https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448
Rabu 24 April 2019, 15:08 WIB
Kolom
Pilpres, Nasi Padang, dan Orang Minang
Donny Syofyan - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448#>
Donny Syofyan
<https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448#>
72 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4523012/pilpres-nasi-padang-dan-orang-minang?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.18918270.770238628.1556133448-1293138019.1556133448#>
Pilpres, Nasi Padang, dan Orang Minang Foto: Istimewa
*Jakarta* - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyantap aneka menu masakan
Padang saat jalan-jalan di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta,
Sabtu (20/4). Sejumlah /netizen/ berkomentar bahwa hal itu menunjukkan
kebesaran jiwa Jokowi; meski kalah telak di ranah Minang, namun Jokowi
tidak menaruh benci atau dendam. Namun, di sisi lain, kemudian muncul
tagar boikot masakan Padang di media sosial karena kekalahan pasangan
Jokowi-Ma'ruf Amin di ranah Minang dari perhitungan sementara Pilpres 2019.
Gagasan, kesimpulan, atau aksi tersebut sah-sah saja dan boleh jadi
kelihatan keren. Tapi itu semua sebetulnya menunjukkan kegagalan
memahami watak orang Minang sebagai sebuah potret utuh alih-alih
jepretan yang hanya terbatas pada pemilihan presiden yang sifatnya
musiman. Pemahaman terhadap watak 'urang awak' sejatinya akan memberikan
potret yang jelas bagaimana identitas orang Minang berkorelasi linear
pada pilihan politik, kecenderungan intelektual, maupun semangat dagang
yang mereka miliki.
Pertama, orang Minang berwatak inklusif. Ini adalah DNA budaya orang
Minang yang sudah turun temurun, baik secara individual atau komunal.
Secara individual, orang Minang lebih memilih bergaul, berteman, dan
berinteraksi dengan mereka di luar Minang. Ini bukan karena tidak mau
berteman sesama orang Minang, tapi lebih sebagai konsekuansi etos
merantau di mana makna dan hakikat orang Minang tegak setelah
meninggalkan kampung halaman.
Merantau bermakna menambah lingkaran pergaulan, memperluas horizon
pengetahuan. Secara komunal, watak inklusif ini jauh lebih kentara.
Orang tak akan menemukan kampung Padang di seantero Nusantara, berbeda
dengan kampung China, kampung Jawa, atau kampung Nias. Kalaupun orang
Minang berkumpul sesama orang Minang ketika berdagang semisal di Tanah
Abang, ini sama sekali bukan menunjukkan eksklusivisme orang Minang,
melainkan semata-mata menjalani prinsip "ada gula ada semut".
Dalam konteks politik, semisal Pilpres 2019 ini, inklusivisme tersebut
mengkristal dari keragaman pilihan politik tokoh-tokoh Minang. Meskipun
bisa dikatakan mereka adalah Muslim dan paham betul dengan konsep adat
/basandi syarak, syarak basandi kitabullah/ (adat bersendi syariah dan
syariah bersendikan /kitabullah/, yakni Al Quran), namun semuanya cair
terkait afiliasi politik. Kita bisa menemukan tokoh-tokoh Minang menjadi
tokoh kunci yang menjadi tim kampanye atau sekadar mendukung capres yang
berbeda. Di kubu Jokowi di antaranya Andrinof Chaniago atau Buya Syafii
Maarif, sementara pendukung Prabowo di antaranya Fadli Zon dan Rizal Ramli.
Inklusivisme membuat orang-orang Minang tetap nyaman dan menikmati
perbedaan sehingga bisa menempati posisi sentral di wilayah politik yang
tidak lagi sama tanpa perang klaim yang "mengkafirkan". Dalam hal
tertentu, inklusivisme ini juga menjadi pegangan buat orang Minang yang
/manggaleh/, sebuah istilah dalam bahasa Minang untuk kegiatan berdagang.
Orang Minang tidak pernah merasa rugi atau keberatan berbagi rahasia
dapur atau resep masakan Padang. Itulah kenapa kita banyak menemukan
rumah makan Padang, terutama di luar Sumatera Barat, yang dimiliki bukan
oleh orang Padang. Kebanyakan mereka pernah bekerja di rumah makan
Padang. Selama bekerja di sana, si empunya rumah makan bukan saja
membuka rahasia masakan Padang apa adanya di dapur, bahkan juga
mengizinkan siapapun yang bekerja di sana untuk membuka usaha sendiri
tanpa minta jatah lantaran berbagi resep dan rahasia.
Karenanya, ajakan untuk memboikot masakan Padang tidak rasional dan
cenderung reaksional. Sebagai pembentuk selera Nusantara, orang butuh
masakan Padang. Bahkan Jokowi pun menyukai masakan Padang, sebagaimana
SBY yang menyukai sate Padang sebagai salah satu makanan favoritnya.
Bertindak dengan akal pendek tak bakal berumur panjang. Lagi pula
siapapun yang melawan selera hanya akan jadi pecundang.
Bagi orang Indonesia, terlepas ada atau tiada pemilu, masakan Padang
puluhan kali lebih enak daripada pasta dan pizza. Sebagaimana bakso,
nasi goreng, atau gado-gado yang tak bisa digantikan oleh burger McD
atau ayam goreng KFC. Sederhana saja.
Kedua, orang Minang sangat egaliter. Siapapun yang berkunjung ke Istana
Baso Pagaruyuang di Sumatera Barat, tidak akan menemukan singgasana
raja. Alasannya, bagi orang Minang hubungan sosial termasuk dengan raja
dibangun di atas prinsip duduk sama rendah tegak sama tinggi. Pemimpin
hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Raja adil raja
disembah, raja lalim raja disanggah.
Etos egaliterianisme suku Minang ini acapkali menjadi sumber
kesalahpahaman banyak orang. Banyak yang menyamakan ini dengan semangat
pembangkang. Padahal yang tengah dilakoni oleh orang Minang merespons
kekuasaan adalah spirit egaliterianisme. Dari pengalaman saya sebagai
dosen di perguruan tinggi di Padang, suatu hal yang lumrah ketika
mahasiswa berdebat dengan dosen bukan saja di forum terbuka, bahkan di
media sosial seperti Facebook atau WhatsApp. Meski ada jarak dan posisi
yang berbeda, watak egaliter ini mendorong keberanian intelektual bagi
orang Minang.
Watak egaliter ini tak akan luntur, lebih-lebih berhadapan dengan
tangan-tangan kekuasaan. Pertanyaan menarik, terutama terkait dengan
Pilpres 2019 adalah mengapa suara Jokowi terjun bebas di Sumatera Barat?
Presiden Jokowi bukan tidak berjasa bagi ranah Minang. Kawasan Mandeh
adalah salah satu "bakeh tangan" Presiden Jokowi yang berdampak
meningkatnya arus kunjungan wisatawan ke ranah Minang dan peningkatan
pendapatan asli daerah dan masyarakat sekitarnya.
Setelah SBY, Jokowi adalah presiden yang relatif sering mengunjungi
ranah Minang meski tanpa sambutan hangat dari masyarakat. Banyak
analisis sudah dikemukakan oleh pakar menyangkut faktor-faktor kekalahan
sang petahana di ranah Minang. Namun untuk bisa menjawab pertanyaan ini,
kita perlu melihat watak orang Minang selanjutnya.
Ketiga, orang Minang menjunjung tinggi rasionalitas. Hemat saya, watak
orang Minang sebagai masyarakat rasional merupakan faktor penentu yang
utama atas kekalahan pasangan Jokowi di Sumatera Barat. Ada tuduhan
bahwa kekalahan Jokowi karena diterjang hoaks bahwa Jokowi identik
dengan PKI, keturunan China dan lain-lain. Bila ditelaah, baik di media
sosial atau lapangan, hoaks ini memang mendera masyarakat Minang. Hanya
saja, perlu diingat bahwa usia sebuah hoaks itu pendek. Ia cepat
diklarifikasi seiring dengan kuatnya akses masyarakat terhadap media
arus utama dan media sosial. Menuduh orang Minang gampang termakan hoaks
tidak lagi relevan.
Rasionalitas politik masyarakat Minang tegak kuat dengan buhulan prinsip
/alun takilek alah takalam, ikan di aia alah tau jantan jo batinonyo
--/belum terkilat atau bersinar sudah gelap lagi, ikan di air sudah
ketahuan jantan atau betinanya. Bagi mayoritas orang Minang, Jokowi
dianggap tidak mandiri dalam bersikap. Ia dikelilingi oleh lingkaran
kuasa dan pendukung yang berseberangan dengan perspektif Islam yang
dipahami oleh orang Minang. Gelombang LGBT, tokoh-tokoh atau mantan
pendukung PKI, Jaringan Islam Liberal, dan Islam Nusantara berada satu
kubu atau menyatu dengan koalisi partai pendukung Jokowi. Meski di sana
ada sosok K. H. Ma'ruf Amin, namun eksistensinya tidak mampu menghalau
kelompok-kelompok yang bertentangan secara diametral dengan kelompok
Islamis di kubu Prabowo.
Orang Minang tidak hanya mampu membaca yang /tasurek/ (tersurat), tapi
juga mampu membaca yang /tasirek/ (tersirat), tidak hanya mampu melihat
yang nyata di depan mata tapi juga mampu melihat yang tersembunyi di
belakang. Itu karena orang Minang memiliki kearifan yang didik dan
terlatih dalam tatacara dan pola yang tertata.
Karenanya, meskipun Presiden Jokowi sudah begitu pemurah memperhatikan
Sumatera Barat, sebuah kawasan yang tidak mendukungnya pada 2014 silam,
lewat pembangunan infrastruktur dan pariwisata yang hebat, namun itu
masih dianggap hampa karena Jokowi tidak mampu membereskan lingkaran
pendukungnya yang tidak beroleh tempat di hati orang Minang.
Peradaban material yang ditawarkan Presiden Jokowi selama ini belum bisa
menutupi isu-isu keagamaan dan identitas yang amat sentral bagi /urang
awak/ di ranah Minang.
*Donny Syofyan* /dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas/
*(mmu/mmu)
*
**