Astaman Hasibuan 19 menit · sebab aku marah, ampuni aku inang -- catatan buat ito Soe Tjen
lagi pesan Inang diusia mudaku, belasan tahun “tahan amarahmu amang, jangan mengumbarnya”. kuiyakan, tapi sesekali tak tertahankan. aku anak jantan, ditawar. kujual. berdiri seperti “alif” bertahan seperti “lam” dan menyerang seperti “mim”. itulah yang diajarkan guru silatku, oppung,bapa-uda inang. sekali dikurungan inang menjengukkuaku mohon, agar inang memaafkanku. aku tak bisa menjaga ketaatanku, karena amarahkulah yang membuat aku hidup sampai hari ini diakhir tahun itu diawal bulan nopember, awal petaka dinegeri ini aku dikurung diruang tahanan markas tentara di kecamatan, setelah badanku remuk dan kepalaku berlumur darah. ditetak dengan hulu “pisau komando” yang berupa burung garuda amarahkulah yang membuat aku masih hidup sampai hari ini. setengah dari tujuh puluh kawan-kawan yang diambil malam dan siang dibunuh dibelukar ditepi sungai di paluh disejajar rel kereta api medan belawan. aku marah, pagi subuh menghanyut diderasnya banjir sungai deli tertangkap, mati tetap menjadi orang kurungan juga mati. amarahkulah yang membuatku masih hidup sampai hari ini. aku tak kuasa menahan amarahku aku mohon ampun inang. di jalan gandhi di bekas sekolah,yang dijadikan tentara itu, kurungan entah sudah puluhan kali setelah disiksa, seakan binatang cuma air, yang Inang katakan najis itu,dan amarahkulah yang membuatku hidup, sampai hari ini. hari-hari belakangan ini, amarahku juga amarah kaumku, sudah tak tertahankan lagi opsir tentara pembantai kaumku itu, akan ditabalkan disanjung menjadi pahlawan negeri. ratusan ribu yang dibunuhnya di Jawa dan Bali. disini, puluhan kawan-kawanku,yang muda-muda, diambil menjelang malam, dari kurungan di markas polisi tentara di jalan sena dibunuh, dihanyutkan ke sungai ular. ditata jadi jamuan selamat datang, bagi si opsir pembantai dijunjung menjadi panglima tentara, dikawasan Utara bukit barisan. inang, jangan Inang khawatirkan aku kata orang, “tempat jatuh, lagi dikenang” taklah pernah aku lupakan, apa petuah inang karena marahku, aku masih hidup sampai hari ini. medan 16 nopember 2013.
