http://www.balipost.com/news/2018/01/15/34486/Tak-Hanya-di-Jepang,Pasir...html
Tak Hanya di Jepang, Pasir Bali Utara
Juga Bermanfaat untuk Terapi Kesehatan
Senin, 15 Januari 2018 | 08:02:29
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F01%2F15%2F34486%2FTak-Hanya-di-Jepang%2CPasir...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Tak+Hanya+di+Jepang%2C+Pasir+Bali+Utara+Juga+Bermanfaat+untuk+Terapi+Kesehatan&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F01%2F15%2F34486%2FTak-Hanya-di-Jepang%2CPasir...html&via=balipostcom>
*
*
Sejumlah orang melakukan terapi pasir hitam di Pantai Desa Kerobokan,
Buleleng. (BP/ist)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Kawasan pantai di Buleleng yang terpanjang
di Bali tidak hanya potensial dalam penangkapan dan budidaya
perikanan laut. Potensi terpendam lain dan belum banyak dikelola
warga adalah pasir hitam yang halus.
Berdasarkan penelitian, pasir ini bermanfaat untuk terapi kesehatan.
Lembaga Peneliti dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana
(UNUD) mencatat, pasir hitam di Bali Utara dapat menghasilan panas
dengan suhu tertentu. Hawa panas inilah yang dapat dijadikan sebagai
terapi kesehatan.
Koordinator Peneliti dari LPPM UNUD Dr. Agus Dharma, saat mengadakan
demonstrasi pemanfaatan hawa panas pasir sebagai alternatif kesehatan di
Pantai Desa Kerobokan, Minggu (14/1), mengatakan penelitian tersebut
dilakukan di pesisir Pantai Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan sejak 2017.
Selama itu, tim dari LPPM UNUD mengamati dan mengambil sempel pasir
hitam yang ada di pantai sebagai data penelitian.
Dari hasil penelitian, ditemukan hawa panas pasir rata-rata 45 derajat
sampai 50 derajat celcius dapat dijadikan alternatif terapi kesehatan.
Peluang itu dapat dilakukan mulai pukul 09.00 Wita sampai pukul 17.00
Wita. Cukup dengan menggali kedalaman galian pasir maksimal 50 centimeter.
Waktu yang diperlukan selama 15 menit, kemudian masa pemulihan setelah
bangkit dari timbunan pasir perlu waktu selama 5 menit. “Warga sudah
terbiasa memanfaatkan hawa panas pasir itu untuk alternatif kesehatan.
Penelitian kami ini lebih memberikan informasi yang benar, warga yang
memanfaatkan terapi hawa panas pasir itu,” katanya.
Baca juga: Pembangunan Bandara di Bali Utara, Pemerintah Diminta Siapkan
Infrastruktur Pendukung
<http://www.balipost.com/news/2017/08/09/17592/Pembangunan-Bandara-di-Bali-Utara,...html>
Menurut Agus, penelitian tersebut berdasar teknik pengobatan kuno dengan
hawa panas pasir yang ada di sebuah daerah di Jepang. Hanya saja,
pengobatan di negara tersebut diperkirakan sudah berlangsung 400 tahun
silam, menfaatkan hawa panas pasir yang muncul dari bawah. Kemunculan
hawa panas itu karena di daerah tersebut ada gunung yang mengeluarkan
hawa panas dari bawah pasir.
Sedangkan untuk di Bali Utara sendiri, hawa panas yang muncul dari atas
dipicu terik matahari. “Kami masih melanjutkan penelitian untuk
memberikan hasil lebih detail terkait penyakit apa yang dapat
disembuhkan,” tegasnya.
Sementara Ketua LPPM UNUD Prof Dr. Ir I Gede Rai Maya Temaja mengatakan,
hasil penelitian di Pantai Desa Kerobokan tersebut akan ditindaklanjuti
untuk dikembangkan di pantai-pantai di sepanjang Bali Utara. LPPM UNUD
selain menggelar demostrasi pemanfaatan hawa panas pasir hitam sebagai
terapi kesehatan, juga melaksakan aksi tanam pohon, dan penenggelaman
satu buah hexadome yang dipusatkan di Pantai Kerobokan.
Perbekel Desa Kerobokan, Putu Wisnu Wardana mengatakan, dengan ada hasil
penelitian itu, pihaknya optimis mampu menambah ketertarikan warga
datang ke Pantai Kerobokan. Desa Dinas bersama Desa Adat juga terus
berupaya mengembangkan Pantai Kerobokan, menjadi sebuah kawasan
rekreasi. “Ini sangat baik bagi pengembangan wilayah kami dan
sekarangpenataaan taman di kawasan itu juga dilengkapi jogging track,”
tegasnya. (Mudiarta/balipost)