lantas menjadi objek kajian para
akademisi dalam memahami cara pandang masyarakat terhadap politik Tanah Air.
"Belakangan fenomena Jokowi banyak muncul, kami melihat dia sebagai
/trend setter/. Alhasil banyak masyarakat di daerah yang memilih
sosok-sosok pemimpin seperti Jokowi," kata Direktur Suropati Syndicate,
Muh Shujahri, saat ditemui dalam acara Simposium Peneliti Jokowi, di
Hotel JS Luwansa, Jakarta, Jumat malam.
Dia menuturkan fenomena politik Jokowi yang berjuang dari level bawah
hingga akhirnya berhasil menjadi presiden Indonesia menarik untuk
dibahas dari sisi akademik.
"Untuk konteks nasional setelah Pemilu 2014, kami melihat lagi bahwa ada
orang dari bawah berjuang untuk bisa sampai ke level presiden
Indonesia," ujarnya.
Dalam konteks itu, lanjut Shujahri, fenomena Jokowi justru menjadi
/trend setter/ elit baru di era reformasi, menggeser popularitas
kelompok-keluarga elit dari keluarga terpandang yang sebelumnya telah
lebih dulu menguasai kancah perpolitikan nasional.
"Kami melihat itu sebagai alasan yang membuat kenapa banyak orang
menulis dan meriset tentang Jokowi," ucapnya.
Sosiolog Universitas Sebelas Maret, Aris Arif Mundayat, mengatakan,
Jokowi memainkan peran politiknya melalui konsep "kuasa Jawa" yang tidak
berbasis teritori, melainkan lebih mendasarkan pada jumlah dan luasan
/client/ yang mereplikasi serta merepetisi tradisi dari pusat kekuasaan.
"Biasanya banyak pemimpin mengambil jarak dan gengsi dengan rakyat,
tetapi Jokowi justru menjadi bagian dari rakyat," kata dia.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Jokowi cenderung menggunakan logika
pemimpin bisnis yang bergerak secara hubungan produksi sesuai fungsi dan
tugas. Pola komunikasi politik yang Jokowi kembangkan lebih berkarakter
/wong cilik/ dan pedagang, karena itu pilihan komunikasi yang dia
lakukan dengan rakyat melalui /blusukan/.
"Jokowi memperoleh modal sosial yang besar dan sekaligus dibicarakan
banyak orang," terangnya.
Sementara itu pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi
Muluk, memaparkan dalam temuan studi Jokowi memiliki motif berprestasi,
kompleksitas kognitif tinggi, tenang, mampu mengendalikan emosi dan
memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis.
"Jokowi itu /street smart/, jadi dia bukan orang tipe /academic smart/
yang bertele-tele. Kalau ada masalah akan dia selesaikan secara
sederhana dan kreatif," ungkap Hamdi Muluk.
Studi yang dilakukan Muluk itu melibatkan 204 ahli psikologi dengan
melihat aspek kepribadian, psikobiografi, analisis pidato dan wawancara.
Simposium yang digelar itu turut dihadiri pengamat ekonomi
politik, Fachry Ali, dan penulis buku Ulama Bertutur Tentang Jokowi,
Mukti Ali Qusyairi.
Pewarta: Sugiharto Purnama, Joko Susilo
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2019