https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_
cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846
Kamis 25 April 2019, 09:40 WIB
Kolom
Ulama dan Rekonsiliasi Umat Pasca Pemilu
Khairul Arifin - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/khairul.arifin16>
Khairul Arifin
<https://connect.detik.com/dashboard/public/khairul.arifin16>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#>
Ulama dan Rekonsiliasi Umat Pasca Pemilu Pertemuan ulama pendukung
Jokowi dan Prabowo di Jatim
*Jakarta* -
Seiring berakhirnya Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 17 April lalu,
polarisasi yang terbentuk karena perbedaan pilihan calon wakil rakyat,
khususnya presiden-wakil presiden, seharusnya juga dapat berakhir.
Beberapa bulan masa kampanye ditambah sejumlah momen sosial-politik yang
muncul sebelumnya sudah sangat melelahkan bagi persatuan rakyat
Indonesia. Ikatan persaudaraan banyak yang putus akibat perbedaan
pilihan ini mengingat begitu tajamnya sentimen pada masing-masing pendukung.
Keterbelahan juga dirasakan oleh umat Islam. Seperti yang kita tahu,
masing-masing pasangan calon menampilkan narasi keislaman dalam
kampanyenya. Mendaku diri paling islami dan merasa jalan keislaman yang
diperjuangkan paling /kaffah/ sedangkan kelompok sebelah adalah salah.
Sejumlah ulama tampil memoles citra calon yang didukung. Umat yang sudah
kadung /sami'na wa atha'na/ dengan ulama mati-matian membela fatwanya.
Hingar bingar dukungan ini tak tampak menggambarkan hakikat demokrasi
yang sejatinya bertujuan memilih pemimpin dari calon terbaik. Sebab yang
sering ditampakkan adalah upaya saling menjatuhkan melalui keburukan
lawan. Mirisnya, umat Islam terbawa dengan gaya politik culas semacam
ini. Bukannya mengadu gagasan masing-masing calon, terutama berkaitan
dengan kepentingan umat Islam, para pendukung fanatik tersebut malah
sibuk membuka aib dan menebar fitnah. Para ulama pun tak luput dari
serangan-serangan ini.
Yang terjadi kemudian adalah parade caci maki dan saling sikut
antarpendukung. Tuan Guru Bajang dan Ustaz Yusuf Mansur yang
mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi disebut ulama yang tersandera
kepentingan bisnisnya. Ustaz Abdul Somad dan sejumlah ulama yang
mendukung Prabowo disebut anti NKRI dan pendukung khilafah. Adu jotos
antarpendukung menjadi lebih panas di media sosial dengan perang tagar
dan gambar /meme/ yang sayangnya lebih suka menyerang pribadi dan
dipenuhi /hoax/.
Padahal ulama adalah /warasatul anbiya'/, pewaris para Nabi. Ia diwarisi
ilmu untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan dan pesan-pesan kenabian. Oleh
karenanya harus kita hormati dan muliakan. Rasulullah Muhammad SAW
pernah bersabda, "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak
menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang
tidak mengerti hak ulama." (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam
Shahih Al Jami).
Di sisi lain, para ulama sebagai sang pewaris memiliki tanggung jawab
menjalankan peran kenabian, tak terkecuali dalam kehidupan
sosial-politik. Jangan karena kecintaannya terhadap calon yang didukung
kemudian melupakan misi profetik yang disandannya. Meski politik
dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan
terdengar terhormat sebagaimana dikatakan George Orwell, maka fungsi
ulama dalam arus politik ini seharusnya tetap bisa menunjukkan bahwa
kebohongan tetaplah kebohongan dan pembunuhan adalah tindakan keji tak
manusiawi.
Ulama diibaratkan seperti lentera. Ketika umat terjebak dalam kegelapan,
ia hadir sebagai penerang yang mengantarkannya ke jalan kedamaian.
Begitu pun ketika dihadapkan kepada kondisi umat yang terpecah belah
akibat Pemilu. Ulama seyogyanya mampu mengajak umat tetap tenang menjaga
persatuan dan keutuhan. Sebagai salah satu elite di negeri ini, ulama
harus menampilkan keluhuran sikap berpolitik. Menjadi motor rekonsiliasi
dua kelompok agar persatuan tidak semakin pecah.
Maka apa yang dilakukan oleh ulama di beberapa daerah patut diapresiasi.
Di Jawa Timur, sejumlah ulama pendukung Jokowi dan Prabowo berkumpul
menyikapi suasana politik terkini sekaligus menyeru kepada masyarakat
untuk menciptakan suasana aman dan kondusif. Begitu pun yang dilakukan
sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan di
Bogor yang melakukan deklarasi damai untuk menciptakan suasana sejuk
pasca Pemilu. Jika di daerah sudah memulainya, mari kita tunggu suara
ulama pendukung paslon di lingkaran pusat.
Kita juga perlu apresiasi para ulama yang sejak awal bersikap netral.
Pada momen inilah perannya dibutuhkan sebagai mediator dan menjadi
jembatan rekonsiliasi kedua belah pihak. Apabila elite ulama di
lingkaran pusat sudah "berdamai", kita berharap hal yang sama terjadi
pada umat di bawah. Setelah semua itu dilakukan, mari kita susun agenda
keumatan bersama-sama. Mengawal aspirasi umat Islam dan janji-janji
politik pemimpin yang terpilih dalam Pemilu 2019 ini.
*Khairul Arifin */warga Muhammadiyah
/
*(mmu/mmu)
*
**