*Tidak perlu khawatir tentang kekurangan pangan, karena bisa impor dari
negeri-negeri sahabat. Sama halnya kalau kurang fulus untuk membayar impor
pangan bisa dipinjam. *


https://www.jawapos.com/ekonomi/20/04/2019/banyak-sawah-jadi-tol-dan-permukiman-ancam-ketahanan-pangan-nasional/
*Banyak Sawah Jadi Tol dan Permukiman, Ancam Ketahanan Pangan Nasional*

EKONOMI <https://www.jawapos.com/ekonomi/>

20 April 2019, 19:40:43 WI



JawaPos.com – Alih fungsi lahan sawah menjadi tol ataupun permukiman terus
terjadi di Pulau Jawa. Banyuwangi menjadi wilayah dengan penurunan lahan
sawah terbesar sepanjang 2015 hingga 2018. Direktur Indonesia Development
and Islamic Studies Yusuf Wibisono mengatakan, pembangunan tol trans-Jawa
secara tidak langsung mendorong alih fungsi ribuan hektare lahan pertanian.

“Umumnya lahan pertanian itu beralih fungsi menjadi tempat peristirahatan
atau SPBU. Jalan tol ini menarik minat investor,” ujarnya kemarin (19/4).
Pihaknya mencatat sepuluh kabupaten di Jawa kehilangan area sawah terbanyak
dalam kurun waktu tersebut. Berdasar data yang dikumpulkan dari BPS,
Banyuwangi telah kehilangan 21.730 hektare lahan pertanian. Disusul
Kabupaten Bandung 9.374 hektare dan Kabupaten Serang 7.713 hektare.

Pada periode 2015 hingga 2018, pemerintah telah meresmikan 756 km jalan
baru. Terdiri atas 668,6 km tol trans-Jawa dan 87,5 km tol trans-Sumatera.
Pembangunan tol trans-Jawa sebetulnya telah digagas pada era Presiden
Soeharto. “Namun, realisasinya tidak begitu signifikan. Pada era Presiden
Jokowi baru terjadi akselerasi,” imbuhnya. Sepanjang 2015 hingga 2018
tercatat dibangun 680,4 km jalan tol di Jawa yang diperkirakan mengambil
alih 4.457 hektare lahan pertanian.

Sedangkan 44.192 ha lahan pertanian dialihfungsikan di sekeliling gerbang
tol dipicu ekspansi perkotaan. Sedangkan pada 2019 hingga 2021, adanya
operasi jalan tol diperkirakan akan memicu konversi lahan pertanian hingga
70 ribu hektare. Setara dengan luas seluruh sawah di Kabupaten Bojonegoro.
“Perilaku investor dan pengembang proyek properti yang mencari keuntungan
dari kenaikan harga tanah membuat konversi lahan pertanian terjadi secara
masif,” terang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.
Konsekuensinya, pembangunan kawasan berjalan tidak terkendali.

Lahan pertanian produktif mengalami konversi masal untuk aktivitas non
pertanian, terutama permukiman dan industri. Meski demikian, di sejumlah
wilayah juga terdapat penambahan luas lahan sawah melalui program lahan
pertanian dan pangan berkelanjutan (LP2B). Ada tiga wilayah di Jawa yang
mengalami penambahan luas area lahan sawah terbesar. Yakni, Kabupaten
Sumenep seluas 10.375 hektare, Kabupaten Indramayu 9.293 hektare, dan
Kabupaten Pati 9.084 hektare.

Pada 2018 luas lahan pertanian di Jawa diperkirakan tersisa 4,5 juta
hektare atau sekitar 32 persen dari luas Jawa. “Ketahanan pangan nasional
yang hingga kini mengandalkan Jawa menjadi pertaruhan besar,” tutur Yusuf.
Rangkaian pegunungan vulkanis yang melintasi pulau membuat Jawa secara
alamiah menjadi sentra pangan Nusantara sejak dulu lantaran struktur
tanahnya sangat subur.

Kebijakan pembangunan tersebut harus dibayar mahal dengan turunnya produksi
pangan dan produktivitas lahan. Akibatnya, impor pangan menjadi andalan
jalan keluar bagi pemerintah. Pada 2018 Indonesia mengimpor 10,1 juta ton
gandum; 2,59 juta ton kedelai; 2,25 juta ton beras; dan 0,74 juta ton
jagung. Pihaknya mengusulkan pemerintah bisa mengalihkan pembangunan tol
trans-Jawa dengan mengoptimalkan moda angkutan kereta. Cara itu dinilai
lebih efisien daripada membangun tol yang dikhawatirkan akan mengambil
lahan pertanian cukup besar.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (vir/c10/oki)

Kirim email ke