http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1493-angsa-putih
/*Angsa Putih*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Jumat, 12
Apr 2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1493-angsa-putih>
<http://twitter.com/home/?status=Angsa Putih
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1493-angsa-putih via
@mediaindonesia>
Angsa Putih
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/04/5481b4019e2245b8725732a5f629412f.jpg>
/MI/Tiyok/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
"SAYA tak tahu beruntung atau sebaliknya mengalami zaman ini. Zaman yang
tak saya sangka demokrasi bakal menghadirkan anarki informasi."
Sahabat lama saya yang jarang berjumpa dalam dua dasawarsa terakhir itu
berkata dalam nada datar dalam sebuah obrolan. Ia sesungguhnya merasa
beruntung demokrasi membuat kesetaraan warga negara mulai terasa.
Meskipun upaya ‘Dari kita, oleh kita, untuk kita’ masih belum tegak
lurus. Frasa ‘untuk kita’ faktanya masih ‘untuk mereka’ (elite).
Meskipun hal-hal degil masih terjadi di sana-sini, ia tetap masih
percaya pada demokrasi meski kadarnya makin tipis. Saya mendengar dengan
reaksi yang biasa saja. Sebiasa saya memandang hujan atau panas di
negeri tropis.
Ia mengeluhkan berita dusta yang susul-menyusul, seperti serial film
televisi. Bahkan, kian mendekati hari ‘H’ kian menjadi. Bahkan, sangat
boleh jadi, pascapemilihan, berita dusta akan kian menggila dengan
berbagai variasi dan ‘kemasan’. Pesta (demokrasi) boleh jadi tak
mengakhiri ‘sebuah soal’, yakni sebuah kepastian pilihan. Pemilu justru
seperti mengawali sebuah soal. Lalu, untuk apa sebuah hajat politik
nasional lima tahunan berbiaya mahalo jika tak mengakhiri ‘sebuah soal’?
Yang terbaru ialah kabar dusta kemenangan pasangan calon presiden
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di TPS luar negeri. Kabar ini ramai
beredar di media sosial. Padahal, pemilu di luar negeri yang
dilaksanakan 8-14 April, lebih awal dari pemilu di dalam negeri,
penghitungannya tetap dilaksanakan 17 April. Seluruh surat suara TPS
luar negeri yang telah melakukan pemilihan, tersimpan rapat di kotak
suara. Ia steril dari tangan ilegal untuk membukanya, begitu kata KPU.
KPU kini seperti jadi sasaran tembak yang paling empuk. Sebelumnya
lembaga ini diuduh culas dengan hoaks tentang dikirimnya 80 juta surat
suara tercoblos dari China dan kabar dusta KPU men-setting kemenangan
57% untuk pasangan Jokowi-Maruf Amin.
Kawan saya yang pernah bekerja di sektor perminyakan itu tak menduga
orang Indonesia mempunyai keterampilan tak terbayangkan dalam merekayasa
informasi. Post truth yang berupa menghantam kebenaran ilmu, ternyata
menjadi fakta di depan mata, nyata, berkali-kali. Kita kerap membaca
tulisan di media sosial yang tak ‘beribu-bapak’ (maksudnya tak
berpenulis alias anonim), tapi bisa viral di lini masa, bahkan diyakini
kebenarannya dalam kehidupan nyata.
"Mudah-mudahan Indonesia kuat dan liat menghadapi semua itu," katanya
lagi seraya menghela napas panjang yang disusul tawa hambar. Saya,
lagi-lagi, tak kaget.
Saya menghubungkannya keluhan sahabat lama saya dengan tulisan peneliti
Denny JA berjudul Filsafat Ilmu dan Kisah Angsa Hitam yang ia kirim ke
nomor Whatsapp saya, kemarin pagi. Ini sebuah bantahan atas survei
harian Kompas beberapa waktu silam.
Denny menyitir pemikir kondang Karl Popper tentang angsa hitam. Teori
angsa hitam meruntuhkan kesimpulan umum yang menyatakan angsa berwarna
putih.
Generalisasi angsa berwarna putih memang kemudian tumbang setelah
ditemukan ada angsa berwarna hitam meskipun ditemukan hanya satu angsa
hitam dari satu miliar angsa berwarna putih.
"Batas dari dunia ilmiah itu dan bukan dunia ilmiah ialah pernyataan itu
dapat disalahkan melalui proses observasi," tulis Denny. "Seketika kita
melihat ada yang salah dalam satu kasus saja, pernyataan yang umum atas
kasus itu, yang berbeda, dapat disalahkan (difalsifikasi)," tambahnya.
Cerita angsa putih bisa, maaf, saya panjangkan. Angsa putih yang
diasumsikan sebagai fakta umum, bisa lumat bukan karena angsa hitam,
kebenaran fakta yang langka dan tak disangka itu, tapi oleh angsa merah
jambu, misalnya. Fakta yang muskil itu. Namun, karena angsa merah jambu
terus dikatakan sebagai fakta, ia mengalahkan kesimpulan umum angsa
putih. Padahal, ia dusta.
Merajalelanya dusta telah, sedang, dan akan meninggalkan jejak digital.
Kita tahu Pemilu 2014, telah meninggalkan aneka jejak digital dari
berbagai pernyataan yang kini berbalik-balik. Dulu memuji-muji tokoh
yang satu dan memaki-maki yang lain, kini sebaliknya. Dusta yang dulu
belum usai, kini muncul aneka dusta yang lain. Itu berasal umumnya para
elite juga.
Saya tak tahu, akan seperti apa jejak digital aneka dusta dan kebencian
itu berakibat pada kita, terutama anak-anak yang kini tengah bertumbuh.
Saya berharap angsa putih tetap berkembang, angsa hitam punya ruang
sebagai kebenaran yang tak terduga-duga. Meski kecil, angsa hitam bisa
jadi ‘pengingat’ angsa putih. Asal jangan yang muskil apalagi dusta,
katakanlah angsa merah jambu itu, justru mengalahkan angsa putih.***