http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1667-kemenangan-optimisme
/*Kemenangan Optimisme*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Kamis, 18 Apr 2019, 05:00 WIB Editorial
MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1667-kemenangan-optimisme>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1667-kemenangan-optimisme>
KONSEP politik menggembirakan yang terus dikumandangkan dalam
penyelenggaraan Pemilu 2019 akhirnya menampakkan hasil saat pemungutan
suara, kemarin. Rakyat antusias mendatangi tempat pemungutan suara
(TPS). Layaknya berpesta, mereka datang dengan gembira, bersemangat,
tanpa paksaan, dan tanpa iming-iming.
Fakta terkait dengan kegembiraan publik tersebut tentu harus kita sambut
dengan antusiasme yang sama. Sebaris dengan itu, kita pun mesti
memberikan penghargaan sebesar-besarnya terhadap upaya seluruh kalangan
yang ikut serta menjaga jalannya pemungutan suara dengan lancar, aman,
dan damai.
Perihal hasil, betul seperti disampaikan calon presiden nomor urut 01
Joko Widodo dalam pidatonya seusai pemungutan suara, kemarin, bahwa
semua pihak hendaknya menunggu penghitungan resmi dari Komisi Pemilihan
Umum (KPU). Menurut agenda, KPU akan mengumumkan penetapan penghitungan
suara Pemilu 2019, baik pilpres maupun pileg, pada 22 Mei 2019 mendatang.
Namun, dari hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei yang sudah
dirilis 2 jam setelah proses pemungutan suara ditutup, setidaknya saat
ini kita sudah mendapat gambaran siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Hitung cepat beberapa lembaga survei memperlihatkan pasangan
Jokowi-Ma'ruf Amin unggul atas pesaing mereka, pasangan Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno, dengan rata-rata selisih signifikan, sekitar 10%.
Hasil hitung cepat memang bukan jaminan. Akan tetapi, kita dan sejarah
pun mencatat bahwa hasil hitung cepat pada hampir seluruh
penyelenggaraan pemilu di Indonesia lazimnya tidak berbeda jauh dengan hasil
penghitungan manual yang dilakukan penyelenggara pemilu. Selama
lembaganya kredibel dan tepercaya, hasil quick count tersebut telah
mencerminkan hasil real count secara keseluruhan.
Lantas apa makna kemenangan Jokowi-Amin atas Prabowo-Sandiaga kali ini?
Dengan tegas harus kita katakan bahwa ini adalah simbol kemenangan
rakyat atas segala macam fitnah, informasi bohong, dan tipu daya yang
dalam beberapa bulan terakhir terus mendominasi ruang-ruang publik di
Republik ini.
Itu patut kita syukuri karena bersama dengan lenyapnya fitnah-fitnah
tersebut, datang pula harapan akan terjadinya perubahan ke arah yang
lebih baik di negeri ini.
Lebih dalam lagi kemenangan ini ialah kemenangan optimisme di tengah
narasi-narasi pesimistis yang terus ditebar dan secara tidak langsung
telah membuat wajah bersinar bangsa ini menjadi wajah yang memburam.
Rakyat terbukti ingin Indonesia tetap eksis seperti sekarang, bahkan
maju lebih cepat lagi, bukan malah punah seperti yang dikhawatirkan kaum
pesimis.
Meski demikian, kita mengimbau semua pihak, terutama kedua kubu peserta
kontestasi pilpres, hendaknya tetap saling menjaga kearifan.
Pihak Jokowi-Amin dan seluruh unsur pendukung serta pemilih mereka
semestinya tidak bersikap jemawa. Bagaimanapun hasil yang ada sekarang
masih penghitungan versi hitung cepat. Sebaliknya, Prabowo-Sandiaga
serta seluruh pendukung dan pemilih pasangan itu dapat bersikap legawa
menerima apa pun hasilnya nanti.
Klaim sepihak yang menyatakan diri sebagai pemenang tidak baik untuk
pendidikan politik. Kalau tidak percaya hasil quick count, akan jauh
lebih lebih baik menunggu hasil real count KPU ketimbang merilis klaim
penghitungan yang memenangkan pihak mereka, sekaligus menebar
tuduhan-tuduhan miring terhadap lembaga-lembaga survei yang tak
memenangkan mereka.
Kedewasaan berdemokrasi bangsa ini akan dinilai dari partisipasi
masyarakat dalam setiap perayaan demokrasi, juga dari sikap dan tabiat
tokoh serta elite politik. Dua hal itu mestinya berkaitan dan saling
melengkapi. Jangan sampai justru saling bertolak belakang, partisipasi
bagus dari masyarakat dirusak ambisi pribadi para elite.
Kita mesti ingat, bangsa ini masih harus menyongsong mimpi-mimpi besar
di masa depan. Karena itu, buang jauh-jauh ambisi pribadi. Sudah saatnya
bangsa ini menyatukan lagi hati, tekad, dan mimpi yang sempat
tercerai-berai karena pemilu. Sesungguhnya prinsip demokrasi ialah
menyatukan, bukan mencerai-beraikan.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1667-kemenangan-optimisme>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1667-kemenangan-optimisme>