Rizal Ramli Nilai Jokowi Terlalu Baik pada Cina
Reporter:
Muhammad Hendartyo
Editor:
Rahma Tri
Minggu, 14 April 2019 12:36 WIB
Mantan Menteri Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, yang sejak 5 Maret 2018
lalu mendeklarasikan diri siap maju menjadi calon presiden dalam
pemilihan presiden 2019, kembali 'berkampanye' akan mengubah Indonesia
dalam tiga hari jika terpilih menjadi Presiden. Hal itu diungkapkan
Rizal saat memberi sambutan sebelum melepas rombongan mudik ke Padang di
Masjid At-Tin, Jakarta Timur pada Ahad, 17 Juni 2018. TEMPO/Dewi Nurita
Mantan Menteri Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, yang sejak 5 Maret 2018
lalu mendeklarasikan diri siap maju menjadi calon presiden dalam
pemilihan presiden 2019, kembali 'berkampanye' akan mengubah Indonesia
dalam tiga hari jika terpilih menjadi Presiden. Hal itu diungkapkan
Rizal saat memberi sambutan sebelum melepas rombongan mudik ke Padang di
Masjid At-Tin, Jakarta Timur pada Ahad, 17 Juni 2018. TEMPO/Dewi Nurita
*TEMPO.CO*,*Jakarta* - Ekonom senior Ramli kembali mengkritik
pemerintahan Presiden Joko Widodo atauJokowi
<https://pilpres.tempo.co/read/1195476/di-debat-capres-kelima-prabowo-minta-jokowi-contoh-cina/full&view=ok>soal
arah perekonomian Indonesia. Menurut dia, kebijakan ekonomi Jokowi-JK
terlalu baik terhadap Cina.
*Baca juga: **Sandiaga Janji Turunkan Tarif Listrik 20 Persen, Reali
<https://bisnis.tempo.co/read/1195427/sandiaga-janji-turunkan-tarif-listrik-20-persen-realistiskah>*
“Kebijakan ekonomi Pak Jokowi terlalu baik dengan Cina. Ini akan kami
evaluasi, kita perlu sahabat dari mana-mana, termasuk Eropa, Jepang,
Korea,” katanya usai debat pilpres kelima 2019 di Hotel Sultan, Jakarta
Pusat, Sabtu, 13 April 2019.
Sebelumnya, pada debat terakhir capres, Prabowo Subianto justru meminta
Jokowi mencontoh Republik Rakyat Cina. "Saya terus terang saja tidak
menyalahkan Pak Jokowi, ini kesalahan semuanya, kita harus berani
memperbaiki diri, kita harus contoh Republik Rakyat Tiongkok, dalam 40
tahun menghilangkan kemiskinan, kita harus mencontoh yang benar," kata
Prabowo dalam Debat Pilpres kelima di Holten Sultan pada Sabtu, 12 April
2019.
Rizal menilai dalam perdagangan Indonesia tidak perlu kerja sama bila
barang terus di-dumping (dijual dengan harga lebih murah dibanding di
negara asalnya). Dia mengklaim, barang-barang dari Cina itu di-dumping
di Indonesia, contohnya baja.
Dia juga mengatakan defisit neraca perdagangan RI dengan Cina semakin
tinggi dalam hampir 5 tahun pemerintahan Jokowi-JK. Menurut Rizal, pada
2013 deficit perdagangan Indonesia dan Cina sekitar US$ 13 miliar,
jumlah itu naik menjadi US$ 18 miliar pada tahun 2018.
Rizal juga menilai adanya Tenaga Kerja Asing atau TKA dari Cina yang
datang ke RI semakin menyebar. Namun dia enggan menjelaskan secara
detail jumlah TKA Cina yang bekerja di Indonesia. “Kalau berkuasa, Pak
Prabowo akan negosiasi sehingga maksimum tenaga kerja Cina 10 persen,”
ujar dia.
ADVERTISEMENT
Rizal juga mengkritik defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2018
yang menurutnya terbesar sejak 1975. Adapun 2018 defisitneraca
perdagangan
<https://bisnis.tempo.co/read/1195571/tgb-nilai-jokowi-menguasai-soal-ekonomi-kreatif>Indonesia
US$ 8,57 miliar. “Hanya kerja-kerja, tapi kok hasilnya memble. Ini
menunjukkan kerja yang tanpa strategi, makanya defisit,” kata dia.
HENDARTYO HANGGI | EGY ADYATAMA
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com