Emangnya ente setuju RI lebih baik dgn parpol sedikit?

Lucu kalau ente setuju! Kenapa lucu?

Karena sbg golput ente harusnya tidak setuju!

 

Ngomong2 ente tahu ndak sejarah golput di RI itu gimana?

Orba menang setelah 1965 lalu pemilu PERTAMA nya Orba itu 1971 parpol peserta 
pemilu dikecilkan menjadi hanya 10 parpol termasuk golkar. Pemilu 1955 ente 
tahu ndak berapa banyaknya parpol yg ikut serta? Banyak sekali loh kalau gak 
salah lebih dari 100an.

 

Motornya adalah arief Budiman/soe hok djin dgn marsilam simandjuntak asmara 
nababan dll mendendangkan golput yg awalnya adalah “menjadi penonton yang baik” 
lalu disahkan menjadi “golput” yg pendukung mayoritasnya adalah angkatan 66.

 

Jadi sudah tahu belum ente bahwa golput itu asal muasalnya karena memprotes 
pengerucutan parpol peserta pemilu krn dianggap tidak mencerminkan jaminan 
perbedaan pendapat?

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Thursday, April 18, 2019 11:56 AM
To: GELORA45 <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Pemilu 2019, Hitung Cepat Sebut 9 Partai ini Lolos Parlemen

 

  

Siapa pun presidennya nanti harus berani memimpin kelanjutan pembenahan sistem 
politik Indonesia termasuk melanjutkan program penyederhanaan partai politik. 
Dengan hasil pemilu seperti ini bisa-bisa penyederhanaan parpol tetap mandek 
sampai tahun 2024. 

 

Kebanyakan orang menilai Indonesia cukup punya 3 partai politik saja. 

 

Ada pendapat lain?

 

- 

Pemilu 2019, Hitung Cepat Sebut 9 Partai ini Lolos Parlemen

 

Reporter: 

Maya Ayu Puspitasari

Editor: 

Rina Widiastuti

 

Kamis, 18 April 2019 06:37 WIB

 

TEMPO.CO, Jakarta - Partai-partai yang memiliki kursi di parlemen berpeluang 
kembali tetap bertahan di Senayan. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga atas 
pemungutan suara Pemilu 2019 yang berlangsung kemarin menyebutkan sembilan 
partai lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

 

Hasil hitung cepat lembaga Charta Politika menyatakan Partai Demokrasi 
Indonesia Perjuangan kembali mendulang suara paling besar, yakni 19,88 persen 
dari 86,5 persen data hitung cepat yang masuk. Di urutan kedua, ada Partai 
Gerindra dengan jumlah suara 12,67 persen. Partai Golkar berada di urutan 
ketiga dengan perolehan suara 11,05 persen. Urutan berikutnya adalah Partai 
Kebangkitan Bangsa dengan angka 9,63 persen dan diikuti Partai Keadilan 
Sejahtera dengan angka 9,01 persen.

 

Partai lain yang lolos syarat minimum kursi parlemen, yakni Partai NasDem, 
Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Demokrat. 
Sedangkan Partai Garuda, Partai Persatuan Indonesia, Partai Solidaritas 
Indonesia, Partai Hanura, Partai Berkarya, Partai Bulan Bintang, serta Partai 
Keadilan dan Persatuan Indonesia, tak lolos karena jumlah suara yang didapat 
kurang dari 4 persen. Hasil yang nyaris sama ditunjukkan oleh lembaga survei 
Indo Baromater dan Indikator Politik Indonesia.

 

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Aria Bima, mengatakan kunci kesuksesan 
partainya dalam pemilihan legislator adalah kemerataan kader. Ia menyebutkan 
kepengurusan PDIP paling lengkap di seluruh Indonesia dibanding partai lain.

 

"Kader yang terdistribusi merata dan berkualitas adalah kelebihan PDIP," 
katanya di Jakarta, Rabu, 17 April 2019.

 

Selain itu, PDIP mengklaim mendapatkan efek ekor jas dari pencalonan Joko 
Widodo atau Jokowi sebagai presiden. PDIP, kata Aria, memanfaatkan seluruh 
kadernya yang menjadi kepala daerah, anggota Dewan, hingga pengurus di daerah 
untuk menjelaskan kepada pemilih bahwa Jokowi adalah kader partai berlambang 
banteng moncong putih itu.

 

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB, Lukman Edy, kemenangan partainya dalam 
pemilihan legislator kali ini disebabkan oleh solidnya struktur pengurus hingga 
ke bawah. Selain itu, dalam sepuluh tahun terakhir, PKB tak pernah menuai 
konflik. "PKB juga sangat menikmati dan terlibat aktif di pilpres ini, sehingga 
efek ekor jasnya memberi keuntungan bagi PKB," ujar dia.

 

Ketua Umum PSI, Grace Natalie, mengakui kekalahannya. Meski begitu, ia 
mengatakan dua persen suara yang diperoleh PSI patut diperhitungkan untuk 
kembali berlaga pada pemilu lima tahun mendatang. Ia berjanji tetap akan 
memperjuangkan suara para pendukungnya melalui kerja sama dengan komunitas 
masyarakat sipil dan media. "PSI akan kembali menyapa rakyat. Bukan lima tahun 
lagi, tapi besok," tutur dia.

 

Adapun Sekretaris Jenderal Perindo, Ahmad Rofiq, mengatakan masih optimistis 
partainya bisa menembus 4 persen suara. "Sekarang kan masih berlangsung hitung 
cepat. Kami menunggu penghitungan manual dari KPU," katanya.

 

Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, tak kaget dengan hasil hitung cepat. 
Beberapa survei yang dilakukan lembaganya memprediksi bahwa partai-partai 
pemilik kursi parlemen bakal kembali menguasai parlemen. Alasannya, 
partai-partai lama sudah memiliki infrastruktur yang solid sehingga cukup kuat 
memperoleh suara di atas ambang batas. 

 

“Kecuali Hanura. Dia belum solid. Begitu terjadi konflik internal, 
kecenderungan partai agak sulit membangun konsolidasi. Hanura belum punya 
pemilih loyal yang kuat,” ucap dia.

 

Menurut Muslimin, tak mudah bagi partai baru untuk bertarung melawan partai 
lama yang sudah stabil dan memiliki basis pendukung. “Partai tidak hanya bisa 
mengedepankan ketua umum, tapi bagaimana mesin politik itu dibawa. Selain itu, 
calegnya harus bisa berkontribusi di partai,” katanya.

 

MAYA AYU PUSPITASARI | ARKHELAUS WISNU

 

 



Kirim email ke