Untuk menambah pengetahuan sejarah kita sendiri tentang bagaimana pengenalan Ibu Kartini terhadap masyarakat dan sejarah kehidupannya waktu itu maupun pandangannya ttg hari depan yang dicita-citakannya, saya turunkan, juga per pdf, Karya Pramoedya: Panggil Aku Kartini Saja.
Salam
Lusi.-
21 April 2019
Kutipan dari karya Pramoedya Ananta Toer: Panggil Aku Kartini Saja.
Kemiskinan kemelaratan sebagai pendahuluan
(hlm.63-65)
<>Tadi siang kami sungguh terharu tersentuh oleh sekelumit derita
hidup. Seorang bocah berumur 6 tahun berjualan rumput. Si bocah itu
tidaklah lebih besar dari misanan kami; bocah itu sendiri tidak
kelihatan; seakan ada dua buah unggukan rumput menyeberangi jalan. Ayah
memanggilnya, dan dari situ terpampanglah sepotong sejarah, seperti
ratusan, kalau tidak ribuan lainnya. Si bocah itu tiada berbapak;
emaknya pergi bekerja; di rumah ditinggalkannya dua orang adiknya,
lelaki semua. Dia sendiri yang tertua. Kami tanyakan kepadanya apakah
dia sudah makan. „Belum“, mereka hanya makan nasi sekali sehari, yaitu
di sore hari kalau ibunya pulang dari bekerja; di siang hari mereka
makan kue sagu aren seharga 0,5 sen.
Dari sibocah itu aku pun alihkan pandang pada misananku, sama-sama
besarnya, aku teringat pada makan kami, tiga kali sehari, dan terasa
begitu aneh, begitu asing di dalam perasaanku!
Kami ikuti si bocah yang bersenjatakan pikulan dan arit itu dengan
pandangku sampai ia sama sekali tiada nampak. Dan apa saja yang
kemudian yang tidak bertingkah di dalam otak dan hatiku.
Malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaanku
sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan
melingkungi kami!
Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis, erang dan
rintih orang-orang di sekelilingku. Dan lebih keras daripada erang dan
rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku.: Kerja! kerja! kerja!
perjuangkan kebebasanmu! baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu
sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain! Kerja!
Kerja!
Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku….
(Surat, 8 April 1902 kepada Nyonya Abendanon.)<>
Dan dengan demikian segala pemandangan yang menyinggung perasaan
kemanusiaanya segera menggerakkan otaknya untuk berpikir. Ia ingin
mengulurkan tangannya kepada mereka yang hidup dalam derita dan
kemelaratan, dalam ketidaktahuan. Tapi apakah yang bisa diberikan oleh
seorang tanpa kebebasan kepada orang-orang yang sendiri hidup bebas?
Tapi Kartini tahu akan kekuatannya, akan kelebihannya daripada
orang-orang lain. Ia bisa berikan pada mereka, banyak, terlalu banyak.
Tidak boleh! Adat negerinya melarang. Kedudukannya yang tinggi dalam
pembagian nilai feodal, tidak mengizinkan ia bergaul dengan semua orang
dan bergerak di tengah-tengah Rakyat yang dianggap hina, tetapi yang
membutuhkannya. Tidak boleh! Adat feodal negerinya memaksanya untuk
tetap hidup terpisah dari Rakyat jelata.
Kartini hidup terpisah dari rakyat jelata. Tetapi untuk selama-lamanya
hatinya berada dengan mereka, dan jantungnya berdebar untuk mereka, dan
pikirannya diperas untuk mereka,
<>disebut bersama dengan Rakyatku; denganyalah dia akan berada buat
selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas
dengan Rakyatku.<>
(Surat, 17 Mei 1902, kepada Estlle Zeehandelaar.)
dalam kungkungan yang tradisi keras itu, memang tidak mungkin bagi
Kartini untuk mengenal lebih banyak tentang Rakyatnya ini. Ia tak
banyak mempunyai kesempatan untuk itu, tetapi bahannya dan kontaknya
yang sedikit dengan Rakyat telah cukup banyak baginya untuk menjadi
modal mencintai, menghargai dan menderita buat Rakyatnya. Ia ikut
memikirkan kesulitan dan penderitaan mereka. Sebagai orang yang sendiri
menderita, toh masih dapat memikirkan kesulitan dan penderitaan
orang-orang lain, tidak lain daripada ciri-ciri keagungan jiwa Kartini.
Kutipan-kutipan surat tersebut bukanlah satu-satunya kesaksian Kartini
terhadap kehidupan Rakyat jelata. Apa yang sangat mengesan dari kutipan
tersebut adalah pengertian dan seperasaiannya dengan orang-orang yang
melarat dan miskin, yang tak mengecualikan kanak-kanak. Sekaligus ia
dapat melihat, bahwa kemelaratan kemiskinan itu tidak lain daripada
satu mata-rantai penderitaan raksasa yang memukau seluruh Rakyat
Pribumi. Segera ia berpaling pada hatinya sendiri. Membuat
perbandingan. Apapun yang direnung-pikirkan dan simpulkannya, akhirnya
yang didapatinya cuma satu: kerja! Kerja buat Rakyatnya!
Sekalipun dirinya sendiri oleh kungkungan adat kebiasaan tidak mungkin
melaksanakan kerja buat Rakyatnya tanpa mengurangi kebesaran Ayahnya –
ayah yang sangat ia hormati dan cintai, seorang feodal dari karat
tertinggi – namun asas „kerja buat Rakyat“ itu akan tetap hidup abadi.
Bagi seorang yang lama menderita dan tetap menderita, wawasannya
tentang penderitaan tentulah luas, karena itu ia tahu, bahwa
penderitaan paling keras pastilah dideritakan oleh Rakyat. Maka
sampailah ia pada hasrat untuk „berada buat selama-lamanya“ dengan
Rakyat, bekerja untuk mereka.
Kutipan-kutipan kecil dari surat-suratnya tersebut di atas tidak lain
daripada titik tolak untuk memahami Kartini dalam menghadapi dunia
Pribumi, dunia hidupnya sendiri. Dan dunia Pribumi ini terbagi atas
berbagai macam lapisan. Tetapi ia tidak bingung oleh keberbagaian
lapisan ini. Ia terus-menerus menyadari titik dari mana ia memandang
persoalan penderitaan Rakyat.
Feodalisme pada umumnya
(hlm. 81-86)
Feodalisme yang berkuasa dalam lingkungan hidup Kartini di kabupaten
Jepara tidaklah dapat disamakan dengan yang berada di tempat-tempat
lain, yang masih merupakan tata hidup umum di kalangan atasan Pribumi.
Yang ada dalam kabupaten Jepara sudah mengalami banyak perombakan,
pembaharuan dan terutama sekali pencerahan, mengingat leluhur Kartini
adalah pelopor pertama-tama di lapangan kemajuan.
Kartini sendiri memang tidak banyak kesempatan memasuki alam feodalisme
Pribumi yang masih utuh. Tetapi segala apa yang didengarnya
dipertimbangkannya dengan bahan-bahan lainnya, dikajinya, didalaminya,
untuk kemudian menarik kesimpulan atas segala bahan itu.
Adalah sangat mengherankan bahwa ilmu antropologi budaya Indonesia yang
sekarangpun masih sangat muda itu, bagi Kartini tidak menghalanginya
untuk dapat memahami seluk-beluk feodalisme Pribumi. Ia menolak
anggapan feodal bahwa feodal adalah makhluk-makhluk dari lapisan
teratas di dalam masyarakat. Katanya:
<>Tentang anak-anak amtenar di dalam masyarakat, bahwa seorang Raden
Mas atau Raden Ajeng dan sebagainya adalah mutlak makhluk-makhluk dari
susunan atas, yang berwenang, berhak, mendapatkan penghormatan ilahiah
dari Rakyat, telah banyak tamasya-tamasya tentangnya kami lihat,
pemandangan yang menyebabkan kami menggigil karena jengkel. Pada
kesempatan-kesempatan semacam itu kami berdiam-diam saja; tiada dapat
bicara maupun tertawa, kejengkelan dan rasa kasihan meyumbat mulut
kami.<>
(Surat, 17 Agustus1902, kepada E.C. Abendanon.)
Terlalu banyak memang hubungan antara kaum feodal dengan bawahan
terutama Rakyat jelata yang dirasainya mengganggu perasaan
kemanusiaannya. Dan hubungan semacam itu tidak bakal menimbulkan
persatuan di kalangan Pribumi. Feodalisme itu sendiri telah merupakan
tata hidup yang memecah belah masyarakat dalam lapisan dan susunan
hamba-berhamba. Jangankan persamaan persamaan yang sudah ditentang oleh
feodalisme itu, bahkan pesaudaraan pun tidak ada – juga antara saudara
seibu-sebapa. Tanggung jawab sosial yang ada hanya berasal dari bawah
kepada kaum feodal, sebaliknya kaum feodal tidak bertanggung jawab
sesuatu kepada bawahannya, apa lagi Rakyat. Kebebasan berbuat kaum
feodal ini makin tinggi kefeodalannya, makin mutlak, terkecuali
terhadap satu-satunya batasan yang tidak bakal diterjangnya tanpa
mengalami kehancuran sendiri: pemerintah penjajahan Hindia Belanda.
Dalam usahanya untuk memajukan Rakyat, siapapun menghadapi pemerintah
jajahan ini sebagai penghalang, tapi dalam pada itu terutama penghalang
dari pihak Pribumi sendiri: kaum feodal.
Maka kalau Kartini terlalu sering mengemukakan kesusilaan dan
peradaban, ini tidak lain daripada suatu keharusan karena kurang atau
tiadanya kesusilaan dan peradaban pada kaum feodal. Yang ada pada
mereka lebih banyak adalah ketidaktahuan, kebiadaban dan ketiadaan
kesusilaan, daya pembeda antara yang baik dari yang buruk. Tak
bosan-bosannya ia menyerukan pendidikan, pertama-tama kepada kaum
bangsawan, bukan karena hak ilahiah kaum bangsawan itu, tetapi justru
merekalah yang paling mula harus ditertibkan dengan dasar-dasar moral
yang sama sekali baru, dan dalam tata hidup yang masih dianut
masyarakat mengalirkan kemajuan itu ke lapisan-lapisan yang lebih
bawah. Tetapi kaum feodal yang mendapatkan madu kehidupan itu tidak
semudah itu mau dengan senang hati dan rela hati mengubah
keenakan-keenakan yang dinikmatinya turun-temurun. Mereka menentang
setiap kemajuan. Dan bila kemajuan itu menyenangkan, maka kesenangan
itu haruslah untuk dirinya sendiri semata! Tentang hal ini Kartini
pernah mengutip ucapan seseorang pembesar Pribumi, bahwa:
<>…. orang Jawa, terutama kaum aristokratnya, bagi dirinya sendiri
lebih suka dihidangi nasi putih di atas meja makannya, tapi tak rela
melihat orang lain demikian juga; bagi orang lain dianggapnya nasi
merah sudah lebih dari cukup.
„Pertahankan kebodohan khalayak ramai, orang pun akan tetap berkuasa
atas mereka!“ demikian semboyan banyak, kebanyakan pejabat tinggi yang
makan hati melihat orang lain juga berusaha mendapatkan ilmu dan
pengetahuan.<>
(R.A. Kartini: Nota, tertanggal Jepara Januari 1903)
Karena itu waktu Kartini melihat kegagalan usaha seseorang dalam
inisiatifnya untuk mendirikan rumah sekolah, yang tidak lain disebabkan
karena ulah dan tingkah kaum bangsawan ini juga, tanpa segan-segan ia
angkat bicara:
<>Sayang usaha itu mengalami kekandasan, dan justru karena tantangan
orang-orang yang sebenarnya bakal mendapat keuntungan dari pekerjaan
mulia itu dan dalam pada itu pun memberikan kebijakan pada seluruh
Rakyat Jawa. Para bupati, yang dimintai nasihat tentang hal ini,
umumnya menganggap, bahwa waktunya belum tiba untuk mendirikan
sekolah-sekolah pendidikan buat putri para pembesar serta para pemuka
Pribumi.
Tapi bagaimana dalam praktek? Para bupati yang memberikan nasihat
semacam itu, menganggap bahwa waktunya telah tiba bagi putri-putri
mereka sendiri, buat menerima pendidikan yang mencerahi, dan telah
memberikannya pula. Soalnya adalah: karena pendidikan Eropa belum lagi
umum, khususnya bagi gadis-gadis Pribumi, maka setiap orang hendak
mendapatkannya buat dirinya sendiri. malah kalau bisa pendidikan
terbaik yang diberikan pada anak-anaknya sejauh itu bisa diperoleh,
tetapi pantang menyerahkan pada orang lain, pun mereka tidak
menganjurkan, karena orang lebih suka diri sendiri saja terpelajar,
tapi tidak suka melihat orang lain demikian juga.
Kalau kini sekolah-sekolah telah dibuka, setiap orang akan dapat
kirimkan anak-anaknya, dan mereka akan mendapat pengajaran sama, sedang
orang lebih suka menjadi satu-satunya penguasa atasnya.<>
(R.A. Kartini: Nota, tertanggal Jepara, Januari 1903)
Mentalitas bangsawan Pribumi ini oleh Kartini disamakannya dengan dukun
yang tidak mempunyai rasa setia kawan sedikit pun di lapangan
kejuruannya. Katanya:
<>Sudah umum bahwa kebanyakan dukun yang mengetahui rahasia sesuatu
obat terhadap penyakit-penyakit tertentu membawa serta rahasia tersebut
ke kuburan bila dia mati, kepada anaknya pun tidak sudi ia
mempercayakannya. Rasa setia kawan memang tiada terdapat pada
masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus
disemaikan, sebab tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidaklah mungkin.
Bahwa yang terbaik harus dikangkangi sendiri dan dianggap sebagai hak
pribadi kaum aristokrat, bersumber pada paham sesat, bahwa kaum
bangsawan adalah mutlak manusia lebih mulia, makhluk lapisan teratas
dari pada Rakyat, dan karenanya berhak mengangkangi segala yang
terbaik.<>
(R.A. Kartini: Nota, tertanggal Jepara, Januari 1903)
Dengan kata-kata lain Kartini ingin menyatakan, bahwa sebenarnya
kemajuan Rakyatnya dihalang-halangi oleh kaum aristokratnya sendiri,
orang-orang yang justru menganggap dirinya mulia di dalam masyarakat.
Untuk memudahkan memahami moral feodal Pribumi, kiranya tepat sekali
dikemukakan salah satu ajaran moral, yang disampaikan dari turunan
pada turunan kalangan feodal, terikat dalam puisi tradisional, dan
berbunyi demikian:
Metrum Sinom:
Wedi asih ing wong tuwa*
Setia tuhu ing Sang Aji
Ratu ingkah angreh praja
Nuhorni sakersa neki
Sumujud lahir lan batin
Iku sajatining èlmu
Dadasaring kasatrian
*a diucapkan a pada kata kosong
artinya:
Takut sayang kepada orangtua
Setia tulus kepada Sri Baginda
Raja yang memerintah negeri
Laksanakan segala kehendaknya
Bersujud lahir dan bathin
Itulah ilmu sejati
Dasar daripada kesatriaan
Setiap orang feodal di masa itu dididik dengan moral ini: moral yang
tidak didasari oleh sesuatu pun kecuali oleh ketentuan raja, raja yang
memerintah negeri – tidak peduli asing atau tidak – dan melaksanakan
segala kehendaknya tanpa bertanya baik-buruk ataupun manfaat
mubazirnya. Dan moral ini dianggap sebagai dasar kesatriaan bagi feodal
Pribumi Jawa. Sama sekali tidak pernah disebut-sebut tentang
kewajiban-kewajiban Raja terhadap Rakyat, ataupun kewajiban satria itu
terhadap Rakyat. Tidak mengherankan, bila di zaman modern ini,
feodalisme demikian benar-benar sakitan.
Contoh-contoh bagaimana sakitannya feodalisme Pribumi ini telah dicatat
juga oleh orang, yang hanya dua tahun lebih dahulu dilahirkan daripada
Kartini.
Seorang asisten wedana datang ke konferensi rutine ke kepatihan. Hanya
patih saja duduk di atas kursi. Semua, sejak dari wedana ke bawah,
duduk di lantai.
Ini terjadi pada tahun 1901. Tempat: Cilegon.
Tiba-tiba datang seorang opas, setelah menyembah, menyampaikan pesan
asisten residen, yang tertulis pada batu tulis. Baru saja patih itu
membacanya, lambat-lambat ia menggelincirkan diri dari kursinya turun
ke lantai, dan merangkak menghampiri asisten wedana itu serta mencium
kakinya, sebagai penghormatan dan juga sebagai ucapan selamat: asisten
wedana itu telah diangkat menjadi bupati. Dan bupati ini kelak yang
terkenal sebagai loyalis Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat.
(P.A.A. Djajadiningrat: Herinneringen, hlm.185-186.)
Menurut moral ukuran feodal Pribumi, patih itu termasuk seorang satria
sejati yang mematuhi perintah „raja“, sekali pun raja di sini diwakili
hanya oleh tulisan asisten residen di batu tulis. Dan raja di sini
tidak lain daripada pemerintah Hindia Belanda, dan pemerintah Hindia
Belanda tidaklain daripada penjajah dan penindas Pribumi.
Bagaimana sakitannya feodalisme Pribumi ini kelihatan juga dari
peraturan sangat aneh yang berlaku semasa hidup Kartini: hanya dari
pangkat wedana ke atas boleh mengenakan sandalatau terompah (1900).
sedang dari asisten wedana ke bawah diharuskan „berkaki
ayam“.Sebaliknya setiap feodal, dengan rakus dan angkuhnya menuntut
penghormatan pada semua orang bawahannya yang harus dinyatakan dengan
sembah. Dalam hubungan ini telah terjadi peristiwa yang tipikal feodal
Pribumi.
Ini terjadi pada permulaan abad ke-20. Tempatnya: Tegal
Oleh Pangreh praja wilayah Tegal mulai dipergunakan pesawat telepon.
Pangeran Tegal – yaitu bupatinya – memohon kepada asisten residen agar
Kabupatennya dibebaskan dari pesawat tesebut. Waktu asisten residen
bertanya, mengapa ia tidak menghendakinya, bukankah pesawat itu
menyenangkan dan memudahkan urusan, Pangeran itu menjawab: „Saya akui,
tapi, kalau sekiranya saya bicara dengan seorang asisten wedana dengan
pesawat itu atau seorang amtenar lain yang sederajat dengan itu, saya
tidak bisa lihat, apakah dia menyembah aku atau tidak.“
Sebenarnya segala hal yang terjadi di dalam dunia amtenar Pribumi,
sekalipun tidak diumumkan di harian-harian, dalam sekejap telah
tersebar beritanya ke seluruh Jawa. Juga tidak dapat disangsikan,
Kartini pun mengetahui ini. Kabupaten waktu itu di samping jadi pusat
kegiatan seni dan ilmu (tradisional) serta lembaga sosial bagi
kerabat-kerabat dekat dan jauh juga merupakan pusat bisik desus, yang
membicarakan tentang kekurangan-kekurangan rekan bupati lain-lainnya,
atau bila pejabat-pejabat Belanda datang ditambah juga dengan
kekurangan-kekurangan rekan-rekan orang kulit putih. Pendeknya semangat
bisik desus itu berkisar pada teka-teki yang pernah juga dicatat dalam
sejarah keamtenaran: „Nafsu apakah yang paling keras di dunia ini:
Kepelitan, cinta ataukah benci?“ Sedangkan sejarah keamtenaran itu
telah pula menyediakan jawabannya: „Tak ada dari ketiga-tiganya. Yang
paling keras adalah nafsu seorang amtenar yang satu untuk mengemplang
rekan amtenar yang lain dengan penggadanya yang tebal. „Pendeknya semua
tidak terlepas dari penderitaan raksasa.“
(P.A.A. Djajadiningrat: Herinneringen,
hlm.134.)
Pertemuan antara Dunia Pribumi dan Dunia Eropa
(hlm. 86-91)
Pertemuan antara Dunia Pribumi dan Dunia Eropa mendapatkan tempat yang
penting dalam kehidupan Kartini. Kadang ia melancarkn kritik dan
penolakan sekeras-kerasnya terhadap keburukan-keburukan yang terjadi di
dalam hubungan atau pertemuan ini, kadang ia mengharapkan adanya
perbaikan, dan kadang juga percaya adanya pertemuan yang baik, yang
mesra. Dfunia Eropa ini pada kesempatan yang satu diwakili orang
perseorang baik atau buruk ataupun tanpa penialaian daripadanya, pada
kesempatan yang lain diwakili oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pernah orang menyesalkan, bahwa Kartini tidak pernah menghadapi Dunia
Eropa yang diwakili oleh pemerintah Hindia Belanda dan alat-alatnya
sebagai imperialisme. Tentu bukan lagi perrsoalan lagi bagi Kartini
tentang adanya orang-orang Eropa atau tindakan-tindakan pemerintah
Hindia Belanda. Kalau sejarah pada waktu itu sudah sampai pada babak
ini ia hanya cukup menghadapi imperialisme modern Belanda dan
ekses-ekses atau sukse-suksesnya. Sesalan itu benar-benar tidak pada
tempatnya kalau orang mau memahami tingkat pendidikan serta pengajaran
pada waktu itu, bukan saja di lapangan politik terutama di lapangan
pembentukan-pembentukan kekuatan fisik sebagai landasan politik. Kaum
intelektual semasa Kartini, adalah kakuatan intelektual permulaan, yang
dalam pemikiran terutama sekali baru sampai pada taraf observasi
kemasyarakatan. Kartini sendiri, sebagaimana akan jelas kelak,
sebenarnya sudah melewati tingkat ini. Mungkin sekali ia pun sudah
sampai pada tingkat yang dikehendaki orang yang menyesalkan tersebut,
tetapi belum sampai pada perumusan-perumusan, yang memudahkan bagi
orang-orang sesudahnya untuk lebih mudah memahami. Misalnya jawaban
yang diberikannya atas pertanyaan „Apakah Ayahmu mempunyai banyak
kekuasaan“? Yang ia jawab dengan „Pengaruh besar Ayah memang punya,
tapi kekuasaan itu hanya Penguasa saja yang punya. (Surat, 12 Januari
1900, kepada Estelle Zeehandelaar.) Sudah membayangkan adanya faham,
bahwa ada kekuasaan yang berkuasa atas Ayahnya, dan kekuasaan itu tiada
dikendalikan oleh orang Pribumi seperti Ayahnya, yang sementara itu
memang bukan dari golongan Penguasa.
Maka disambungnya jawaban itu dengan kata-kata ini:
<>Orang-orang Belanda itu mentertawakan dan mengejek kebodohan kami,
tetapi kalau kami mencoba maju, kemudian mereka bersikap menantang
terhadap kami.
…………….
Aku akan ceritakan kepadamu tentang seorang Pribumi yang berbakti dan
terpelajar. Orang itu telah menempuh ujian penghabisan, dan no. 1 dari
ketiga-tiga sekolah HBS di Jawa. Pemuda itu tinggal di Semarang, di
mana ia bersekolah, dan di Batavia, tempat menempuh ujian, pintu
gedung-gedung mentereng terbuka bagi gymnasias yang zenial dengan
sopan-santun serta kerendah-hatiannya yang besar. Setiap orang
berbicara bahasa Belanda dengannya. Yaitu bahasa yang dengannya ia
dapat menyatakan pikirannya dengan gilang-gemilang. Dalam suasana
seperti itu ia pulang kembali ke rumah orang tuanya, dan tiada yang
dapat diperbuatnya lebih baik daripada mempergunaan masa tunggunya
untuk menghadap para pembesar setempat. Maka ia pun menghadap Residen;
dan pada kesempatan yang paling mula ia sudah melakukan kekeliruan.
Coba, bagaimana dia berani-berani menjawab si tuan besar itu dalam
bahasa Belanda? Keesokan harinya ia menerima surat pengangkatannya,
menjadi klerk seorang kontrolir di pegunungan. Dan di sanalah pemuda
itu tinggal untuk merenungkan „kejahatan“nya untuk melupakan segala
yang telah dipetiknya dari sekolahan-sekolahan yang telah
ditamatkannya. Beberapa tahun ia berada di sana, datanglah seorang
kontrolir baru, atau lebih tepat seorang aspiran kontrolir, dan dia ini
menyebabkan penderitaannya bertambah-tambah lagi. Kepalanya yang baru
ini adlah kawan sekolahnya dulu, seorang yang justru tidak mempunyai
keluarbiasaan dalam otaknya. Pemuda itu, yang dahulu no. 1 dalam
segala-galanya, di hadapan kawan sekolahnya yang bodoh dulu kini ia
harus jalan merangkak di lantai, harus bicara dalam bahasa Jawa tinggi,
sedang si kulit putih itu sendiri bicara bahasa Melayu babu. Dapatkah
kau bayangkan betapa penderitaan yag ditanggungkan oleh hati yang
bangga dan megah yang dihina sedemikian rupa itu?* Dapatkah kau
bayangkan betapa besar kekuatan batin yang selama itu dipergunakannya
untuk menahan hinaan dan gangguan semacam itu!
*) Bahasa Jawa bersusun sedemikian rupa sehingga merupakan
warisan berbentuk lain daripada perkastaan Hinduisme.
Penggunaan salah sebuah dari tingkat-tingkat bahasa ini
sekaligus menempatkan pembicara pada kedudukan atau kasta tertentu di
hadapan orang yang dilawannya bicara.
Akhir-akhirnya ia tak sanggup lagi menahannya; ia berangkat ke Batavia
dan minta didengarkan hanya oleh Gubernur jendral. Ia diterimanya.
Hasil audiensi ialah: ia dikirimkan ke Priangan dengan tugas membuat
studi tentang pertanian padi. Ia berjasa juga dengan tulisan-tulisannya
tentang pertanian dibidang kepalawijaan serta menterjemahkan pula dari
bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa dan Sunda. Pemerintah memberinya
hadiah beberapa ratus gulden.
Di sekolah Kontrolir di Batavia ada lowongan guru. Seorang guru bahasa
Jawa meletakkan jabatan. Kawan-kawannya (pemuda Jawa itu) telah
mengusahakan sekuat daya agar ia bisa menduduki lowonga itu, tetapi
hasilnya nihil. Benar-benar suatu pikiran gila, seorang Pribumi harus
mengajar murid-murid Eropa, yang kelak jadi amtenar negeri. Buang usul
sinting itu! Jadi tanyalah aku, siapakah yang bisa belajar bahasa Jawa
lebih baik daripa yang sudah sejak lahirnya Jawa? Pemuda itu pulanglah
ke kampung halamannya kembali; sementara itu sudah ada residen baru,
dan barulah putra bangsa coklat itu diangkat menjadi asisten wedana.
Tidak percuma rupanya ia dibuang beberapa tahun lamanya itu; di sana ia
mendapatkan kebijaksanaan hidup, di antaranya: tak ada layanan lebih
baik kepada amtenar-amtenar Eropa terkecuali merangkak-rangkak di tanah
di hadapannya, dan di dekatnya jangan sampai orang mengucapkan sepatah
kata pun bahasa Belanda.
Orang-orang lain sekarang sudah pegang pimpinan. Dan waktu lowongan
buat penterjemah bahasa Jawa terbuka, dialah yang untuk sementara
dipercayakan memegang jabatan itu. Sekarang tiada seorang
menghalanginya.
(Surat, 12 Januari 1900, kepada Estelle Zeehandelaar.)
Kutipan itu, sekalipun ditulis sangat sederhana telah memperlihatkan
pengetahuan Kartini yang positif tentang adanya kekuasaan asing dengan
pejabat-pejabatnya. Tanpa mengemukakan hukuman terhadap orang-orang
Belanda itu, ia telah berhasil melukiskan kejijikan dan kemuakannya
terhadap meereka, yang ia pertentangkan dengan sorak kemenangan atas
sukses pemuda berkulit coklat tersebut. Tapi lebih daripada tulisan
siapapun di masa itu, terutama lebih daripada loyalitas Pangeran Aria
Achmad Djajadiningrat dalam Herinneringen yang ditulisnya pada tahun
tiga puluhan, di sini Kartini denghan berani membuktikan bahwa si kulit
coklat pun – bila mendapat kesempatan – mampu menguasai peralatan Barat
(ilmu dan pengetahuan) lebih baik daripada orang Barat sendiri. Bahwa
si kulit coklat toh tetap di bawah kulit putizh, bahkan mesti
merangkak-rangkak di hadapannya adalah: soal penjajahan, imperialisme.
Jadi tidak mungkin Kartini tidak mengetahui atau melihat adanya
imperialisme ini. Bahwa ia tidak pernah menghadapi Dunia Eropa yang
diwakili oleh pemerintah Hindia Belanda dan alat-alatnya sebagai
imperialisme, tidak lain hanya disebabkan karena babak sejarah pada
waktu itu baru memberikan kemungkinan maksimal sebagaimana telah
dipergunakan oleh Kartini.
Pada waktu Kartini menulis suratnya, ia baru berumur kurang lebih 21
tahun, seorang gadis yang hanya keluaran sekolah rendah. Dan apa pula
yang diajarkan di sekolah waktu itu – sekolah yang hanya menjalankan
program pengajaran bagi anak-anak Eropa? Sejarah bangsanya sendiri pun
tiada diajarkan. Tetapi, bahwa dalam pertemuan antara Dunia Pribumi
dengan imperialisme dan Dunia Barat ini, ia berpihak pada si bangsa
coklat, adalah lebih penting daripada hanya mengenal rumus-rumus
akademik tentang imperialisme ataupun nasionalisme, dengan
penjelasan-penjelasannya yang terperinci. Ia telah sampai pada suatu
sikap, suatu pemihakan dan sikap ini bukanlah hasil suatu sovinisme
emosional, tetapi hasil daripada pengetahuan dan pengalaman sosial yang
telah terperinci sehingga di zaman modern, nilainya lebih baik daripada
pemberontakan fisik yang hanya didorong oleh sovinisme emosional atau
kebencian terhadap bangsa asing semata.
Benar sekali, bahwa bidang penggarapan Kartini di sini cuma dibatasi
sampai keamtenaran atau kepangreshprajaan semata. Tetapi pun tidak
dapat dilupakan, bahwa pada masa itu bidang kesatriaan adalah bidang
kepangrehprajaan ini, dan berabad-abad lamanya Dunia Pribumi rusak
karena lapisan satria, yang memerintah ini, telah kehilangan pusatnya,
yaitu Brahman atau konseptor, pencipta konsep-konsep yang semestinya
lapisan satria itu yang mewujudkannya. Tanpa Brahman, tanpa konseptor,
lapisan satria menjadi gelandang tanpa pegangan, tidak tahu dengan
tepat apa sesungguhnya mereka harus kerjakan, sehingga Bung Karno
mempergunakan pendirian atas tata hidup mereka sebagai „feodalisme
sakitan“. Justru dengan tulisannya tersebut, sekalipun cuma menggarap
bidang kepangrehprajaan, bidang kesatrian, tanpa disadarinya Kartini
sebenarnya telah menduduki tempat sebagai Brahman, sebagai pemikir,
sebagai konseptor. Paling sedikit ia tzelah meletakkan konsep, bahwa:
kedudukan amtenar harus lebih banyak direbutg oleh Pribumi terpelajar.
Sebelum sampai pada jawaban siapa sebenarnya pemuda kulit coklat yang
dimaksudkan Kartini, terlebih dahulu harus dijawab pertanyaan dari mana
Kartini mendapatkan konsepnya tersebut?
Konsep ini berasal dari penggarapan atas pemikiran pamannya, Pangeran
Ario Hadiningrat, bupati Demak, paman kebanggaan Kartini. Setahun
sebelum Kartini menulöis suratnya tersebut, sekelompok orang-orang
Belanda yang mendukung arus politik baru (maksudnya golongan ethisi.)
telah menerbitkan Nota Hadiningrat, yang selama seperempat abad telah
dibekukan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena dianggap membahayakan
ketertiban umum. Dalam Nota tersebut antara lain ditulis: „agar
sebagian tugas pemerintahan oleh pemerintah agung Hindia Belanada
diserahkan kepada orang-orang Pribumi terpelajar, sebagai jalan untuk
memimpin Hindia secara damai ke arah pemerintah sendiri, yang
bagaimanapun dengan kekerasan atau tidak, pemerintah sendiri ini toh
akan ditempuh oleh koloni-koloni sebrang lautan atau bagian kerajaan.
(Nota ini menjadi salah satu bagi Mr. C. Th van Deventer dalam salah
satu tulisannya yang terpenting. Een Stern uit Java dalam rangka
publikasinya utuk mengubah politik kolonial.
Dalam bukunya yang mendukung dilakukannya politik kolonial baru, yang
dinamakan politik ethik, juga Mr. Proonshooft dalam bukunya De Ethische
in de Koloniale Politiek beberapa kali menyebut an mengutip Nota
tersebut.)
Dari nota ini sebenarnya Kartini telah mengenal istilah keramat
„pemerintahan sendiri“. Adakah Kartini pernah menyebut-nyebut istilah
keramat ini? Mr. J.H. Abendanon tidaklah begitu bodohnya untuk
membiarkan istilah ini terlepas dari saringannya, apalagi mengingat
Nota tersebut pun harus dibekukan selama seperempat abad! Dan bukan
suatu kebetulan, apabila Abendanon membiarkan surat-surat Kartini
kepada Hadiningrat hancu tidak terjamah, tanpa sedikit pun keinginan
untuk mencarinya.
(Lihat Bagian V, pasal Door Duisternis tot Licht.)
Siapakah pemuda coklat yang dimaksudkan Kartini? Orang itu tidak lain
daripada R.M. Tirto Adisuryo, seorang yang energik, pendiri Sarekat
Dagang Islam pada tahun 1912, yang kemudian digabungbkan dengan Sarekat
Islam yang berkledudukan di Surabaya. Ia pula yang pertama kali
mendirikan surat kabar nasional pertama-tama Medan Priyayi (Bandung)
dengan edisi mingguannya sekali.
Pramoedya Ananta Toer - Panggil Aku Kartini Saja - Feodalisme pada umumnya - 042217.odt
Description: application/vnd.oasis.opendocument.text
