*Apakah ulama-ulama ini mempunyai pendidikan tinggi dan dimana mereka belajar? *
On Thu, Apr 25, 2019 at 9:44 PM 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > > > https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_ > > cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846 > Kamis 25 April 2019, 09:40 WIB > Kolom Ulama dan Rekonsiliasi Umat Pasca Pemilu > Khairul Arifin - detikNews > <https://connect.detik.com/dashboard/public/khairul.arifin16> > Khairul Arifin > <https://connect.detik.com/dashboard/public/khairul.arifin16> > Share *0* > <https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#> > Tweet > > <https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#> > Share > *0* > <https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#> > 0 > komentar > <https://news.detik.com/kolom/d-4524034/ulama-dan-rekonsiliasi-umat-pasca-pemilu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.72852758.486060470.1556220846-1447940757.1556220846#> > [image: Ulama dan Rekonsiliasi Umat Pasca Pemilu] Pertemuan ulama > pendukung Jokowi dan Prabowo di Jatim > *Jakarta* - > > Seiring berakhirnya Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 17 April lalu, > polarisasi yang terbentuk karena perbedaan pilihan calon wakil rakyat, > khususnya presiden-wakil presiden, seharusnya juga dapat berakhir. Beberapa > bulan masa kampanye ditambah sejumlah momen sosial-politik yang muncul > sebelumnya sudah sangat melelahkan bagi persatuan rakyat Indonesia. Ikatan > persaudaraan banyak yang putus akibat perbedaan pilihan ini mengingat > begitu tajamnya sentimen pada masing-masing pendukung. > > Keterbelahan juga dirasakan oleh umat Islam. Seperti yang kita tahu, > masing-masing pasangan calon menampilkan narasi keislaman dalam > kampanyenya. Mendaku diri paling islami dan merasa jalan keislaman yang > diperjuangkan paling *kaffah* sedangkan kelompok sebelah adalah salah. > Sejumlah ulama tampil memoles citra calon yang didukung. Umat yang sudah > kadung *sami'na wa atha'na* dengan ulama mati-matian membela fatwanya. > > Hingar bingar dukungan ini tak tampak menggambarkan hakikat demokrasi yang > sejatinya bertujuan memilih pemimpin dari calon terbaik. Sebab yang sering > ditampakkan adalah upaya saling menjatuhkan melalui keburukan lawan. > Mirisnya, umat Islam terbawa dengan gaya politik culas semacam ini. > Bukannya mengadu gagasan masing-masing calon, terutama berkaitan dengan > kepentingan umat Islam, para pendukung fanatik tersebut malah sibuk membuka > aib dan menebar fitnah. Para ulama pun tak luput dari serangan-serangan ini. > > Yang terjadi kemudian adalah parade caci maki dan saling sikut > antarpendukung. Tuan Guru Bajang dan Ustaz Yusuf Mansur yang > mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi disebut ulama yang tersandera > kepentingan bisnisnya. Ustaz Abdul Somad dan sejumlah ulama yang mendukung > Prabowo disebut anti NKRI dan pendukung khilafah. Adu jotos antarpendukung > menjadi lebih panas di media sosial dengan perang tagar dan gambar *meme* > yang sayangnya lebih suka menyerang pribadi dan dipenuhi *hoax*. > > Padahal ulama adalah *warasatul anbiya'*, pewaris para Nabi. Ia diwarisi > ilmu untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan dan pesan-pesan kenabian. Oleh > karenanya harus kita hormati dan muliakan. Rasulullah Muhammad SAW pernah > bersabda, "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang > lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak > ulama." (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami). > > Di sisi lain, para ulama sebagai sang pewaris memiliki tanggung jawab > menjalankan peran kenabian, tak terkecuali dalam kehidupan sosial-politik.. > Jangan karena kecintaannya terhadap calon yang didukung kemudian melupakan > misi profetik yang disandannya. Meski politik dirancang untuk membuat > kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan terdengar terhormat sebagaimana > dikatakan George Orwell, maka fungsi ulama dalam arus politik ini > seharusnya tetap bisa menunjukkan bahwa kebohongan tetaplah kebohongan dan > pembunuhan adalah tindakan keji tak manusiawi. > > Ulama diibaratkan seperti lentera. Ketika umat terjebak dalam kegelapan, > ia hadir sebagai penerang yang mengantarkannya ke jalan kedamaian. Begitu > pun ketika dihadapkan kepada kondisi umat yang terpecah belah akibat > Pemilu. Ulama seyogyanya mampu mengajak umat tetap tenang menjaga persatuan > dan keutuhan. Sebagai salah satu elite di negeri ini, ulama harus > menampilkan keluhuran sikap berpolitik. Menjadi motor rekonsiliasi dua > kelompok agar persatuan tidak semakin pecah. > > Maka apa yang dilakukan oleh ulama di beberapa daerah patut diapresiasi. > Di Jawa Timur, sejumlah ulama pendukung Jokowi dan Prabowo berkumpul > menyikapi suasana politik terkini sekaligus menyeru kepada masyarakat untuk > menciptakan suasana aman dan kondusif. Begitu pun yang dilakukan sejumlah > tokoh masyarakat, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan di Bogor yang > melakukan deklarasi damai untuk menciptakan suasana sejuk pasca Pemilu. > Jika di daerah sudah memulainya, mari kita tunggu suara ulama pendukung > paslon di lingkaran pusat. > > Kita juga perlu apresiasi para ulama yang sejak awal bersikap netral. Pada > momen inilah perannya dibutuhkan sebagai mediator dan menjadi jembatan > rekonsiliasi kedua belah pihak. Apabila elite ulama di lingkaran pusat > sudah "berdamai", kita berharap hal yang sama terjadi pada umat di bawah. > Setelah semua itu dilakukan, mari kita susun agenda keumatan bersama-sama.. > Mengawal aspirasi umat Islam dan janji-janji politik pemimpin yang terpilih > dalam Pemilu 2019 ini. > > *Khairul Arifin * > > *warga Muhammadiyah * > > > > > *(mmu/mmu) * > > > > > > > >
