Untuk apa ya mencoblos partai yang tersingkir? Toh partai tersingkir itu tidak 
ada lagi di surat suara.

Jadi begini, penyederhanaan partai bisa dilanjutkan seperti waktu menyeleksi 48 
partai peserta pemilu 1999 menjadi 24 partai pada pemilu 2004 melalui electoral 
threshold. Kalau niat menyederhanakan dengan pola seperti ini cukup kuat 
(bertahap mengurangi separuh jumlah peserta) dan berjalan lancar, mestinya 
pemilu 2019 ini sudah tercapai jumlah minimal, 3 partai.
Karena itu perlu ada presiden yang berani memimpin kelanjutan program 
pembenahan sistem politik nasional yang sudah dimulai pada tahun 2000. Ruwetnya 
pemilu serentak 2019 sebaiknya jadi pendorong untuk melanjutkan lagi 
penyederhanaan partai.
--- jonathangoeij@... wrote
Bagaimana nasib suara2 yg nyoblos partai tersingkir itu? Dianggap tidak ada?
--- ajegilelu@.... wrote :
Siapa pun presidennya nanti harus berani memimpin kelanjutan pembenahan sistem 
politik Indonesia termasuk melanjutkan program penyederhanaan partai politik. 
Dengan hasil pemilu seperti ini bisa-bisa penyederhanaan parpol tetap mandek 
sampai tahun 2024. 
Kebanyakan orang menilai Indonesia cukup punya 3 partai politik saja.
Ada pendapat lain?
- 
Pemilu 2019, Hitung Cepat Sebut 9 Partai ini Lolos Parlemen
Reporter: Maya Ayu PuspitasariEditor: Rina Widiastuti
Kamis, 18 April 2019 06:37 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Partai-partai yang memiliki kursi di parlemen berpeluang 
kembali tetap bertahan di Senayan. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga atas 
pemungutan suara Pemilu 2019 yang berlangsung kemarin menyebutkan sembilan 
partai lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
Hasil hitung cepat lembaga Charta Politika menyatakan Partai Demokrasi 
Indonesia Perjuangan kembali mendulang suara paling besar, yakni 19,88 persen 
dari 86,5 persen data hitung cepat yang masuk. Di urutan kedua, ada Partai 
Gerindra dengan jumlah suara 12,67 persen. Partai Golkar berada di urutan 
ketiga dengan perolehan suara 11,05 persen. Urutan berikutnya adalah Partai 
Kebangkitan Bangsa dengan angka 9,63 persen dan diikuti Partai Keadilan 
Sejahtera dengan angka 9,01 persen.
Partai lain yang lolos syarat minimum kursi parlemen, yakni Partai NasDem, 
Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Demokrat.. 
Sedangkan Partai Garuda, Partai Persatuan Indonesia, Partai Solidaritas 
Indonesia, Partai Hanura, Partai Berkarya, Partai Bulan Bintang, serta Partai 
Keadilan dan Persatuan Indonesia, tak lolos karena jumlah suara yang didapat 
kurang dari 4 persen. Hasil yang nyaris sama ditunjukkan oleh lembaga survei 
Indo Baromater dan Indikator Politik Indonesia.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Aria Bima, mengatakan kunci kesuksesan 
partainya dalam pemilihan legislator adalah kemerataan kader. Ia menyebutkan 
kepengurusan PDIP paling lengkap di seluruh Indonesia dibanding partai lain.
"Kader yang terdistribusi merata dan berkualitas adalah kelebihan PDIP," 
katanya di Jakarta, Rabu, 17 April 2019.
Selain itu, PDIP mengklaim mendapatkan efek ekor jas dari pencalonan Joko 
Widodo atau Jokowi sebagai presiden. PDIP, kata Aria, memanfaatkan seluruh 
kadernya yang menjadi kepala daerah, anggota Dewan, hingga pengurus di daerah 
untuk menjelaskan kepada pemilih bahwa Jokowi adalah kader partai berlambang 
banteng moncong putih itu.
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB, Lukman Edy, kemenangan partainya dalam 
pemilihan legislator kali ini disebabkan oleh solidnya struktur pengurus hingga 
ke bawah. Selain itu, dalam sepuluh tahun terakhir, PKB tak pernah menuai 
konflik. "PKB juga sangat menikmati dan terlibat aktif di pilpres ini, sehingga 
efek ekor jasnya memberi keuntungan bagi PKB," ujar dia.
Ketua Umum PSI, Grace Natalie, mengakui kekalahannya. Meski begitu, ia 
mengatakan dua persen suara yang diperoleh PSI patut diperhitungkan untuk 
kembali berlaga pada pemilu lima tahun mendatang. Ia berjanji tetap akan 
memperjuangkan suara para pendukungnya melalui kerja sama dengan komunitas 
masyarakat sipil dan media. "PSI akan kembali menyapa rakyat. Bukan lima tahun 
lagi, tapi besok," tutur dia.
Adapun Sekretaris Jenderal Perindo, Ahmad Rofiq, mengatakan masih optimistis 
partainya bisa menembus 4 persen suara. "Sekarang kan masih berlangsung hitung 
cepat. Kami menunggu penghitungan manual dari KPU," katanya.
Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, tak kaget dengan hasil hitung cepat. 
Beberapa survei yang dilakukan lembaganya memprediksi bahwa partai-partai 
pemilik kursi parlemen bakal kembali menguasai parlemen. Alasannya, 
partai-partai lama sudah memiliki infrastruktur yang solid sehingga cukup kuat 
memperoleh suara di atas ambang batas. 
“Kecuali Hanura. Dia belum solid. Begitu terjadi konflik internal, 
kecenderungan partai agak sulit membangun konsolidasi. Hanura belum punya 
pemilih loyal yang kuat,” ucap dia.
Menurut Muslimin, tak mudah bagi partai baru untuk bertarung melawan partai 
lama yang sudah stabil dan memiliki basis pendukung. “Partai tidak hanya bisa 
mengedepankan ketua umum, tapi bagaimana mesin politik itu dibawa. Selain itu, 
calegnya harus bisa berkontribusi di partai,” katanya.
MAYA AYU PUSPITASARI | ARKHELAUS WISNU

Kirim email ke