https://kumparan.com/@kumparannews/kemelut-di-kertanegara-sebelum-deklarasi-prabowo-1qw7HiN5DxT


*Kemelut di Kertanegara sebelum Deklarasi Prabowo*

lustrasi Lipsus kumparan: Gusar Prabowo Usai Pemilu. Foto: Indra Fauzi
/kumparan

Sandiaga Salahuddin Uno bungkam. Sarannya untuk menunda deklarasi
kemenangan setelah *real count* KPU dijawab dengan nada tinggi oleh Prabowo
<https://kumparan.com/topic/prabowo> Subianto. Capres pasangannya itu
menolak dan balik mempertanyakan komitmen perjuangan Sandiaga pada Pemilu
Presiden 2019 yang mereka ikuti.

Saat itu sudah mendekati magrib, dan Sandiaga tak ingin pernyataan
kemenangan itu justru memicu ketegangan masyarakat. Ia membeber alasan,
pilpres kali ini tak perlu berlarut seperti tahun 2014. Namun saran itu
tenggelam oleh suara lantang Prabowo.

“Mereka berdua berdebat dan kalau Prabowo keras, saya kira biasa. Namanya
jenderal, dia kampanye saja gebrak-gebrak podium. Biasa saja kami
lihatnya,” ucap seorang sumber *kumparan* ketika ditemui di Jakarta
Selatan, Jumat (19/4).

Sandi yang tampak pucat karena sakit usai umrah pun diam. Prabowo lantas
menyarankannya untuk beristirahat di kamar Didit Hediprasetyo, anak
tunggalnya. Sandi pun melenggang ke lantai dua guna beristirahat.

Penggalan perdebatan itu mengisi ketegangan yang tak putus di kediaman
Prabowo, Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan, Rabu (17/4) usai
pencoblosan pemilu.

Sejak siang, sejumlah tokoh Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi seperti
Amien Rais, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama Yusuf Martak, Ketua
Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri, dan lain-lain tak melepas pandangan
dari proses hitung cepat. Mereka memantau lewat telepon genggam maupun
televisi.

Suara pasangan capres-cawapres yang mereka dukung tak seperti yang
diharapkan. Hitung cepat 10 lembaga survei mencatat Joko Widodo-Ma’ruf Amin
mengantongi suara 54-55 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga hanya 44-45
persen. Jarak suara 9 hingga 10 persen terlalu jauh untuk dikejar.

Bakda asar, hitung cepat tak juga mengabarkan kemenangan 02. Yusuf Martak,
Amien Rais, Salim Segaf, Maher Algadri, dan Rizal Ramli meriung di salah
satu sudut ruang tengah. Mereka sepakat untuk tak mempercayai hasil hitung
cepat lembaga survei, dan membuat Gerakan Bhinneka Tunggal Ika.

Gagasan *people power *tersebut disokong oleh para pendukung Prabowo yang
berlatar belakang purnawirawan dan kelompok Islam. “Jenderal-jenderal dan
para ulama, mereka siap untuk itu,” kata sahabat Prabowo, Maher Algadri,
kepada *kumparan*.

Massa pendukung Prabowo Subianto, mengibarkan bendera saat melakukan
kampanye akbar. Foto: Reuters/Willy Kurniawan

BPN juga punya perhitungan sendiri yang dikoordinir oleh Direktur Kampanye
BPN Prabowo-Sandi, Sugiono. Hasilnya, Prabowo unggul 55,4 persen dalam *exit
poll* versi mereka, sedangkan Jokowi-Ma’ruf hanya mendapat 42,8 persen.

“Kami sampaikan bahwa hasil *exit poll* pasangan Prabowo-Sandi mengungguli
pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Exit poll ini kami lakukan di 5.475 TPS
di 34 provinsi dan 492 kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” kata Sugiono.

Bekal angka Sugiono dan dukungan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika inilah yang
membuat suara Prabowo lantang. Sementara Sandiaga masih bungkam, Prabowo
keluar ke halaman rumahnya dan menyatakan kemenangan versi penghitungan
lembaga internal BPN. Dalam deklarasi, ia didampingi beberapa tokoh
Gerindra seperti Rachmawati Soekarnoputri dan Koordinator Juru Bicara BPN
Dahnil Anzar Simanjuntak.

"Hasil* exit poll* kita di 5.000 TPS menunjukkan kita menang 55,4 persen,
dan hasil *quick count* menang 52,2 persen,” ucap Prabowo disambut riuh
ratusan pendukung yang memenuhi gang depan rumahnya.

Menurut Prabowo, hitung cepat yang ditayangkan di berbagai media berniat
menggiring opini kemenangan untuk Jokowi-Amin, sekaligus membiarkan
kecurangan terjadi. Penggiringan opini itu, ujar Prabowo, sengaja dilakukan
untuk menjatuhkan mental barisan pendukungnya. Ia hanya yakin dengan angka
yang disodorkan Sugiono.

Saat itu, pemimpin partai koalisi seperti Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua
Umum PAN Zulkifli Hasan beserta Sekjen PAN Eddy Soeparno, dan Sekjen
Demokrat Hinca Panjaitan yang semula hadir di Kertanegara, tak tampak
mendampingi Prabowo. Mereka meninggalkan Kertanegara dengan alasan
konsolidasi partai dan hendak menjadi pembicara di sejumlah stasiun TV.

Direktur Kampanye BPN, Sugiono saat konferensi pers di Kertanegara,
Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Sugiono mengungkap data penghitungan internal BPN kepada beberapa petinggi
parpol koalisi. Hitung cepat yang ia lakukan menunjukkan kemenangan Prabowo
52 persen. Tetapi input penghitungan itu masih di bawah 50 persen.

Beberapa rekan koalisi menganggap data itu tak laik untuk menegaskan
kemenangan. Tapi Prabowo terlanjur menutup kuping. Ia kembali menggelar
deklarasi pada malam hari sekitar pukul 20.00 tanpa didampingi Sandiaga.

Prabowo membawa informasi baru, bahwa hasil* real count* yang dilakukan tim
internal BPN menunjukkan perolehan suaranya mencapai 62 persen. Ia meminta
relawan dan pendukungnya mengawal penghitungan suara dan melawan
kecurangan. Prabowo pun melakukan sujud syukur.

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat melakukan konferensi
pers di Rumah Kertanegara. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Sumber *kumparan* menyebutkan Prabowo belakangan lebih mendengarkan
kelompok Islam 212 dan purnawirawan dibandingkan parpol koalisi. Makanya
dalam tiap deklarasi perwakilan parpol koalisi tak pernah penuh.

Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi, Yandri Susanto, membantah ada debat dan nada
tinggi Prabowo pada Sandiaga. Menurutnya, pasangan capres-cawapres itu
hanya berdiskusi biasa. Kebetulan kondisi kesehatan Sandiaga sedang tak
baik, itu sebabnya ia tak ikut tampil ketika Prabowo mendeklarasikan
kemenangan.

“Itu cuma diskusi biasa. Kan menyatukan langkah atau persepsi itu biasa.
Dan kebetulan saat itu memang Sandi drop, dia sakit,” ujar Yandri kepada
*kumparan* di Kantor DPP PAN, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis
(18/4).

Bahkan Prabowo
<https://kumparan.com/@kumparannews/kala-prabowo-deklarasikan-kemenangan-4-kali-1qvAc1CqCVW>
sempat menghampiri Sandi di lantai atas untuk menanyakan keadaannya, sambil
membawa kucing kesayangannya. “Are you okay, Mr. Vice President?” ucap
Prabowo.

Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandi Ferry Mursyidan Baldan juga mengungkap
hal serupa, bahwa tak ada ketegangan antara Prabowo dan Sandi.

Soal angka penghitungan internal BPN, Sekjen PAN Eddy Soeparno meyakini
data ini valid. Perolehan data itu merupakan angka tertinggi yang mereka
dapatkan. Walau ada perbedaan, menurutnya, angka itu tak bakal mengubah
kemenangan Prabowo-Sandi.

Ketua GNPF Ulama, Yusuf Martak, menyatakan angka kemenangan yang diperoleh
dari penghitungan tim internal BPN cukup konsisten.

“Kalau dari hitungan *quick count* nggak tahulah kenapa berubah-ubah
semaunya sendiri. Cenderung angkanya pasangan 02 turun, tapi pasangan 01
naik. Banyak sekali temuan-temuan kecurangan di lapangan,” kata Ketua GNPF
Ulama Yusuf Martak kepada *kumparan*, Minggu (21/4).

Ketum GNPF-Ulama Yusuf Muhammad Martak saat konferensi pers di Kertanegara,
Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Yusuf mengatakan, BPN Prabowo-Sandi punya mekanisme sendiri dalam tabulasi
suara. Misalnya, mereka mendapati suara Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak
separah digambarkan dalam quick count.

Hasil hitung cepat CSIS & Cyrus menyebut Jokowi-Ma’ruf menang telak di Jawa
Tengah dengan meraup angka 77,32 persen, sedangkan Prabowo-Sandi hanya
kebagian 22,68 persen. Lembaga itu juga menyebut suara Jokowi melesat di
Jawa Timur dengan angka 65,95 persen.

Martak membantah angka-angka itu. Menurutnya, data internal mereka tak
menyebutkan angka kekalahan Prabowo di Jawa Tengah sebesar itu. Sementara
di Jawa Timur, tegas Martak, Prabowo-Sandi tidak kalah.

Sayangnya Martak tak mau merinci angka survei internal BPN Prabowo-Sandi.
Ia hanya mengatakan, “Setelah hasil kami dapat, contohnya di Jawa Timur,
indikasinya kemenangan 01, ternyata yang menang 02. Jawa Tengah juga
sebagian. Kemudian NTT, Kalimantan.”

Anies -Sandi di Rumah Kertanegara. Foto: Antara/Dedi Wijaya

Sumber lain di lingkaran Prabowo bercerita, sejak mendukung Anies
Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, lembaga survei
pimpinan Sugiono telah menjadi rujukan utama Prabowo.

Alasannya adalah etika lembaga survei. Elite partai Gerindra pernah bertemu
salah satu lembaga survei kondang yang meminta kontrak bernilai miliaran
rupiah untuk *cooking numbers* atau mengolah angka sesuai preferensi.
Itulah yang membuat Partai Gerindra gerah dan mengumpulkan tim sendiri
dengan dukungan tenaga dari lingkup Institut Teknologi Bandung.

Saat Pilgub DKI Jakarta, tim survei Sugiono menyampaikan kepada Prabowo
malam sebelum pencoblosan bahwa Anies-Sandi bakal menang. Prabowo kemudian
membawa data Sugiono ke hadapan elite koalisi pendukung Anies-Sandi bahwa
mereka akan menang dengan angka 58 persen. Temuan tim Sugiono itu sesuai
hasil akhir Pilgub DKI yang memenangkan Anies-Sandi dengan angka 57,96
persen.

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, dalam Expose Data Quick
Count Pemilu 2019 di Hotel Morrissey, Jakarta, Sabtu (20/4). Foto: Nugroho
Sejati/kumparan

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, membantah jika hitung
cepat menjadi alat politik untuk menggiring opini publik. Metode hitung
cepat ini memiliki standar dan tanggung jawab secara ilmu pengetahuan.
Keberatan terhadap hasil hitung cepat diajukan melalui sidang etik oleh
lembaga profesi seperti Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia.

Ia mengingatkan klaim hitung cepat oleh partai politik dianggap sebagai
intervensi ilmu pengetahuan. “Dan itulah mengapa *quick count* dalam
khazanah ilmu politik malah dianggap sebagai salah satu penjaga demokrasi,”
jelas Yunarto ketika ditemui di sela gelar buka data lembaga survei yang
tergabung dalam Persepsi di Hotel Morissey, Jakarta, pada Sabtu lalu
(20/4).

Lembaga survei yang melakukan hitung cepat Pemilu 2019 menggelar metode
mereka, yakni Charta Politika, Indikator, Centre for Strategic and
International Studies (CSIS), Saiful Mujani Research Center (SMRC) dan
Poltracking. Selain itu, Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, Indo
Barometer, Cyrus Network, Populi Center, dan Konsep Indonesia.

Klaim Kemenangan Prabowo Foto: Basith Subastian/kumparan

Prabowo tampak yakin akan kemenangannya. Setelah dua deklarasi pada Rabu
(17/4), ia kembali menggelar dua deklarasi kemenangan lainnya pada Kamis
dan Jumat, pekan yang sama.

Pada deklarasi Kamis (18/4), Prabowo didampingi lebih banyak tokoh dari
parpol koalisinya. Sandiaga pun akhirnya menampakkan muka bersama Wakil
Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan, Amien Rais, dan Salim Segaf Al Jufri.

Sementara pada deklarasi Jumat (19/4), Prabowo disambut ekspresi yang sama
oleh pendukungnya. Deklarasi yang bertepatan dengan acara Gema Nisfu
Sya'ban itu semula direncanakan digelar di Monas, Jumat (19/4) malam.

Namun, acara tersebut urung digelar di Monas dan dipusatkan di Kertanegara,
kediaman Prabowo. Prabowo
<https://kumparan.com/@kumparannews/prabowo-hei-lembaga-survei-kau-bisa-bohongi-penguin-di-antartika-1quvjigSpQg>
bahkan sudah dipanggil “Presiden” oleh relawan di sekitar rumahnya, Jalan
Kertanegara.

Selamat & Sukses atas kemenangan Bapak H. Prabowo Subianto dan Bapak
Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Presiden & Wakil Presiden RI

*- Tulisan pada karangan bunga atas nama “Emak-emak Bekasi”*

Kirim email ke