https://tekno.tempo.co/read/1199729/badak-jawa-ditemukan-mati-di-ujung-kulon-bukan-akibat-perburuan/full&view=ok
Badak Jawa Ditemukan Mati di Ujung Kulon,
Bukan Akibat Perburuan?
Reporter:
Teras.id
Editor:
Yudono Yanuar
Sabtu, 27 April 2019 07:12 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1199729/badak-jawa-ditemukan-mati-di-ujung-kulon-bukan-akibat-perburuan/full&view=ok#comments>
101
#
#
#
#
Bangkai badak cula satu (Rhinoceros sondaicus) di Pantai Karang Ranjang
kasawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, 26 April 2018. Dari data
rekam video saat ini populasi badak jawa tinggal 68 ekor terdiri dari 31
ekor badak jawa betina dan 37 ekor jantan. Facebook/Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan
<https://statik.tempo.co/data/2018/04/28/id_701530/701530_720.jpg>
Bangkai badak cula satu (Rhinoceros sondaicus) di Pantai Karang Ranjang
kasawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, 26 April 2018. Dari data
rekam video saat ini populasi badak jawa tinggal 68 ekor terdiri dari 31
ekor badak jawa betina dan 37 ekor jantan. Facebook/Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Seekor badak jawa
<https://www.tempo.co/tag/badak-jawa>(/Rhinoceros sondaic/us) kembali
ditemukan mati di habitat terakhirnya di Taman Nasional Ujung Kulon
(TNUK), Provinsi Banten, baru-baru ini. Otoritas Balai TNUK
mengonfirmasi hal tersebut.
Bagian Hubungan Masyarakat Balai TNUK Monica Dyah Rahmaningsih
mengatakan bahwa satwa langka yang sudah menjadi bangkai itu ditemukan
oleh tim patroli di wilayah hutan Citadahan, salah satu wilayah
konsentrasi populasi badak Jawa di bagian selatan taman nasional pada 21
Maret 2019.
Penyabab Kematian Badak Jawa Samson Disebabkan Kolik Usus
<https://travel.tempo.co/read/1083905/penyabab-kematian-badak-jawa-samson-disebabkan-kolik-usus>
"Kematian memang ada. Badak mati terakhir itu ditemukan di daerah
Citadahan pada siang hari. Saat itu tim sedang patroli dan menemukan ada
badak yang sudah mati," kata Monica kepada Betahita.id, Kamis, 25 April
2019.
"Badak yang ditemukan berjenis kelamin jantan, usia belum
diidentifikasi. Perkiraan masih muda," tambahnya.
Badak Jawa. beritaaneh.com
Terkait penyebab kematian, Monica menerangkan belum diketahui secara
jelas. Adapun nekropsi telah dilakukan, namun saat ini pihak Balai TNUK
masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel bangkai badak Jawa
tersebut.
"Tapi yang kita lihat, cula dan badan badak utuh. Luka luar tidak ada
dan darah mengalir di beberapa bagian," kata Monica.
Monica menambahkan bahwa pihaknya juga masih mengkaji kemungkinan adanya
penyakit sebagai penyebab utama kematian satwa tersebut.
"Ya kalau penyakit, kita juga mencoba membuka hal itu. Nanti penyebabnya
akan kita rilis resmi," katanya.
Tahun lalu, seekor badak Jawa lainnya bernama Samson juga ditemukan mati
di Pantai Karang Ranjang, Kabupaten Pandeglang, yang termasuk dalam
wilayah TNUK.
Dari hasil uji patologi, kematian badak jantan dewasa tersebut diduga
karena torsio usus (usus besar dan usus kecil terpuntir). Bakteri
mikroflora usus kemudian melepaskan racun, yang menyebar ke seluruh
tubuh dan merusak organ dalam badak.
Badak Jawa termasuk salah satu mamalia besar terlangka di dunia serta
dilindungi undang-undang di Indonesia. International Union for
Conservation of Nature (IUCN) telah mendeklarasikan statusnya sebagai
Critically Endangered/CR) atau Kritis.
Artinya, populasi badak Jawa di alam liar berada di ambang kepunahan.
Saat ini, populasi badak Jawa terakhir diperkirakan sekitar 68 individu
di alam liar, dengan dua kelahiran pada 2018.
Proporsinya adalah 29 jantan dewasa, 24 betina dewasa, dan 15 badak
muda. Dengan kematian terbaru ini, populasi badak Jawa di TNUK berkurang
menjadi 67 individu.
Monica mengatakan bahwa kematian badak Jawa yang terbaru merupakan salah
satu dinamika konservasi satwa langka pemamah flora tersebut. "Ini
bagian dinamika dari populasi badak Jawa. Ada kelahiran, ada kematian.
Karena itu kita terus berupaya melestarikannya dengan sebaik-baiknya,"
kata Monica.
Pengendali Ekosistem Hutan TNUK Aris Budi Pamungkas turut membenarkan
kabar kematian badak Jawa di TNUK.
“Saya tahu, tapi tidak terlalu tahu detilnya,” katanya melalui
percakapan telepon kepada Betahita, Kamis, 25 April 2019.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen KSDAE KLHK) Ir.
Wiratno menyatakan sedang menelusuri hasil kajian soal kematian badak
jawa <https://www.tempo.co/tag/badak>di TNUK. "Sedang kita telusuri
hasil kajiannya. Nanti saya kabari ke media," kata Wiratno, 2 April 2019
lalu.
*BETAHITA.ID |TERAS.ID*
<https://www.teras.id/news/pat-41/152003/badak-jawa-ditemukan-mati-di-taman-nasional-ujung-kulon>
*KETERANGAN*
Berita ini mengalami perbaikan pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.20
pada jabatan Aris Budi Pamungkas. Seharusnya Pengendali Ekosistem Hutan
TNUK, bukan Kepala TNUK. Demikian kesalahan diperbaiki.