https://metro.tempo.co/read/1195191/warga-pesimistis-proyek-trotoar-kemang-versi-anies-bermanfaat/full&view=ok
Warga Pesimistis Proyek Trotoar Kemang Versi
Anies Bermanfaat
Reporter:
M Yusuf Manurung
Editor:
Jobpie Sugiharto
Jumat, 12 April 2019 19:52 WIB
Ilustrasi pedagang di trotoar jalan protokol. TEMPO/Subekti
<https://statik.tempo.co/data/2018/02/01/id_681129/681129_720.jpg>
Ilustrasi pedagang di trotoar jalan protokol. TEMPO/Subekti
Jakarta - Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merevitalisasi kawasan
Kemang, Jakarta Selatan, dengan cara melebarkan pedestrian dan melarang
kendaraan melintas ditolak oleh seorang warga setempat. Ivan, 32 tahun,
menyebut proyek Gubernur DKI Anies Baswedan itu cermin ketidakmampuan
pemerintah daerah dalam mengatur lalu lintas.
"Akhirnya pakai cara shortcut, instan, dan enggak mau ribet," kata
karyawan perusahaan swasta itu padqa saat ditemui /Tempo/ di salah satu
restoran di Jalan Kemang Selatan, Jumat, 12 April 2019.
Ivan menyatakan dia tidak keberatan bila harus berjalan kaki dari lokasi
parkir kendaraan yang akan disediakan pemerintah. Namun, ujar dia,
kebijakan itu tetap akan menyusahkan karyawan yang berkantor di Kemang
atau pengunjung restoran atau cafe.
"Pasti ribet," kata dia.
Warga lainnya, Lukman (63), malah meragukan kapasitas dan jangkauan
lokasi parkir kendaraan pribadi yang akan disiapkan pemerintah. Menurut
dia, kendaraan yang melintas dan berkunjung di kawasan itu sangat banyak
sehingga pemerintah akan kesulitan mencari lahan yang memadai
dan relatif dekat dari Kemang.
"Mau dialihkan ke mana kendaraannya?" ujar Lukman yang sedang menyantap
makan siang di salah satu restoran di Kemang Selatan bersama rekan-rekannya.
Lukman juga pesimis warga mau berjalan kaki menuju Kemang untuk sekadar
makan atau nongkrong. Walau disediakan bus di kawasan itu - seperti
janji pemerintah DKI - Lukman berpendapat masyarakat tidak akan antusias
memanfaatkannya.
"Itu Transjakarta saja kosong. Orang kalau ke warung saja sekarang,
seratus meter, pada pakai motor," kata dia.
Pantauan /Tempo/ di Lokasi, lebar trotoar di Kemang Selatan hanya
sekitar 1,5 meter. Pedestrian di jalan tersebut bahkan tidak lagi
terlihat sekitar 500 meter menuju persimpangan ke Jalan Kemang Raya.
Lahan yang harusnya menjadi pedestrian hanya berwujud tanah dan pecahan
aspal.
Sebelumnya, Gubernur Anies Baswedan menjelaskan bahwa revitalisasi itu
akan meliputi kawasan Kemang Selatan ke Kemang Utara sampai ke arah
Jalan Prapanca. Dia berjanji membuat tempat itu layaknya sebuah mall
dengan cara melebarkan trotoar. Sehingga, warga bakal
leluasa berjalan-jalan sembari memilih tempat yang akan disinggahi.
"Kalau saat ini, datang ke tempat-tempat restoran, kafe, harus
menentukan dulu mau ke mana, baru parkir di situ. Tapi tidak bisa
berjalan mereview, memilih, ngobrol. Kalau di mall bisa karena ada
tempat jalan kaki yang cukup," ujar Anies di Kuningan, Jakarta Selatan,
Kamis, 11 April 2019.
Menurut Anies, dengan konsep revitalisasi seperti mall itu, kegiatan
perdagangan di restoran, kafe, dan lain-lain di Kemang dapat bergerak
dengan baik dan berimbas pada peningkatan ekonomi. Revitalisasi disebut
juga akan menambah mobilitas pengunjung. Dia bahkan mengklaim bahwa ada
warga Kemang yang ingin lahannya dialihkan menjadi trotoar.
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugraha mengatakan, kawasan
Kemang akan disulap seperti kawasan wisata Legian, di Bali. Kemang
direncanakan akan ramah pejalan kaki dan hanya bisa dilintasi kendaraan
para penghuni.
"Akan seperti di kawasan Legian, Bali. Enggak ada parkiran (umum), orang
melintas aja. Konsep trotoarnya seperti di Sudirman- Thamrin," ujar Hari.
Menurut dia, pemerintah akan menyediakan shuttle bus yang berkeliling
Kemang. Bus disediakan untuk warga yang membawa kendaraan dan ingin
masuk ke kawasan itu. Sedangkan kantong parkir disediakan di luar
Kemang. Agar diizinkan masuk kawasan, kendaraan pribadi warga sekitar
akan dipasang stiker atau kode tersendiri.
"Kalau enggak ada stiker dan kode itu enggak boleh masuk. Orang biar
jalan kaki, kalau enggak mau capek, pakai shuttle bus."
*M. YUSUF MANURUNG | M JULNIS FIRMANSYAH *