BERITA POLITIK INDONESIADemi Menangkan Pilpres 2019, Jokowi Melawan Prinsipnya 
Sendiri

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Demi Menangkan Pilpres 2019, Jokowi Melawan Prinsipnya Sendiri

www.economist.com

Kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 dianggap sebagai angin segar bagi 
masyarakat Indonesia yang haus akan reform...
 |

 |

 |



Sumber www.economist.comPosted on April 12, 2019

Kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 dianggap sebagai angin segar bagi 
masyarakat Indonesia yang haus akan reformasi dan pemerintahan yang bersih. 
Tapi dalam dua tahun terakhir, dalam upaya memenangkan Pilpres 2019, Jokowi 
melawan prinsip-prinsipnya sendiri. Dia semakin dekat dengan militer, 
seringkali bersinergi dengan ulama garis keras, dan telah menindas beberapa 
tokoh oposisi.
Oleh: The Economist
Di tempat yang dulunya adalah warung pinggir jalan di Kampung Baru, sebuah desa 
di Jawa Timur, sekelompok ibu rumah tangga sedang menyiapkan makanan untuk 
pernikahan. Seseorang melepaskan potongan daging terakhir dari tulang ayam. 
Ibu-ibu yang lain memotong sayuran sambil mengawasi wajan besar yang 
menggelegak.
Di sela-sela tugas, mereka dengan senang hati menjawab pertanyaan tentang 
politik.
Kehidupan di desa itu perlahan membaik, kata mereka. Jalan utama telah diaspal 
dan diperlebar. Satu orang mengatakan bahwa skema asuransi kesehatan baru telah 
membantu mereka membayar obat pilek dan batuk. Yang lain mengutip program 
pemerintah yang memungkinkannya mendapatkan buku pelajaran untuk anak-anaknya.
Ketika ditanya siapa yang berjasa atas perubahan seperti itu, mereka 
berseru—dengan penuh semangat—”Jokowi!”
Pada 17 April 2019, pada usia 57 tahun, Jokowi akan siap untuk dipilih kembali 
dalam pemilu yang akan mengumpulkan 187 juta pemilih—di negara dengan jumlah 
pemilih terbesar ketiga di dunia—untuk memilih di antara 245.000 kandidat untuk 
lebih dari 20.000 jabatan di parlemen nasional, provinsi, dan daerah.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus merancang 2.593 surat suara untuk berbagai 
kombinasi pemilihan umum di seluruh negeri. Setelah surat-surat suara ini 
dicoblos—dan 99 ton tinta digunakan untuk menandai jari pemilih—kotak suara 
dari 810.283 Tempat Pemungutan Suara (TPS) akan dibawa untuk dihitung dengan 
motor/mobil yang menembus melalui kemacetan lalu lintas Jakarta; dengan 
speedboat di sungai-sungai Kalimantan yang berliku; dengan perahu kayu di 
Kepulauan Riau; dengan pesawat di dataran tinggi Papua; dan dengan kuda di 
bagian yang lebih miskin di Nusa Tenggara Timur.
Jokowi akan menghadapi Prabowo Subianto—pensiunan jenderal dan populis yang 
berapi-api, yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya.
Dalam hal ini, Pilpres 2019 akan menjadi pengulangan dari Pilpres 2014, ketika 
kedua pria tersebut bersaing untuk menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 
mantan jenderal dan presiden pertama yang dipilih melalui pemilu langsung, 
setelah 40 tahun pemerintahan otoriter oleh Soeharto berakhir pada tahun 1998.
Jokowi memenangkan Pilpres 2014 di atas gelombang optimisme. Dia dipandang 
sebagai embusan angin segar, seorang reformis yang berpikiran liberal, seorang 
yang berprestasi pragmatis, dan teladan bagi sekularisme.
Di Indonesia—di mana sekitar 88 persen dari populasi adalah Muslim—agama dan 
politik kerap menimbulkan konflik; perjuangan separatis di provinsi Aceh, yang 
berakhir pada tahun 2005, didukung oleh perpecahan agama.
Seperti yang ditunjukkan oleh ibu rumah tangga di Kampung Baru, Jokowi telah 
melakukan cukup banyak dari apa yang dia janjikan terakhir kali. Di tangan 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang cakap, ekonomi tetap kuat.
Ekonomi Indonesia tidak tumbuh hingga tujuh persen seperti yang dijanjikan 
Jokowi lima tahun lalu, tetapi pertumbuhan stabil lima persen sudah cukup untuk 
membuat PDB Indonesia melampaui $1 triliun pada tahun 2017.
Indonesia dalam konteks ekonomi sekarang lebih besar, berdasarkan paritas daya 
beli, dibandingkan dengan Brasil atau Inggris; PDB per kepala di Indonesia dua 
kali lipat dari India.
Tetapi seiring selama dua tahun terakhir Jokowi berusaha keras untuk memastikan 
bahwa ia terpilih kembali, citranya tampak ternoda.
Dia semakin dekat dengan militer, seringkali bersinergi dengan ulama garis 
keras, dan telah menindas beberapa tokoh oposisi.
Kecenderungan seperti itu bukanlah hal baru bagi Indonesia. Soekarno—presiden 
pertama Indonesia—se telah mengawasi demokrasi parlementer yang tidak stabil 
pada tahun 1950-an, bergantung pada militer untuk mendukung rezim “demokrasi 
terpimpin” sejak tahun 1957 dan seterusnya.
Pada tahun 1965, militer menggunakan kudeta yang gagal, yang menyalahkan 
Komunis, untuk memperketat cengkeramannya pada kekuasaan. Ratusan ribu orang 
tewas dalam pembersihan anti-Komunis setelahnya, setelah itu Soekarno 
digantikan oleh Jenderal Soeharto.
Soeharto pada satu titik diperkirakan sebagai orang terkaya keenam di dunia.. 
Tanah yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang terhubung dengan 
keluarganya dikatakan dapat menutupi sepersepuluh wilayah Indonesia.

Calon presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan Prabowo Subianto, setelah debat 
kedua antara calon presiden menjelang pemilihan umum berikutnya di Jakarta, 
pada 17 Februari 2019. (Foto: Reuters)
MENITI JALAN YANG BARUSalah satu daya tarik Jokowi adalah bahwa—di negara di 
mana korupsi masih mewabah—ia tampak bebas dari citra buruk. Jabatannya sebagai 
Wali Kota Solo dan kemudian menjadi Gubernur Jakarta, memberinya reputasi 
sebagai pemecah reformasi dan orang yang jujur serta merakyat. Itulah yang 
masih terlihat.
Pada masa itu, aktivitasnya yang khas adalah blusukan: melakukan sidak untuk 
menemukan pegawai negeri yang malas-malasan, atau menemui masyarakat Indonesia 
yang ingin menyuarakan masalah mereka.
Dua kebijakan terbesar masa jabatannya ditujukan untuk memperbaiki kehidupan 
masyarakat pedesaan Indonesia, yang mencakup setengah dari populasi negara. 
Salah satunya adalah membangun infrastruktur yang sangat dibutuhkan.
Jokowi menjabat dengan rencana untuk menghabiskan $323 triliun (32 persen dari 
PDB) selama tujuh tahun untuk membangun jalur kereta api sepanjang 3.258 
kilometer, 3.650 kilometer jalan, bandara baru, pelabuhan laut, dan pembangkit 
listrik.
Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta tertunda selama beberapa dekade, dan dibuka 
pada bulan April. Pada bulan Desember, Jokowi membuka jalan tol Trans-Jawa, 
yang pembangunannya dimulai pada tahun 1980-an.
Sari—yang mengelola sebuah kafe di dekat Kampung Baru—mengatakan bahwa 
jalan-jalan baru telah membantu “menyentuh tempat-tempat paling terpencil” di 
wilayah ini. Para petani dapat memasarkan hasil panen mereka tanpa khawatir 
akan kehilangan makanan.
Jokowi juga telah mencoba untuk meningkatkan pengeluaran infrastruktur yang 
didapat dari cabang pemerintah lainnya.
Dia telah menerapkan dan memperjuangkan undang-undang yang disahkan di bawah 
Presiden SBY, yang mengirimkan uang pemerintah langsung kepada para pemimpin 
desa, melewati bupati/wali kota yang seringkali korupsi.
Pada tahun 2018, pembayaran ini mencapai $4 miliar (atau dua persen dari total 
pengeluaran pemerintah) dibagi di 75.000 desa. Tidak ada penilaian pihak ketiga 
yang dapat diandalkan tentang seberapa baik pengeluaran ini. Kepala desa tidak 
kebal terhadap korupsi; banyak kekurangan keterampilan administrasi dan 
beberapa kompetensi dasar. Tetapi tampaknya ada beberapa jalan dan jembatan 
yang sedang dibangun.
Selain membangun infrastruktur yang meningkatkan pertumbuhan, pemerintahan 
Jokowi telah memangkas birokrasi. Peringkat kemudahan dalam melakukan bisnis 
oleh Bank Dunia menempatkan Indonesia naik dari peringkat ke-120 pada tahun 
2014—antara Swaziland dan Yordania—ke peringkat ke-73 pada tahun 2019—antara 
Mongolia dan Yunani.
Namun dorongan kebijakan terbesarnya adalah serangkaian program yang dirancang 
untuk mengurangi kemiskinan. Ini termasuk tunjangan yang lebih tepat sasaran 
bagi masyarakat miskin, serta memperbanyak program beasiswa sekolah. Yang 
paling populer adalah perluasan asuransi kesehatan dasar.
Jumlah masyarakat yang tercakup oleh program ini telah meningkat dari 131 juta 
pada tahun 2014 menjadi 205 juta pada tahun 2019, kata Aji Budi, seorang ahli 
kesehatan masyarakat di Universitas Jenderal Soedirman.
DAMPAK NEGATIF YANG BARUSalah satu kebijakan awal di tahun-tahun pertama Jokowi 
adalah memangkas subsidi energi; yang menambah anggaran untuk infrastruktur. 
Tahun lalu, beberapa subsidi energi naik kembali; yang membuat anggaran 
infrastruktur sedikit dipangkas.
Pegawai negeri sipil juga mendapat kenaikan gaji. Itu mungkin masuk akal jika 
terdapat reformasi drastis dalam birokrasi yang korup. Tapi tidak ada reformasi 
seperti itu.
Jokowi juga melakukan intervensi ekonomi. Pada bulan Desember, ia menyelesaikan 
nasionalisasi Grasberg—tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga 
terbesar kedua di dunia—yang sebelumnya dimiliki oleh Freeport-McMoRan, sebuah 
perusahaan Amerika, dan Rio Tinto, sebuah perusahaan Inggris-Australia.
“Merebut kembali sumber daya nasional” dengan cara ini sangat populer di dalam 
negeri, tetapi mungkin membuat orang asing tidak mau berinvestasi di Indonesia 
di tahun-tahun mendatang.
Beberapa bulan kemudian, dia memberi tahu Garuda—maskapai penerbangan milik 
negara—untuk memotong harga hingga seperlima, lalu memerintahkan Pertamina, 
perusahaan minyak dan gas milik negara, untuk menurunkan harga bahan bakar 
pesawat.
Tahun lalu, polisi melarang lebih dari 20 unjuk rasa yang diselenggarakan oleh 
2019GantiPresiden, mengutip izin yang tidak memenuhi syarat—suatu keberatan 
yang jarang digunakan untuk menghalangi unjuk rasa oleh aktivis pro-pemerintah.
Sejak Januari, beberapa tokoh oposisi telah ditangkap dengan tuduhan yang 
lemah. Thomas Power dari Australian National University mencatat apa yang 
tampaknya merupakan penggunaan taktis penuntutan oleh jaksa agung, yang 
merupakan sekutu Jokowi.
Pada tahun 2017 Hary Tanoesoedibjo—seorang pengusaha media yang telah mendukung 
lawan Jokowi—mendapati dirinya dihadapkan dengan tuduhan penggelapan pajak yang 
telah berlangsung satu dekade. Aset media Tanoe mengalihkan kesetiaan mereka 
pada Jokowi, dan kasus Hary Tanoe tidak ditindaklanjuti. Gubernur dan wali kota 
juga dirayu dengan cara yang sama.
Dihadapkan dengan lawan yang memiliki hubungan sangat dekat dengan militer, 
Jokowi telah meningkatkan posisinya sendiri, membawa beberapa jenderal era 
Soeharto ke lingkaran dalamnya. Dalam pidatonya, ia telah mendorong militer 
untuk memperjuangkan kebijakan pemerintah dan menindak mereka yang menyebarkan 
informasi palsu tentang dirinya secara online.

Presiden Joko Widodo dalam kampanye terbuka di Serang, Indonesia. (Foto: 
EPA-EFE)
Pada bulan Februari, ia mengeluarkan wacana untuk memberikan jabatan sipil 
kepada para veteran militer—suatu langkah yang disukai para jenderal, mengingat 
banyaknya penisunan perwira senior yang membutuhkan pekerjaan, dan karena 
memiliki kerabat di posisi tertentu akan menguntungkan mereka.
Namun, sampai sekarang, Jokowi belum melakukannya.
Mungkin pembalikan terbesar adalah pertemanan Jokowi dengan tokoh Islam 
konservatif. Pemilihan umum di Indonesia seringkali diikuti oleh kontestasi 
kesalehan. Pada tahun 2014, kubu oposisi mempertanyakan kredibilitas Islam 
Jokowi, dan menyebarkan desas-desus bahwa ia adalah seorang Kristen.
Dan pada Agustus tahun lalu, Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai pasangannya. 
Ma’ruf adalah Kepala Nahdlatul Ulama dan Ketua MUI.
BUTUH UPAYA BESAR UNTUK MENANGTidak jelas kekuatan apa yang dimiliki Ma’ruf 
jika Jokowi menang; peran wakil presiden hanya diatur secara samar dalam 
Konstitusi. Namun penunjukannya telah menambah kepercayaan lebih lanjut pada 
pandangan bahwa Jokowi memiliki sedikit minat dalam membela minoritas.
Pada tahun yang sama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dituduh menistakan 
Alquran. Setelah protes besar, ia kalah dalam Pilgub Jakarta dan dipenjara 
karena penistaan. Jokowi tidak mengatakan apa-apa.
Tingkat kemiskinan juga semakin menurun. Itu membuat Jokowi senang: pengentasan 
kemiskinan adalah hal yang sangat ia pedulikan. Dan itu membantu dalam jajak 
pendapat. Dukungan Jokowi sangat besar di kalangan masyarakat miskin..
Namun terlepas dari ekonomi yang stabil dan banyak kebijakan populer, kampanye 
pemilihannya kembali telah menunjukkan sisi Jokowi yang sinis dan keras, yang 
baru terlihat beberapa waktu belakangan.
Mereka yang terkejut perlu mempertimbangkan bahwa Jokowi disalahpahami sejak 
awal. Banyak orang—terutama di luar Indonesia—berasumsi bahwa seorang politikus 
yang mendukung reformasi dan pembangunan juga akan memperjuangkan nilai-nilai 
liberal. Namun Jokowi adalah pria yang konservatif dalam berbagai hal, dan 
sangat menentang risiko.
Popularitasnya menular ke partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 
(PDI-P). Partai tersebut memenangkan 19 persen suara rakyat pada tahun 2014 
untuk menjadi partai terbesar di parlemen, dan sekarang tampaknya akan 
mendapatkan hasil yang lebih baik.
Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo juga sedang menikmati 
peningkatan serupa.
Hal ini membuat khawatir partai-partai kecil di Indonesia—termasuk mereka yang 
berada dalam koalisi Jokowi yang putus asa, karena kurangnya semangat reformasi 
dan penyimpangan otoriter.
Ancaman separatisme telah surut, tetapi hambatan bagi partai-partai baru telah 
meningkat. Mereka sekarang harus memiliki cabang di semua provinsi, tiga 
perempat kabupaten/kota, dan setengah dari kecamatan.
Kesenjangan antara apa yang diharapkan pada tahun 2014 dan apa yang telah 
dicapai Jokowi adalah berita buruk bagi Indonesia. Jika—seperti kelihatannya—ia 
memenangkan masa jabatan kedua, itu akan ditentukan oleh kompromi yang 
dibuatnya.
Bagaimanapun juga, pengurangan kemiskinan bukan satu-satunya reformasi yang 
dibutuhkan negara. Selama lima tahun terakhir masa kekuasaannya, Jokowi 
mengejar stabilitas dan konsensus dengan niat perubahan yang tulus—yang 
merupakan salah satu alasan Jokowi menang pada Pilpres 2014.
Dia sekarang mungkin berada di jalur untuk melakukan hal yang sama. Ketika ia 
berkuasa, banyak yang melihat masa depan Indonesia yang cerah. Sekarang dia 
tampaknya dibayangi oleh masa lalunya.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan 
tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.
Keterangan foto utama: Jokowi melakukan swafoto bersama para pendukungnya. 
(Foto: Reuters)







Kirim email ke