https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305
Sabtu 27 April 2019, 11:00 WIB
"Common Sense" Ishadi SK
Sayur Mayur 4.0
Ishadi SK - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305#>
Ishadi SK
<https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4527073/sayur-mayur-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172019683.110314985.1556388305-1066100544.1556388305#>
Sayur Mayur 4.0 Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Ini cerita tentang seorang mahasiswa, Arif Zamani (27) yang
sedang menyelesaikan pendidikan di Canberra University jurusan
Commercial Business, berkomunikasi dengan teman SMA-nya, Amanda (26)
yang sedang bersekolah di Manchester University London jurusan Business
Administration. Amanda sejak awal memutuskan untuk bertani, dan itu
dilakukannya setelah menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia.
Ia bertani di kebun milik ayahnya di Sukabumi, Jawa Barat.
Pada panen pertama, hasil sayurannya ditawar terlalu rendah harganya
oleh para tengkulak. Ia kemudian memutuskan untuk membangun sistem jual
beli yang menguntungkan petani. Lewat Whatsapp dia menyampaikan
keluhannya kepada Arif yang berjanji setelah menyelesaikan kuliahnya di
Canberra akan membantu Amanda melawan para tengkulak sayuran. Lewat
media sosial mereka kemudian berkenalan dengan Rama (42), /Co-Founder/
GOJEK, yang kebetulan telah keluar dari GOJEK dan mendirikan InsanTani,
sebuah /platform/ untuk menolong para petani dari para tengkulak.
Ketiganya bertemu, dan hanya dalam kurun waktu dua bulan mereka sepakat
mendirikan usaha baru bernama SayurBox. Seluruh konsep jual beli sayur
lewat /online./
Gagasan mereka kemudian ditawarkan di media sosial untuk /fundraising/
modal awalnya. Hanya dalam kurun waktu dua minggu mereka sudah
mendapatkan investor yang mau membantu menyediakan dana cukup untuk
langkah awal. Cerita selanjutnya bagaikan mimpi, perubahan demikian
cepat. Pada 2017 mereka menyewa bangunan gedung bekas Inter Studio di
Pejaten, membangun infrastruktur gudang penyimpanan dan /cold storage/
untuk menyimpan sayuran yang dibeli. Pada 2018 awalnya berupa aplikasi
/start-up/, berubah menjadi usaha profesional dengan mempekerjakan 96
orang pekerja dan puluhan ibu-ibu PHL (Pekerja Harian Lepas) yang
mensortir sayur dan buah, memasukkannya dalam kardus rapi untuk dikirim
ke pasar-pasar tradisional maupun ke ibu-ibu rumah tangga yang kemudian
lewat media sosial menjadi pelanggan tetap.
Bisnisnya sederhana. Mereka menghubungi petani sayur, menentukan kapan
panen, dan lewat "mitra /drive/r" dikirim ke pelanggan-pelanggan mereka,
awalnya ibu-ibu rumah tangga kemudian ke pedagang sayur. Dengan cara ini
petani mendapat "margin" keuntungan lumayan besar, sementara pembeli
mendapat sayuran segar dan relatif murah dibanding dengan yang mereka
beli di pasar.
Kurang dari satu tahun mereka di Jabodetabek sudah memiliki enam /hub/,
berupa /warehouse/ yang dilengkapi /storage/ sebagai tempat penampungan
sementara untuk kemudian lewat 200 /driver/ ojek, dikirim ke pembeli
maupun pusat jualan. Awalnya memang sayur /box/ menghadapi kesulitan,
karena /customer/ umumnya sensitif pada harga, kalau ada /vouche/r,
permintaan naik, namun jika tidak permintaan turun.
Pada kuartal kedua model bisnisnya lebih dikembangkan meniru /platform/
serupa di Australia yang lewat program HelloFresh, perusahaan online
penjual sayur dan buah yang membangun pelanggan-pelanggan umumnya di
rumah-rumah yang mempunyai /cold storage/, sehingga rata-rata membeli
dalam volume besar untuk keperluan mingguan.
Awal 2019 mereka kemudian mengembangkan /central house/, pusat
pergudangan yang lebih besar di Jakarta, Surabaya, dan Lembang. Awalnya
mereka menghadapi perlawanan dari para tengkulak setempat, namun setelah
merekrut tenaga-tenaga setempat, para tengkulak ini kemudian menyingkir.
Khusus di Surabaya, SayurBox lebih banyak memasarkan buah, khususnya
dari Malang, Banyuwangi, dan sekitarnya. SayurBox menjual 8 ton sayur
dan 10 ton buah-buahan per hari di Jakarta, di Bandung 2 ton sehari dan
di Surabaya berhasil dijual 4 ton buah-buahan seperti mangga, buah naga,
dan jambu.
Pada akhir 2019 mereka merencanakan untuk memperluas pasarnya ke Bali
dan beberapa daerah lainnya. Mereka juga menjual ke toko-toko buah di
pinggir jalan. Pada akhirnya kelak, mereka akan menjadi "/market place/"
untuk pasar tradisional dan supermarket di berbagai wilayah di Indonesia.
Ada tiga strategi yang akan dilakukan. Pertama, petani didorong untuk
menjadi bagian dari sistem penjualan online. Kedua, ibu-ibu rumah tangga
maupun pedagang kecil dan pasar tradisional menjadi bagian dari aplikasi
jual beli sayur dan buah secara lebih murah karena rantainya dibebaskan
dari tengkulak sayur dan buah. Ketiga, akan membangun jaringan penjualan
langsung ke market tradisional maupun retail besar.
Konsep seperti ini sudah lama berlangsung di China. Yang paling terkenal
adalah TaoBao, /online shop/ anak usaha Alibaba. Mimpi Arif, Amanda, dan
Rama ke depan adalah membangun jaringan aplikasi dari Sabang-Merauke
secara murah dan efisien. Dari Papua dikirim berbagai macam sayur dan
buah, sebaliknya dari Aceh diangkut kopi Aceh untuk pasar Papua.
Demikian seterusnya antarprovinsi, kabupaten, dan daerah seperti barter
pada zaman dahulu.
Dengan demikian, biaya transport yang selama ini merupakan beban
terberat dari bisnis ini dapat teratasi lewat sistem "barter" seperti
ini. Ya, memang inilah hikmah bisnis model 4.0 yang membuka segala
kemungkinan transaksi barang dan jasa secara cepat, murah, dan hemat.
*Ishadi SK* /Komisaris Transmedia
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!