https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817
Jumat 19 April 2019, 15:30 WIB
Kolom
Membudayakan Pidato Kekalahan
Iding Rosyidin - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817#>
Iding Rosyidin
<https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817#>
54 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4517260/membudayakan-pidato-kekalahan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.261110029.1018836925.1555703817-118375951.1555703817#>
Membudayakan Pidato Kekalahan Foto: Mercy Raya
*Jakarta* - Hari yang sangat menentukan bagi seluruh rakyat dan bangsa
Indonesia untuk lima tahun ke depan, yakni hari pencoblosan 17 April
2019 telah usai. Di mana-mana rakyat berbondong-bondong pergi ke TPS
untuk memberikan suaranya. Ini artinya bahwa semua kompetisi politik
dengan segala macam hiruk pikuknya juga mesti berakhir. Seyogianya,
semua pihak kembali ke keadaan semula, seperti saat sebelum berkompetisi.
Dan kompetisi apa pun, termasuk kompetisi politik, selalu menghadirkan
pemenang sekaligus pihak yang kalah. Dalam sebuah negara demokrasi,
seperti ditegaskan ilmuwan politik Robert Dahl, kompetisi merupakan
salah satu prasyarat demokrasi. Tanpa adanya kompetisi, demokrasi akan
terasa hambar alias tidak bermakna.
Republik ini telah berkali-kali menggelar kompetisi politik dalam
pemilu. Jika dihitung sejak memasuki era Reformasi saja, telah lima kali
pemilu diselenggarakan sampai dengan 2019 ini. Sebelumnya pemilu
dilaksanakan pada 1999, 2004, 2009, dan 2014. Apakah kompetisi politik
dalam pemilu-pemilu tersebut sudah berjalan sesuai dengan nilai-nilai
demokrasi?
*Siap Kalah Siap Menang*
Persoalannya --kerapkali hal ini terjadi di negara-negara yang masih
belajar berdemokrasi-- pihak-pihak yang berkompetisi tidak mudah untuk
menerima kekalahan. Meski selalu ikut serta dalam deklarasi siap kalah
dan siap menang sebelum hari pemilihan, tetapi dalam praktiknya tidak
semulus yang diucapkan. Bahkan kadang-kadang perlu waktu yang tidak
sebentar untuk mengakui kekalahannya.
Di negara-negara yang demokrasinya telah mapan, sebut saja Amerika
Serikat, ada satu tradisi yang cukup baik terkait hal tersebut, yakni
pidato kekalahan. Pihak yang kalah tanpa sungkan-sungkan menyampaikan
pidato kekalahan di hadapan para pendukungnya seraya meminta maaf atas
kegagalannya itu seraya tetap membesarkan hati mereka agar tetap
semangat. Dan yang terpenting, memberikan dukungan kepada pihak yang menang.
Bahkan baru selesai penghitungan saja, misalnya dengan hitung cepat
(/quick count/), pihak yang kalah segera mengangkat telepon untuk
mengucapkan selamat kepada rivalnya atau pihak pemenang. Jika ada
persoalan yang layak digugat, hal itu diserahkannya kepada pihak
pengadilan, tanpa mengganggu ucapan selamat tadi. Artinya, budaya
demokrasi yang baik --mengucapkan selamat kepada yang menang-- tidak
menghalanginya untuk mengajukan gugatan hukum, karena itulah mekanismenya.
Tradisi seperti inilah, yakni pidato kekalahan, yang tampaknya perlu
dibudayakan di Indonesia oleh pihak-pihak yang berkompetisi. Ada
beberapa keuntungan jika tradisi tersebut dibiasakan. Pertama, bisa
mendinginkan suasana. Seperti diketahui bahwa jelang hari pencoblosan
kompetisi antara dua pasangan capres-cawapres luar biasa panas.
Para pendukung dari kedua pasangan bahkan jauh sebelum waktu kampanye
ditentukan sudah banyak terlibat dalam aksi saling serang, saling ejek,
dan sebagainya. Penyebaran berita-berita hoaks, kampanye hitam, dan
ujaran kebencian, terutama di media-media sosial seolah tak terbendung.
Tidak jarang pula, aksi saling serang di dunia maya tersebut terbawa
pula ke dunia darat. Maka, pertentangan dan pertikaian antar
kelompok-kelompok sosial di masyarakat terkadang muncul akibat beda
pilihan politik. Tidak sedikit pertemanan dan persahabatan menjadi
renggang hanya karena aksi dukung mendukung semacam itu.
Oleh karena itu, kalau pihak yang kalah kemudian menyampaikan pidato
kekalahan yang sekaligus mengakui kekalahannya, massa pendukungnya pun
tidak akan berbuat di luar batas kewajaran. Massa seringkali melihat
pada apa yang diperintahkan pemimpinnya. Jika sang pemimpin legowo atas
kekalahannya, pastilah massanya juga demikian.
Kedua, secara personal pidato kekalahan juga akan menunjukkan kebesaran
hati dari pihak yang kalah. Publik mungkin akan memberikan apresiasi
yang luar biasa jika pihak yang kalah bersedia mengakui kekalahannya
secara /gentle/. Sebaliknya, jika yang bersangkutan tidak mau mengakui
kekalahan, justru antipati yang akan muncul dari publik. Hal ini malah
memberikan kerugian bagi dirinya di masa yang akan datang.
Ketiga, dari sisi demokrasi, pidato kekalahan akan dianggap sebagai
pemberian pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Pihak yang kalah
besar kemungkinan bakal dipandang sebagai sosok negarawan yang lebih
mengutamakan kepentingan bersama ketimbang kepentingan diri dan
kelompoknya. Ia tidak akan diposisikan sebagai pihak yang memiliki nafsu
kekuasaan berlebih dan sejenisnya.
Dengan demikian, siapa pun pihak yang kalah akan mendapatkan kesempatan
untuk menjadi tokoh atau pioner dalam konteks penegakan nilai demokrasi
di negeri ini jika bersedia menerima kekalahan dengan menyampaikan
pidato. Sebuah tradisi yang baik pastilah akan dikenang baik oleh
generasi-generasi yang akan datang.
*Iding Rosyidin* /Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Koordinator Kurikulum Asosiasi Program Studi Ilmu
Politik Indonesia (APSIPOL)/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
pemilu 2019 <https://www.detik.com/tag/pemilu-2019/?tag_from=tag_detail>