*Kalau dikehendaki penyederhanaan partai politik, maka dengan mudah bisa dikatakan bahwa masalahnya tidak rumit, sebab semua partai yang ada di negara neo-Mojopahit alias NKRI diharuskan menyetujui Pancasila. Jika ada partai politik yang menyatakan tidak mau berideologi Pancasila, dicap sebagai musuh masyarakat dan tentu sekali musuh utama negara yang melindungi masyarakat. Partai yang tidak berazaskan Pncasila tidak boleh berada di bumi negara neo-Mojopahit! Apakah pernyataan demikian tidak jelas untuk ditanggapi? Kalau jelas dengan pikiran bersih, maka sekali lagi penyederhaan partai politik sangat mudah sekali! Caranya, semua partai politik yang sekarang ada di NKRI dilenyapkan dari muka bumi negara neo-Mojopahit dan dari pelenyapkan ini dibentuk satu partai lama/baru bernama partai Pancasila. Dengan jalan dan cara ini maka selesai masalahnya tanpa banyak debat omong kosong yang menyiksakan otak serta melelahkan lidah dan juga hanya membuang waktu yang berharga. *
On Fri, Apr 19, 2019 at 6:26 AM ajeg [email protected] [GELORA45] < [email protected]> wrote: > > > > Untuk apa ya mencoblos partai yang tersingkir? Toh partai tersingkir itu > tidak ada lagi di surat suara. > > Jadi begini, penyederhanaan partai bisa dilanjutkan seperti waktu > menyeleksi 48 partai peserta pemilu 1999 menjadi 24 partai pada pemilu 2004 > melalui electoral threshold. Kalau niat menyederhanakan dengan pola seperti > ini cukup kuat (bertahap mengurangi separuh jumlah peserta) dan berjalan > lancar, mestinya pemilu 2019 ini sudah tercapai jumlah minimal, 3 partai. > > Karena itu perlu ada presiden yang berani memimpin kelanjutan program > pembenahan sistem politik nasional yang sudah dimulai pada tahun 2000. > Ruwetnya pemilu serentak 2019 sebaiknya jadi pendorong untuk melanjutkan > lagi penyederhanaan partai. > > --- jonathangoeij@... wrote > > Bagaimana nasib suara2 yg nyoblos partai tersingkir itu? Dianggap tidak > ada? > > --- ajegilelu@.... wrote : > > Siapa pun presidennya nanti harus berani memimpin kelanjutan pembenahan > sistem politik Indonesia termasuk melanjutkan program penyederhanaan partai > politik. Dengan hasil pemilu seperti ini bisa-bisa penyederhanaan parpol > tetap mandek sampai tahun 2024. > > Kebanyakan orang menilai Indonesia cukup punya 3 partai politik saja. > > Ada pendapat lain? > > - > > Pemilu 2019, Hitung Cepat Sebut 9 Partai ini Lolos Parlemen > > Reporter: > Maya Ayu Puspitasari > Editor: > Rina Widiastuti > > Kamis, 18 April 2019 06:37 WIB > > *TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Partai-partai yang memiliki > kursi di parlemen berpeluang kembali tetap bertahan di Senayan. Hasil > hitung cepat sejumlah lembaga atas pemungutan suara Pemilu 2019 yang > berlangsung kemarin menyebutkan sembilan partai lolos ambang batas parlemen > sebesar 4 persen. > > Hasil hitung cepat lembaga Charta Politika menyatakan Partai Demokrasi > Indonesia Perjuangan kembali mendulang suara paling besar, yakni 19,88 > persen dari 86,5 persen data hitung cepat yang masuk. Di urutan kedua, ada > Partai Gerindra dengan jumlah suara 12,67 persen. Partai Golkar berada di > urutan ketiga dengan perolehan suara 11,05 persen. Urutan berikutnya adalah > Partai Kebangkitan Bangsa dengan angka 9,63 persen dan diikuti Partai > Keadilan Sejahtera dengan angka 9,01 persen. > > Partai lain yang lolos syarat minimum kursi parlemen, yakni Partai NasDem, > Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Demokrat... > Sedangkan Partai Garuda, Partai Persatuan Indonesia, Partai Solidaritas > Indonesia, Partai Hanura, Partai Berkarya, Partai Bulan Bintang, serta > Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, tak lolos karena jumlah suara yang > didapat kurang dari 4 persen. Hasil yang nyaris sama ditunjukkan oleh > lembaga survei Indo Baromater dan Indikator Politik Indonesia. > > Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Aria Bima, mengatakan kunci kesuksesan > partainya dalam pemilihan legislator adalah kemerataan kader. Ia > menyebutkan kepengurusan PDIP paling lengkap di seluruh Indonesia dibanding > partai lain. > > "Kader yang terdistribusi merata dan berkualitas adalah kelebihan PDIP," > katanya di Jakarta, Rabu, 17 April 2019. > > Selain itu, PDIP mengklaim mendapatkan efek ekor jas dari pencalonan Joko > Widodo atau Jokowi sebagai presiden. PDIP, kata Aria, memanfaatkan seluruh > kadernya yang menjadi kepala daerah, anggota Dewan, hingga pengurus di > daerah untuk menjelaskan kepada pemilih bahwa Jokowi adalah kader partai > berlambang banteng moncong putih itu. > > Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB, Lukman Edy, kemenangan partainya > dalam pemilihan legislator kali ini disebabkan oleh solidnya struktur > pengurus hingga ke bawah. Selain itu, dalam sepuluh tahun terakhir, PKB tak > pernah menuai konflik. "PKB juga sangat menikmati dan terlibat aktif di > pilpres ini, sehingga efek ekor jasnya memberi keuntungan bagi PKB," ujar > dia. > > Ketua Umum PSI, Grace Natalie, mengakui kekalahannya. Meski begitu, ia > mengatakan dua persen suara yang diperoleh PSI patut diperhitungkan untuk > kembali berlaga pada pemilu lima tahun mendatang. Ia berjanji tetap akan > memperjuangkan suara para pendukungnya melalui kerja sama dengan komunitas > masyarakat sipil dan media. "PSI akan kembali menyapa rakyat. Bukan lima > tahun lagi, tapi besok," tutur dia. > > Adapun Sekretaris Jenderal Perindo, Ahmad Rofiq, mengatakan masih > optimistis partainya bisa menembus 4 persen suara. "Sekarang kan masih > berlangsung hitung cepat. Kami menunggu penghitungan manual dari KPU," > katanya. > > Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, tak kaget dengan hasil hitung > cepat. Beberapa survei yang dilakukan lembaganya memprediksi bahwa > partai-partai pemilik kursi parlemen bakal kembali menguasai parlemen. > Alasannya, partai-partai lama sudah memiliki infrastruktur yang solid > sehingga cukup kuat memperoleh suara di atas ambang batas. > > “Kecuali Hanura. Dia belum solid. Begitu terjadi konflik internal, > kecenderungan partai agak sulit membangun konsolidasi. Hanura belum punya > pemilih loyal yang kuat,” ucap dia. > > Menurut Muslimin, tak mudah bagi partai baru untuk bertarung melawan > partai lama yang sudah stabil dan memiliki basis pendukung. “Partai tidak > hanya bisa mengedepankan ketua umum, tapi bagaimana mesin politik itu > dibawa. Selain itu, calegnya harus bisa berkontribusi di partai,” katanya. > > *MAYA AYU PUSPITASARI | ARKHELAUS WISNU* > > > >
