https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/ppyikz282/khilafah-khalifah-dan-kepemimpinan-nasional
*Khilafah, Khalifah, dan Kepemimpinan Nasional*

*Senin 15 Apr 2019 05:19 WIB*

*Red: Karta Raharja Ucu*


*Massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengikuti puncak acara Muktamar
Khilafah 2013 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (2/6).*
*Foto: dokrep*

*inti dari khilfah adalah menghendaki kemaslahatan bagi manusia di dunia
dan akhirat*

*Mendekati Pemilu 17 April 2019 isu khilafah kembali muncul di permukaan.
Perdebatan pun terjadi antara masing-masing kubu partai yang bersaing.
Tidak sampai di situ terjadi perdebatan di kalangan akademisi terkait
istilah ini.*

*Sesungguhnya apa yang ditawarkan Prof Din Syamsuddin dengan khilafah
kulturan visional (**madaniyah**) yaitu tata dunia baru untuk menggantikan
sistem dunia (**world system**) yang sekuler dan membuat kerusakan dunia
yang bersifat komulatif, sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh Ibnu
Khaldun.*

*Karena itu konsep khilafah yang dipahami saat ini perlu dikembalikan
kepada ide awalnya yaitu konsep khalifah. Khalifah dalam artian seorang
pemimpin harus dapat diikuti karena kualitas dirinya.*

*Sedang khalifah dalam arti wakil atau penerus ia tidak boleh bertindak
atas nama dirinya, tetapi apa yang dilakukan itu atas nama yang
diwakilkannya. Dalam hal ini adalah warga negaranya. Jika khalifah itu
sebagai wakil Tuhan, maka ia sebagai pemimpin atau imam harus bertindak
atas nama aturan-aturan Tuhan.*

*Konsep negara Pancasila yang disepakati oleh para **founding father** NKRI
sudah tepat karena dirumuskan untuk memberikan kemaslahatan agama dan dunia
bagi warga negararanya. Sila pertama Pancasila merupakan inti dari
penjagaan agama bagi tiap-tiap individu yang harus dijamin oleh pemerintah.*

*Bagi Muslim sila pertama ini merupakan manifestasi dari konsep tauhid yang
harus diyakini dalam lisan dan perbuatannya. Sedangkan sila lainnya
berkaitan dengan aspek urusan hubungan manusia di dunia yang itu pun harus
dijaga agar dapat memberikan kemaslahatannya hidup di dunia.*

*Sebagai khalifah dalam konteks saat ini, pemimpin Indonesia ke depannya
harus mampu untuk mengintegrasikan peran agama dengan urusan dunia bagi
warga negaranya dengan memberikan kemaslahatan. Agama  bukanlah penghalang
pembangunan negara sebagaimana yang dikonsepsikan oleh sebagian
pemikir/tokoh Barat.*

*Agama adalah inti dari pembagunan negara. Lalu, agama bukanlah jargon yang
hanya muncul dalam pesta demokrasi lima tahunan. Dia adalah **way of
life** yang
harus diterapkan dalam bernegara. **Wallahu’alam bil sawwab.*

*TENTANG PENULIS*

*NURIZAL ISMAIL.** Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia &
Peneliti ISEFID*

Kirim email ke