*Mereka yang mati karena bekerja keras selama menghitung suara pemilih
patut djiadikan pahlawan nasional negara neo-Mojoppahit, karena mereka
berjuang sampai titik nafas penghabisan untuk mereka yang berkeinginan
menduduki kursi empuk wakil rakyat dan bergaji besar dan begitu juga untuk
mereka yang bermaksud untuk menjadi kepala negara dan wakilnya. Memakai
ucapan seperti dikatakan Megawati bahwa yang Golput tidak becus menjadi
warganegara NKRI, maka juga bisa dikatakan yang tidak ingin mereka yang
berjuang mati-matian sampai titik nafas terakhir menjadi pahlawan nasional
adalah tidak becus menjadi warga NKRI. *
*Amin!  Semoga arwah mereka yang mati gara-gara bekerja keras untuk Pemilu
tidak keliru untuk masuk Taman Firdaus yang kekal. Amin, wainaliliahi
rajium.*

https://kumparan.com/@kumparannews/kelelahan-bekerja-dua-petugas-kpps-di-bandung-meninggal-dunia-1quwjSRQrCX


19 April 2019 10:26 WIB
0
1
Kelelahan Bekerja, Dua Petugas KPPS di Bandung Meninggal Dunia

Pemungutan suara Pemilu 2019 telah selesai digelar pada tanggal 17 April.
Di balik hiruk-pikuk gelaran pesta demokrasi tersebut, terdapat para
petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bekerja tanpa
mengenal lelah.

Petugas KPPS itu bahkan diketahui ada yang meninggal dunia karena
kelelahan. Ketua KPU Kota Bandung Suharti mengatakan, ada 2 orang petugas
KPPS di Kota Kembang meninggal dunia karena kelelahan. Petugas KPPS itu,
kata dia, bekerja di dua TPS di Kecamatan Rancasari dan Sumur Bandung.

"Kota Bandung ada, tapi dia meninggal satu hari sebelum pemungutan suara
karena pembuatan TPS, kelelahan dan lain sebagainya. Memang ada dua orang
yang meninggal di Kecamatan Rancasari dan Sumur Bandung," kata Suharti di
kantornya, Jumat (19/4).

Selain meninggal dunia, Suharti mengatakan, ada pula petugasnya yang
mengalami kelelahan hingga masuk Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit.
Petugas KPPS itu yang sedang berjaga di salah satu TPS di Kecamatan
Antapani dan Bandung Kidul.
Seorang perempuan menitipkan barangnya di KPSS. Foto: Aria Pradana/kumparan

"Yang sampai harus masuk UGD juga ada yaitu di Antapani dan Bandung Kidul.
Petugas itu," jelas Suharti.

Suharti menambahkan, berdasarkan aturan dari pusat memang tidak ada jaminan
kesehatan bagi petugas KPPS yang bekerja di lapangan. Namun, secara
kemanusiaan dia mengaku turut berbelasungkawa atas meninggal dunianya
petugas KPPS.

Suharti berharap ke depannya pemerintah bisa memberikan perhatian lebih
kepada petugas KPPS. Sebab petugas KPPS adalah pejuang pemilu. Mereka rela
bekerja selama 24 jam penuh, khususnya ketika hari pencoblosan atau
pemungutan suara.

"Dan itu semestinya menjadi perhatian pemerintah. Penyelenggara dituntut
*full* 24 jam melaksanakan itu tapi tidak ada jaminan kesehatan untuk
mereka," ungkap Suharti.

Suharti menyebut, para petugas KPPS mendapat upah yang berbeda dalam
bekerja. Ketua KPPS mendapat upah Rp 550 ribu sedangkan anggota hanya Rp
500 ribu. Honor itu dibayarkan satu bulan bekerja kemudian, setelah pemilu.

Dengan honor tersebut, Suharti menilai pekerjaan yang dijalani oleh petugas
KPPS tidak sebanding dengan risiko lelah dan kematian. Dia meminta kepada
partai politik dan berbagai pihak untuk memahami hal tersebut jikalau
petugas KPPS berbuat sedikit kesalahan.

"Kita berharap partai politik dan lain sebagainya memahami hal itu. Mereka
mau menyelesaikan sampai tuntas pun merupakan suatu yang luar biasa," kata
Suharti.

Di samping itu, Suharti berharap para petugas KPPS terus diberikan
kesehatan hingga selesainya proses demokrasi ini. Sebagai tambahan, petugas
KPPS diketahui dikontrak sejak tanggal 10 April hingga 9 Mei.

"Kita berharap seluruh penyelenggara di Kota Bandung diberkan kesehatan dan
keberkahan supaya tetap bisa mengawal proses demokrasi ini," kata Suharti.

Kirim email ke