https://koransulindo.com/pemilu-2019-menegaskan-kekuasaan-oligarki/

Pemilu 2019: Menegaskan Kekuasaan Oligarki

Di samping pemilu nasional, Indonesia juga menggelar pemilu untuk pemilihan
kepala daerah. Dan setiap agenda pemilu itu hampir selalu diwarnai dengan
kericuhan antar-pendukung karena dugaan-dugaan kecurangan terutama karena
politik uang
22 April 2019

 *Koran Sulindo* – Apa yang baru dari pemilihan umum (pemilu) serentak pada
tahun ini? Barangkali hanya meningkatnya fanatisme pendukung, munculnya
“tokoh” baru yang mendampingi para kandidat calon presiden 2019 dan
dilakukan secara serentak untuk memilih anggota legislatif dan presiden.
Selebihnya, hanya seperti mengulang pemilihan umum 5 tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui dan mengenal Indonesia, maka ia tidak akan terkejut
dengan agenda pemilu di negeri ini. Di samping pemilu nasional, Indonesia
juga menggelar pemilu untuk pemilihan kepala daerah. Dan setiap agenda
pemilu itu hampir selalu diwarnai dengan kericuhan antar-pendukung karena
dugaan-dugaan kecurangan terutama karena politik uang. Pun dalam skala
nasional, hal itu tetap terjadi.

Dari sini kita bisa mengerti, pemilu di Indonesia umumnya hanyalah soal
uang. Selain karena popularitas, pertarungan antar-elite itu terutama
berkaitan dengan kepemilikan uang yang banyak. Maka, wajar jika kebanyakan
orang menyimpulkan pemilu di Indonesia sama sekali tidak ada hubungannya
dengan rakyat. Lantas bagaimana dengan pemilu calon anggota legislatif dan
Pemilu Presiden 2019?

Pada tahun ini pertentangan antar-kandidat dibuat seolah-olah pertarungan
antara kaum nasionalis dan intoleran; kaum Pancasilais dan Khilafah serta
lain sebagainya. Namun, seperti pemilu-pemilu sebelumnya – karena acap kali
tidak terkait dengan kepentingan publik – rakyat selalu terbebani untuk
memilih ribuan calon anggota legislatif yang selalu mengatasnamakan rakyat
untuk dapat terpilih dan melenggang ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)..

Umumnya para kandidat itu sesungguhnya tidak memenuhi syarat. Bahkan
kenyataannya anggota legislatif terpilih itu kemudian hari ditangkap karena
terbukti korupsi, misalnya. Atau bagaimana seorang anggota DPR yang sering
absen atau bolos, namun kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota
legislatif untuk periode selanjutnya. Rakyat benar-benar terbebani bukan?

Catatan Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi), misalnya, menyebutkan
DPR periode 2014 hingga 2019 merupakan DPR dengan kinerja terburuk jika
dibandingkan dengan periode sebelumnya. Di samping rendahnya kinerja
legislasi mereka, DPR periode sekarang juga lemah dalam kinerja pengawasan
terhadap pemerintah.

Kendati demikian, pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap saja
menyebut pemilu Indonesia sebagai “pesta demokrasi”. Biayanya pun
fantastis. Untuk menyelenggarakan pemilu – termasuk pemilihan kepala daerah
serentak – sepanjang 2014 hingga 2019 menghabiskan uang negara hingga
sekitar Rp 68,45 triliun. Meski “pesta demokrasi” tersebut menelan biaya
fantastis, tak lalu pemilu itu bermanfaat bagi rakyat.

Selain biaya resmi yang dikeluarkan KPU, tiap-tiap kandidat juga seringkali
mengeluarkan biaya yang tinggi untuk membiayai kampanyenya. Disertasi
doktoral Sekretaris Kabinet, Pramono Anung menyebutkan, tiap-tiap calon
anggota legislatif setidaknya mengeluarkan Rp 2 miliar agar bisa duduk
sebagai anggota Dewan. Ia juga memotret motivasi seseorang menjadi anggota
DPR.

Dari disertasinya itu, Pramono setidaknya menyimpulkan ada 2 motivasi
seseorang untuk menjadi anggota DPR: motivasi utama dan turunan. Motivasi
utama itu terkait dengan kepentingan ekonomi. Lembaga DPR dijadikan tempat
untuk mencari nafkah sehingga sebagian dari mereka berkreasi atau mencari
celah untuk korupsi untuk mengembalikan modal awal mereka dengan menjadi
anggota DPR.

Untuk membiayai calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilu kali
ini pun sungguh menelan biaya yang tinggi. Pada 2014, misalnya, dana
kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo –
Jusuf Kalla berdasarkan catatan tim suksesnya mencapai Rp 312,3 miliar.
Total dana yang dibelanjakan mencapai sekitar Rp 312 miliar sehingga ada
sisa sekitar Rp 477 juta.

Sementara untuk pasangan Prabowo Subianto – Hatta Radjasa, total dana
kampanye pada tahun yang sama mencapai sekitar Rp 167 miliar. Dari total
dana itu, hanya tersisa sekitar Rp 1,6 juta. Lalu bagaimana pada tahun ini?
Dana kampanye yang terkumpul untuk calon presiden dan wakil presiden,
Prabowo Subianto – Sandiaga Uno mencapai Rp 191,5 miliar hingga Maret 2019.
Sedangkan, untuk pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin mencapai Rp 130,45 miliar.

KPU bersama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga mengumumkan
total harta kekayaan yang telah dilaporkan tiap-tiap kandidat. Total harta
kekayaan calon presiden Jokowi, mencapai Rp 50,2 miliar. Sementara
pasangannya, Ma’ruf Amin, total harta kekayaannya mencapai Rp 11,6 miliar.
Untuk harta kekayaan calon presiden Prabowo sebesar Rp 1,9 triliun dan
pasangannya, Sandiaga Uno sebesar Rp 5,09 triliun.

Apa yang bisa kita maknai dari fakta tersebut? Dari jumlah harta kekayaaan
para kandidat itu – seperti yang disebutkan perusahaan investasi asal
Swiss, Credit Suisse – mereka termasuk satu persen populasi yang menguasai
separuh lebih kekayaan nasional. Juga penting melihat bagaimana proses dan
praktik politik tersebut secara efektif menjaga sistem politik hanya untuk
segelintir orang.

Itu sebabnya, Indonesianis dari Northwestern University, Amerika Serikat,
Jeffrey Winters menyebut dinamika politik pemerintah Indonesia hingga kini
masih dikuasai para oligarki (elite) dengan kepentingan kekuasaan. Dengan
kata lain, sistem politik demikian secara efektif memonopoli dan
melanggengkan politik dinasti dengan mengesampingkan mereka yang miskin,
tidak berdaya dan dipinggirkan.

Kenyataan bahwa pemilu 5 tahunan di Indonesia hanya pertarungan
antar-oligarki dijelaskan dalam sebuah film dokumenter produksi Watchdoc
berjudul *Sexy Killer*. Dari film dokumenter itu, kita bisa melihat
fakta-fakta bagaimana pemilu dimanipulasi atas nama kepentingan rakyat.
Padahal, sesungguhnya pertarungan antar-elite itu hanya untuk “mengamankan”
kepentingan-kepentingan ekonomi mereka.

Tengok saja, misalnya, dalam berbagai debat calon presiden yang digelar
selama 5 kali, kedua pasangan kandidat sama sekali tidak pernah menyentuh
hal-hal yang berkaitan dengan rakyat. Soal tambang batu bara, misalnya,
kedua calon tidak pernah membahasnya karena faktanya pemilik
tambang-tambang batu bara tersebut merupakan elite-elite yang berada di
belakang Jokowi maupun Prabowo. Umumnya mereka adalah pensiunan jenderal
tentara.

*Sexy Killer*
Berdasarkan film tersebut, ada sekitar 3.500 lubang bekas tambang batu bara
di Kalimantan. Disebutkan pula sekitar 290 pemilik tambang tidak memberi
jaminan lingkungannya dengan baik. Bahkan kubangan tambang batu bara di
tengah hutan itu telah menelan banyak korban jiwa. Sepanjang 2018, sekitar
30 orang meninggal dan umumnya adalah anak-anak. Secara nasional dicatat
ada sekitar 8 juta lubang bekas tambang yang belum direklamasi.

Lalu siapa pemilik saham tambang batu bara yang merusak lingkungan dan
merenggut banyak korban jiwa itu? Film dokumenter tersebut menyebutkan,
dari tim Jokowi – Ma’ruf Amin ada nama Luhut Binsar Pandjaitan (Menteri
Koordinator Bidang Kemaritiman), Fachrul Razi (pensiunan jenderal TNI) dan
Suadi Marasambessy. Mereka bergabung dalam tim Bravo 5. Selain mereka, ada
nama Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Sakti Wahyu Trenggono, Jusuf Kalla,
Andi Syamsuddin Arsyad dan Oesman Sapta Odang.

Sedangkan di kubu Prabowo – Sandiaga Uno, pertama-tama adalah kedua orang
itu. Karena mereka adalah pemain lama dalam bisnis energi. Kemudian, ada
nama Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Maher Al Gadrie, Hashim
Djojohadikusumo, Sudirman Said, Ferry Mursydan Baldan dan Zulkifli Hasan.
Menariknya, meski para elite itu berbeda kubu, tetapi secara bisnis mereka
saling terkiat. PT Saratoga Investama milik Sandiaga Uno, misalnya, melepas
sahamnya sebagian senilai Rp 130 miliar kepada PT Toba Bara milik Luhut
Pandjaitan.

Dari film tersebut diketahui perusahaan Luhut itu memiliki 50 lubang bekas
tambang. Total luas lahan tambang batu bara Luhut mencapai 14 ribu hektare.
Di samping tambang batu bara, Luhut juga punya 6 perusahaan lain yakni Toba
Coal and Mining, Toba Oil and Gas, Toba Power, Toba Perkebunan dan
Kehutanan, Toba Industri dan Toba Property and Infrastructure. Anak usaha
ini terbagi menjadi 16 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor.

Selain dengan Luhut, Sandiaga Uno yang menjadi pasangan Prabowo itu juga
memiliki perusahaan PT Multi Harapan Utama, PT Saratoga Investama, dan PT
Adaro Energy yang sahamnya dimiliki oleh saudara Erick Tohir, Dan diketahui
Erick Tohir merupakan Ketua Tim Kampanye Nasional untuk Jokowi – Ma’ruf
Amin. Dari fakta ini, maka ketika tiap-tiap kandidat mengatasnamakan
rakyat, kita tentu saja seperti menonton badut sirkus yang mentas di atas
panggung.

Menurut Jeffrey Winters, kenyataan demikian menunjukkan dinamika politik
pemerintah Indonesia hingga kini masih dikuasai para oligark (elite) dengan
kepentingan kekuasaan. Selepas rezim militer Soeharto hingga memasuki masa
reformasi, belum ada pola perubahan sistem pemerintahan yang fundamental
dimana kekuasaan berbasis kepentingan masih membudaya dan terpelihara di
kalangan figur politik.

Kontestasi Pemilihan Presiden 2019 adalah drama kaum oligarki yang
memberikan kerusakan-kerusakan baru di tengah masyarakat. Karena begitulah
cara oligarki mempertahankan kekayaan. Sayangnya isu-isu fundamental
demikian jarang mendapat tempat dalam media massa kita ketika sedang
meliput tentang pemilu. Kajian dari Remotivi, lembaga pemerhati media massa
menyebutkan, Pemilu 2019 merupakan pertarungan politik tanpa gagasan. Kedua
pasangan kandidat sama-sama tidak menawarkan apapun terutama hal-hal yang
mendasar untuk rakyat.

Perbincangan kedua kubu hanya diisi dengan sentimen dan kesan, kebencian
dan prasangka. Semisal, sentimen anti-asing, tingkat kesalehan, citra tegas
atau merakyat, keharmonisan rumah tangga, agenda Salat Jumat atau kubu mana
yang paling menolak LGBT. Mereka sama sekali tidak pernah membahas
komersialisasi pendidikan, privatisasi air, perampasan tanah, politik upah
murah dan lain sebagainya. Padahal peran media massa seharusnya sebagai
pengawas yang melayani kepentingan publik dan bukan kepentingan pemilik
media.

Justru liputan media independen seperti yang dilakukan Watchdoc itu – walau
dengan sumber daya terbatas – lebih mengena dengan masalah-masalah mendasar
rakyat. Mereka memilih isu atau agenda yang seringkali dipinggirkan. Mereka
“menelanjangi” kandidat dan tim suksesnya seperti membuat laporan film
dokumenter berjudul *Sexy Killer* itu.

Pemilu di Indonesia juga seringkali seperti yang dituliskan Allan Nairn
dalam blogspot pribadinya (terlepas kebenarannya belum terverifikasi) yakni
untuk meyakinkan Washington. Itulah yang diungkapkan wartawan investigasi
independen asal Amerika Serikat tersebut melalui sebuah catatan atau
notulensi rapat yang digelar di rumah Prabowo di Jakarta. Laporan yang
dikeluarkan dua hari sebelum Pemilu 2019 itu sungguh mengejutkan.

Sesuai dengan isi notulensi rapat, Prabowo dituding sedang merancang untuk
melakukan penangkapan massal, baik terhadap lawan-lawan politik maupun
koalisinya apabila terpilih menjadi presiden. Khusus mengenai penangkapan
terhadap kelompok Islam radikal dengan “menangkap ulama-ulama radikal”,
menurut Allan, demi memperlihatkan kepada Amerika Serikat bahwa Prabowo
tegas – kalau bukan menghamba – mengatasi radikalisme dan terorisme di Asia
Tenggara.

Dari semua itu, pada akhirnya kita akan sampai pada pertanyaan: apa
sesungguhnya pemilu dan apa yang pokok dari pemilu 5 tahunan ini untuk
rakyat? Dari fakta-fakta itu, mengutip Lenin, kalimat atau kata-kata
demokrasi memang dirancang untuk menyembunyikan kebenaran. Menyembunyikan
fakta bahwa ekonomi dan kekuatan politik tetap berada dalam genggaman
segelintir orang yang disebut oligarki itu. Justru, demokrasi demikian
hanya mengeksploitasi rakyat dan sangat menguntungkan kaum oligarki itu.

Karakter demokrasi demikian, kata Lenin, oleh kaum oligarki dijajakan
sebagai demokrasi modern dan “demokrasi sejati”. Padahal dalam praktiknya
demokrasi demikian sama sekali tidak berkaitan dengan rakyat terutama
mereka yang miskin, tidak berdaya dan dipinggirkan. Dari sini kita bisa
mengambil kesimpulan: pemilu ini hanyalah menegaskan kekuasaan
oligarki! *[Kristian
Ginting]*

Kirim email ke