https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul?page_num=5
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul/full&view=ok>
Adu Misi Luar Angkasa dari Cina hingga Rusia,
Siapa Terunggul?
Reporter:
Moh Khory Alfarizi
Editor:
Yudono Yanuar
Kamis, 18 April 2019 06:38 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul/full&view=ok#comments>
101
#
#
#
#
Rancangan bangunan di Mars untuk astronot pertama di Planet Merah itu.
Ini karya salah satu pemenang Tantangan Habitat Mars 3D. (NASA)
<https://statik.tempo.co/data/2019/04/04/id_831576/831576_720.jpg>
Rancangan bangunan di Mars untuk astronot pertama di Planet Merah itu.
Ini karya salah satu pemenang Tantangan Habitat Mars 3D. (NASA)
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Selain dua negara adidaya Amerika Serikat dan
Rusia, pendatang baru dalam dunialuar angkasa
<https://www.tempo.co/tag/luar-angkasa>yaitu Cina, India, dan Eropa
telah membuat pencapaian mengesankan dalam beberapa tahun terakhir. Di
luar negara adidaya itu, badan antariksa yang lebih kecil juga
memberikan kontribusi signifikan untuk eksplorasi ruang angkasa.
Cina Negara Pertama yang Menanami Bulan
<https://dunia.tempo.co/read/1165534/cina-jadi-negara-pertama-menanam-tumbuhan-di-permukaan-bulan>
Menurut laman /interestingengineering/, dalam beberapa dekade mendatang,
akan lebih banyak lagi yang diperkirakan memasuki persaingan luar
angkasa. Berikut adalah detil lima badan ruang angkasa terbesar di dunia
saat ini, dari Cina hingga Rusia:
*1. Badan Antariksa Nasional Cina (CNSA)*
Badan Antariksa Nasional Cina (CNSA) bisa dibilang badan antariksa yang
memiliki progres tercepat di dunia. Bersamaan dengan keajaiban ekonomi
Cina, program luar angkasanya telah tumbuh pesat dalam dua dekade
terakhir dan telah melakukan misi yang semakin maju dan ambisius.
Roket Long March 3B milik CNSA Cina membawa satelit navigasi Beidou-3,
Maret 2018. (Xinhua)
Seperti Rusia dan Amerika Serikat, program luar angkasa Cina berakar
pada pengembangan senjata nuklir selama Perang Dingin. Ini dimulai pada
1955, sebagian sebagai tanggapan terhadap ancaman AS untuk menggunakan
senjata nuklir selama Perang Korea (1950-53).
Pada 1957, dengan peluncuran satelit Sputnik-1 milik Uni Soviet,
Presiden Cina pada saat itu Mao Zedong menyatakan bahwa Cina perlu
mengembangkan teknologi yang diperlukan untuk mengirim satelitnya
sendiri ke luar angkasa. Dengan nama kode Project 581, tujuannya adalah
meluncurkan satelit pada 1959, bertepatan dengan peringatan sepuluh
tahun revolusi.
Pada 1958, Cina membangun versi roket Soviet R-2 sendiri, sebagai bagian
dari program transfer teknologi yang ada selama 1950-an. Pada 1960, Cina
mengembangkan dan berhasil meluncurkan roket yang disebut T-7, kendaraan
peluncuran pertama yang dikembangkan secara lokal.
Program luar angkasa awak menjadi prioritas pada 1967 sebagai tanggapan
terhadap program Bulan yang dilakukan Uni Soviet dan AS. Sementara upaya
ini tidak membuahkan hasil, Cina berhasil mengembangkan kendaraan
peluncuran berat pertama - dua tahap Feng Bao-1 dan tiga tahap Chang
Zhen-1 (Long March-1). Yang terakhir berhasil meluncurkan satelit
komunikasi pertama Cina (Dong Fang Hong-I) pada 1970.
Setelah kematian Mao Zedong, kemajuan misi luar angkasa melambat dan
beberapa proyek dibatalkan. Namun, pada 1980-an, beberapa perkembangan
terjadi. Termasuk program lanjutan dari roket Long March dan penciptaan
program peluncuran komersial pada 1985 (yang memungkinkan untuk
meluncurkan satelit asing).
Pada 1986, Cina sekali lagi menetapkan beberapa tujuan jangka panjang
ambisius, seperti pengembangan pesawat ruang angkasa berawak dan sebuah
stasiun ruang angkasa. Pada 1993, program ruang angkasa Cina direformasi
dengan penciptaan Administrasi Antariksa Nasional Cina (CNSA) dan
Perusahaan Dirgantara Sains dan Industri Cina (CASIC).
CNSA sejak saat itu bertanggung jawab untuk perencanaan dan pengembangan
terkait program ruang angkasa nasional Cina. Sementara CASIC bertanggung
jawab mengembangkan teknologi yang berkaitan dengan infrastruktur.
Pada 1999, CNSA melakukan peluncuran pertama pesawat ruang angkasa
Shenzhou, versi modifikasi dari pesawat ruang angkasa Soyuz Rusia yang
dibuat untuk mendukung program luar angkasa berawak. Pada 2003, misi kru
pertama ke orbit Bumi berhasil diluncurkan. Di tahun yang sama, CNSA
meluncurkan Program Eksplorasi Lunar Cina, yang membayangkan mengirim
serangkaian misi robotik ke Bulan dalam persiapan untuk misi kru akhirnya.
Antara 1997 dan 2008, sepuluh peluncuran sukses dilakukan dengan Long
March 3B. Ini termasuk peluncuran pengorbit Bulan pertama (Chang'e 1)
pada 2007, yang menjadikan Cina negara kelima berhasil mengorbit Bulan
dan memetakan permukaannya. Diikuti Chang'e 2 pada 2010, yang memetakan
Bulan secara lebih rinci.
Pada 2013 pendaratan Chang'e 3 disusul pendaratan Chang'e 4 berhasil
mencapai sisi jauh Bulan pada 2018. Fase ketiga akan melibatkan robot
Chang'e 5 yang akan melakukan misi pengembalian sampel bulan. Fase
keempat, direncanakan akan berjalan mulai dari 2023 hingga 2027, akan
terdiri dari lebih banyak penelitian.
Berikutnya: Gabungan negara Eropa membentuk ESA
12
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul?page_num=2>3
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul?page_num=3>4
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul?page_num=4>5
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul?page_num=5>
Selanjutnya
<https://tekno.tempo.co/read/1196839/adu-misi-luar-angkasa-dari-cina-hingga-rusia-siapa-terunggul?page_num=2>
*2. Badan Antariksa Eropa (ESA)*
Pada 1975, anggota dari sepuluh negara Eropa (Belgia, Denmark, Prancis,
Jerman Barat, Italia, Belanda, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris)
bersidang untuk meresmikan pembentukan badan antariksa yang
menggabungkan program ruang angkasa dan infrastruktur negara masing-masing.
Dalam berkas konvensi, tujuan dibentuknya lembaga tersebut adalah untuk
mempromosikan kerja sama antara negara Eropa dalam penelitian dan
teknologi ruang angkasa. Serta aplikasi ruang, dengan pandangan untuk
digunakan secara ilmiah dan untuk sistem aplikasi ruang angkasa operasional.
Sementara ESA adalah pendatang baru untuk eksplorasi ruang angkasa,
sejarahnya dimulai pasca Perang Dunia II, pada saat AS dan sekutu
NATO-nya terlibat dalam kompetisi untuk supremasi di ruang angkasa.
Namun, dengan berakhirnya Perang Dingin dan pembentukan Uni Eropa, Eropa
telah meningkat menjadi kekuatan utama di ruang angkasa.
Pada 1950-an, pasca perang menyebabkan investasi baru dalam sains, tapi
jelas bahwa perjanjian kerja sama diperlukan untuk tetap kompetitif di
ruang angkasa. Pada 1958, setelah peluncuran Sputnik-1, para ilmuwan
dari Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Jerman Barat, Belanda, dan
Australia berkumpul untuk membahas pembentukan badan antariksa Eropa
Barat bersama.
Ini mengarah pada pembentukan Organisasi Pengembangan Peluncuran Eropa
(ELDO) dan Organisasi Penelitian Ruang Angkasa Eropa (ESRO)
masing-masing pada 1962 dan 1964. Organisasi ini ditugaskan meluncurkan
satelit buatan atas nama negara-negara Eropa Barat.
Antara 1968 dan 1972, ESRO meluncurkan tujuh satelit penelitian. Namun,
dana yang terbatas mempersulit penciptaan kendaraan peluncuran Eropa
(keluarga roket Europa), yang menyebabkan penggabungan ESRO dan ELDO
pada 1975 untuk membentuk ESA.
Sepuluh negara anggota menandatangani konvensi pembentukan ESA - Belgia,
Denmark, Prancis, Jerman Barat, Italia, Belanda, Spanyol, Swedia, Swiss,
dan Inggris - yang kemudian diratifikasi pada 1960. Misi ilmiah utama
pertama ESA juga diluncurkan pada 1975, pesawat ruang angkasa pemantauan
sinar gamma Cos-B.
Pada 1978, ESA berkolaborasi dengan NASA untuk menciptakan International
Ultraviolet Explorer (IUE), teleskop orbit tinggi pertama di dunia.
Sejak 1979 ESA berhasil mengembangkan kendaraan peluncuran Ariane
mutiple, yang mengarah ke Ariane 4 tahap muti (1988-2003) dan Ariane 5
tahap berat (1996-sekarang) yang memberikan kemampuan peluncuran
independen Eropa.
Pada 1986, ESA meluncurkan misi luar angkasa pertamanya (Giotto) yang
mempelajari komet Halley dan Grigg-Skjellerup. Pada 1989-1990, beberapa
misi mengikuti, termasuk misi bintang-pemetaan Hipparcos, Solar dan
Heliospheric Observatory (SOHO), pengorbit Matahari Ulysses dan Hubble
Space Telescope .
Misi selanjutnya bekerja sama dengan NASA termasuk wahana
antariksa Cassini-Huygens yang mempelajari sistem Saturnus dari 2004
hingga 2017. Kontribusi ESA adalah pendarat Huygens, yang mendarat di
permukaan Titan dan mengembalikan gambar ke Bumi pada 2005.
Pada 2003, ESA meluncurkan dua misi utama: penyelidikan SMART-1 dan
pengorbit/ pendaratan Mars Express. Pertama melakukan penerbangan Bulan,
menguji teknologi propulsi ion mutakhir, sementara yang kedua adalah
misi antarplanet pertama badan tersebut. Ini diikuti oleh penyelidikan
Venus Express pada 2005, yang mempelajari atmosfer Venus dan mencari
tanda-tanda kemungkinan kehidupan.
Pada 2016, ESA mengumumkan rencana untuk membangun Desa Bulan
Internasional. Tujuan ini dirinci lebih lanjut selama simposium Bulan
2020-2030 internasional di tahun yang sama.
Sekarang ESA beranggotakan 21 negara dan anggota asosiasi (termasuk
Kanada). Ini juga memelihara perjanjian kerja sama dengan lima negara
lainnya (Bulgaria, Latvia, Lithuania, Slovakia, Slovenia), dengan
tambahan empat sebagai penandatangan perjanjian (Kroasia, Israel, Turki,
Ukraina). ESA adalah kontributor utama untuk Stasiun Luar Angkasa
Internasional (ISS) dan secara aktif berkolaborasi dengan NASA,
Roscosmos, ISRO, CNSA, JAXA, dan badan antariksa lainnya dalam sejumlah
proyek jangka panjang.
Berikutnya: India negara pertama mengorbit Mars
*3. Organisasi Penelitian Luar Angkasa India*
Seperti Cina, program luar angkasa India telah mengalami ekspansi cepat
dalam beberapa dekade terakhir, sebagian besar akibat dari kekuatan dan
pengaruh ekonomi negara yang terus meningkat.
Dan di tahun-tahun mendatang, India berencana untuk menjadi kekuatan
keempat untuk mengirim astronot ke luar angkasa, menjelajahi benda
langit lainnya dengan pengorbit, penjelajah, dan pendarat, dan akhirnya
mengirim manusia untuk melakukan hal yang sama.
Penelitian ruang angkasa modern di India dapat ditelusuri pada 1920-an
dengan eksperimen dalam gelombang radio, penyebaran cahaya dan ionosfer
Bumi. Namun, setelah 1945, ketika India memperoleh kemerdekaannya,
penelitian ruang angkasa terkoordinasi dimulai di India.
Dipelopori oleh Vikram Sarabhai dan Homi Bhabha, yang mendirikan
Laboratorium Penelitian Fisik dan Institut Tata Penelitian Fundamental
pada 1945. Dengan berdirinya Departemen Energi Atom (1950), penelitian
dilakukan sepanjang 1950-an di medan magnet Bumi, radiasi kosmik, dan
meteorologi.
Pada 1962, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru memerintahkan pembentukan
Komite Nasional Penelitian Antariksa India (INCOSPAR), yang dipimpin
oleh Vikram Sarabhai, yang juga pendiri program ruang angkasa India.
INCOSPAR mendirikan Stasiun Peluncuran Roket Khatulistiwa Thumba di
India selatan, tempat roket India pertama (Argo B-13) diluncurkan pada 1963.
Pada 1969, INCOSPAR menjadi Organisasi Penelitian Luar Angkasa India
(ISRO) dan memulai program luar angkasa. Pada 1975, ia membangun satelit
pertama India (Aryabhata), yang diluncurkan oleh Uni Soviet. Pada 1980,
India meluncurkan satelit pertamanya (Rohini) menggunakan roket buatan
India (SLV-3).
Pada 1990-an, ISRO meluncurkan Kendaraan Peluncuran Satelit Kutub (PSLV)
untuk meluncurkan satelit ke orbit kutub dan Kendaraan Peluncuran
Satelit Geosynchronous (GSLV) untuk menempatkan satelit ke dalam orbit
geostasioner. Roket-roket ini meluncurkan banyak satelit komunikasi dan
observasi Bumi dalam beberapa dekade berikutnya.
Pada Oktober 2008, ISRO mengirim misi pertamanya ke Bulan
(Chandrayaan-1) dan misi pertamanya ke Mars. Misi Mars Orbiter (MOM)
pada November 2013. Penyelidikan ini memasuki orbit Mars pada 24
September 2014, dan menjadikan India sebagai negara pertama yang
melakukannya.
Pada Juni 2016, ISRO menetapkan rekor pribadi untuk sebagian besar
satelit (20) diluncurkan dalam satu payload tunggal. Pada Februari 2017,
mereka mencetak rekor dunia ketika mereka meluncurkan 104 satelit dalam
satu payload tunggal. Pada Juni 2017, India meluncurkan roket
terberatnya, Geosynchronous Satellite Launch Vehicle-Mark III (GSLV-Mk III).
Berikutnya: NASA dan Manusia Pertama di Bulan
*4. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA)*
Eksploitasi NASA didokumentasikan dengan baik. Dari mengirim astronot ke
orbit pada akhir 50-an dan 60-an, hingga mengirim manusia pertama ke
Bulan, dan eksplorasi Tata Surya bagian dalam dan luar. Perintisan AS ke
ruang angkasa dimulai pada 1940-an, dengan penelitian dalam bidang
peroketan dan ilmu atmosfer atas.
Upaya-upaya ini diawasi oleh Komite Penasihat Nasional untuk Penerbangan
(NACA) dan dirancang agar AS tidak kalah dengan Uni Soviet pada periode
pasca-Perang Dunia II. Antara akhir 40-an dan akhir 50-an, penelitian
mulai dilakukan, penerbangan ketinggian dengan pesawat supersonik,
seperti Bell X-1 yang diterbangkan oleh pilot uji coba Angkatan Udara
Chuck Yeager.
Eksperimen ini menjadi tanggung jawab NACA setelah X-1 mencapai
kecepatan melebihi Mach 1 dalam tes sebelumnya. Pada 27 Mei 1955,
Presiden Dwight D. Eisenhower menyetujui rencana untuk meluncurkan
satelit ilmiah buatan ke luar angkasa sebagai bagian dari Tahun
Geofisika Internasional (IGY) - 1 Juli 1957 hingga 31 Desember 1958.
Tujuannya untuk mengumpulkan data ilmiah tentang Bumi bermanfaat bagi
semua umat manusia, sesuai dengan prinsip kebebasan ruang. Soviet
kemudian mengikutinya, mengumumkan rencana untuk mengorbit satelit
sebagai bagian dari program Sputnik. Menanggapi peluncuran Sputnik-1,
Eisenhower menandatangani Undang-Undang Aeronautika dan Antariksa
Nasional pada 28 Juli 1958 - yang menyerukan penciptaan NASA dan
pembubaran NACA.
Sesuai Undang-Undang ini, NASA diarahkan menyediakan penelitian untuk
masalah penerbangan di dalam dan di luar atmosfer bumi, dan untuk tujuan
lain. Dalam beberapa bulan setelah penciptaannya, NASA mulai melakukan
beberapa program besar. Satelit pertama (Explorer 1) telah diluncurkan
ke luar angkasa dan mendokumentasikan keberadaan zona radiasi yang
mengelilingi Bum.
NASA juga terus bereksperimen dengan pesawat roket, dengan puncaknya
pada pesawat hipersonik X-15. Antara 1959 dan 1968, pesawat ini mencetak
rekor kecepatan dan ketinggian, terbang ke ujung luar angkasa, sesuai
ketinggian 100 km (62 mil) di atas permukaan laut.
Selain meluncurkan satelit, NASA juga mulai melakukan beberapa program
untuk mengirim astronot ke luar angkasa. Yang pertama, Project Mercury
(1958-1963), difokuskan pada penggunaan roket dan kapsul ruang angkasa
yang baru dibuat serta akan mengirim satu astronot ke orbit.
Tujuh astronot pertama, dijuluki Merkurius Seven, dipilih dari program
uji coba Angkatan Darat, Udara dan Laut. Dimulai dengan Alan Shepard dan
misi Freedom 7, enam penerbangan kru dibuat ke ketinggian suborbital dan
orbital antara 1961 dan 1963, yang berpuncak pada penerbangan 22-orbit
astronot Gordon Cooper (Faith 7).
NASA mulai mengembangkan misi robot untuk mensurvei benda langit di luar
Bumi. Ini termasuk program Moon Ranger, Surveyor dan Lunar Orbiter, yang
mengumpulkan data di permukaan Bulan. Studi-studi ini menghasilkan
informasi berharga yang memungkinkan NASA untuk memilih situs pendaratan
untuk misi bulan. Ini dilakukan sebagai bagian dari Program Apollo, yang
dimulai pada 1960 dan berlanjut sampai misi Apollo terakhir (Apollo 17)
dikirim ke Bulan pada 1972.
Misi selanjutnya (Apollo 7) diluncurkan pada 11 Oktober 1968, dan akan
menjadi misi awak pertama dari program luar angkasa Apollo.
Misi kru kedua, Apollo 8, pertama mengirim astronot keliling Bulan pada
Desember 1968. Pada dua misi berikutnya, manuver docking yang diperlukan
untuk pendaratan di Bulan dipraktikkan. Dan akhirnya, Pendaratan di
Bulan dibuat dengan misi Apollo 11 pada 20 Juli 1969, dan astronot Neil
Armstrong dan Buzz Aldrin menjadi orang pertama yang berjalan di Bulan.
Ini adalah pencapaian puncak dari program luar angkasa AS, yang
membentuk kepemimpinan AS di ruang angkasa, dan memberi sinyal bahwa AS
telah efektif memenangkan Space Race. Lima Apollo berikutnya misi juga
mendaratkan astronot di Bulan, yang terakhir terjadi pada Desember 1972,
sebelum program berakhir.
Di era pasca-Apollo (1973 dan setelahnya), prioritas NASA bergeser ke
arah pengembangan teknologi untuk kehadiran manusia jangka panjang di
ruang angkasa dan mengurangi biaya peluncuran individual. Dalam kasus
pertama, upaya ini mengarah pada penciptaan lokakarya dan observatorium
orbital pertama AS, Skylab .
Secara total, lima angkutan ulang orbital sepenuhnya dibangun antara
1976 dan 1991, yang meliputi pesawat ulang-alik Columbia , Challenger,
Discovery, Atlantis dan Endeavour . Selama masa tiga dasawarsa
(1981-2011), angkutan ini terbang dengan misi yang tak terhitung
jumlahnya, mengantarkan muatan ke orbit dan membantu pembangunan ISS.
Dalam hal teleskop ruang angkasa dan observatorium, NASA memecahkan
landasan baru dalam beberapa dekade terakhir dengan penyebaran Hubble
(1990), Chandra X-ray Observatory (1999), Kepler, Wide-field Infrared
Survey Explorer (WISE), Spitzer ( 2009), dan Satelit Transit Exoplanet
Survey (TESS) pada 2018.
Berikutnya: Roscomos Pesaing Utama NASA
*5. Program Luar Angkasa Soviet / Roscomos:*
Dari periode segera setelah Perang Dunia Kedua hingga 1991, Program Luar
Angkasa Soviet adalah saingan utama NASA di ruang angkasa. Setelah
mengambil kepemimpinan awal dalam Space Race dan mencapai banyak hal
pertama, Rusia akhirnya menyerahkan kepemimpinan kepada NASA karena
perubahan lingkungan anggaran dan masalah politik.
Program luar angkasa Rusia dimulai Perang Dunia II, saat pemerintah
Soviet dan AS mengandalkan ilmuwan roket Jerman dan teknologi yang
dikembangkan selama perang untuk sampai ke luar angkasa lebih dulu.
Namun, akar dari program luar angkasa Soviet lebih dalam, meluas ke
periode Soviet sebelum perang dan bahkan akhir Kekaisaran Rusia.
Selama abad ke-19, ilmuwan Rusia Konstantin Tsiolkovsky (1857-1933),
sering disebut sebagai bapak peroketan Rusia, menulis beberapa makalah
perintis tentang teori eksplorasi ruang angkasa. Makalahnya yang paling
penting, berjudul Eksplorasi Luar Angkasa oleh Sarana Alat Reaksi yang
diterbitkan pada 1903.
Dalam tulisan itu, ia menghitung kecepatan horizontal minimum untuk
mempertahankan orbit (alias persamaan Tsiolkovsky atau persamaan roket)
tapi juga mengenalkan desain dasar semua roket modern. Pada 1929, ia
mengenalkan konsep roket bertingkat sebagai alat penjelajahan di luar
Bumi, yang ia impikan suatu hari nanti akan mencakup penjelajahan Mars.
Tokoh besar lainnya adalah perancang pesawat Rusia Sergei Korolev
(1907-1966), terinspirasi oleh Tsiolkovsky dan juga memimpikan sebuah
misi awak ke Mars. Pada 1931, Korolev dan insinyur Jerman-Rusia
Freidrich Zander membantu menemukan Kelompok untuk Studi Gerakan Reaktif
(GIRD), yang mulai melakukan penelitian ke dalam aplikasi peroketan
praktis dan melakukan peluncuran roket berbahan bakar cair.
Dengan bantuan ilmuwan roket Jerman Helmut Grottrup, Korolev dan OKB-1
mulai membangun versi roket V-2, yang menghasilkan R-1 pada 1951 dan R-7
Semyorka pada 1957. Pada tahun yang sama, Soviet mencapai dua tonggak
dengan peluncuran satelit buatan pertama (Sputnik-1) dan hewan pertama
(Laika si anjing) ke luar angkasa (Sputnik 2).
Keberhasilan Sputnik membuat pemerintah Soviet menuntut agar rencana
misi awak dipercepat. Ini menghasilkan program Vostok , yang berhasil
mengirim lelaki pertama (Yuri Gagarin) ke luar angkasa pada 12 April
1961 (Vostok-1) dan wanita pertama (Valentina Tereshkova) pada 16 Juni 1963.
Program luar angkasa Soviet juga berperan dalam eksplorasi benda-benda
planet lain menggunakan pesawat ruang angkasa robot. Antara 1961 dan
1999, Soviet dan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (setelah 1978) mengirim
banyak penyelidikan ke Venus sebagai bagian dari program Venera dan Vega.
Antara 1960 dan 1969, program luar angkasa Soviet juga mengirim robot
untuk menjelajahi Mars. Yang paling menonjol adalah pengorbit dan
pendarat Mars 3, yang merupakan misi pertama untuk mencapai pendaratan
lunak di Mars pada 1971.
Yang paling terkenal adalah Luna 3, 9 dan 16, misi pertama untuk
memotret sisi jauh Bulan, melakukan pendaratan lembut di Bulan, dan
melakukan misi pengembalian sampel robot pertama dari Bulan. Untuk awal
1970-an dan seterusnya, program luar angkasa Soviet fokus dalam upaya
pengembangan keahlian penerbangan luar angkasa jangka panjang dan dalam
penyebaran stasiun ruang angkasa.
Stasiun ruang angkasa pertama (Salyut 1) dikerahkan pada 1971, yang
menyebabkan pertemuan pertama dan docking antara pesawat ruang angkasa
dan stasiun ruang angkasa kemudian pada tahun yang sama (Soyuz 10). Pada
1986, Soviet memimpin dalam penciptaan stasiun ruang angkasa dengan
penyebaran Mir.
Antara 1987 dan 1996, semua modul tambahan yang akan masuk ke stasiun
diluncurkan dan terintegrasi. Lebih dari 15 tahun berikutnya sebelum
stasiun itu dideorbitasi (pada 23 Maret 2001 ), Mir akan dikunjungi oleh
total 28 awak berdurasi lama, beberapa di antaranya berasal dari
negara-negara Blok Timur lainnya, Badan Antariksa Eropa (ESA), dan NASA.
Dengan jatuhnya Uni Soviet pada 1991, program luar angkasa Soviet resmi
dibubarkan dan direformasi sebagai Roscosmos. Selama 1990-an, krisis
keuangan Rusia membuat organisasi beralih ke usaha swasta untuk
menjalankan program yang mencakup wisata ruang angkasa dan peluncuran
satelit komersial.
Sejak 2005 dan seterusnya, ketika ekonomi Rusia mulai mengalami
pertumbuhan yang cukup besar, Roscosmos melihat peningkatan pendanaan
untuk programnya. Lingkungan anggaran baru memungkinkan Roscosmos
akhirnya menjadikan roket Angara setelah 22 tahun pembangunan.
Peluncuran tes pertama berlangsung pada Juli dan Desember 2014, dengan
pertama diluncurkan ke suborbital dan mencapai orbit geosinkron.
Mulai 1993, Roscosmos, NASA, ESA, JAXA, dan Canadian Space Agency (CSA)
mulai berkolaborasi untuk menciptakan Stasiun Antariksa Internasional
(ISS). Proyek ini menyatukan rencana Rusia untuk stasiun Mir-2 dengan
proyek Space Station Freedom NASA. Antara 1998 dan 2011, beberapa modul
akan dirakit di orbit, akhirnya mengarah ke arsitektur keseluruhannya.
Dengan pensiunnya Space Shuttle pada 2011, Roscosmos menjadi
satu-satunya sarana yang digunakan NASA untuk mengirim astronot ke ISS.
Meskipun terjadi penurunan dalam hubungan AS-Rusia setelah aneksasi
Krimea oleh Rusia pada 2014, kerja sama antara NASA dan Roscosmos terus
berlanjut. Pada 2013, sektor ruang angkasa Rusia dinasionalisasi kembali
karena masalah keandalan. Namun, dibatalkan pada 2015 oleh keputusan
presiden dan Roscosmos beralih dari badan antariksa federal menjadi
perusahaan negara.
Simak kabar terbaru tentang negara dengan misi luar angkasa
<https://dunia.tempo.co/read/1165534/cina-jadi-negara-pertama-menanam-tumbuhan-di-permukaan-bulan>
hanya di kanal Tekno Tempo.co
INTERESTINGENGINEERING | SPACE | THEVERGE