Ratusan petugas berkorban jiwa raga demi kelancaran Pemilu 2019
Senin, 29 April 2019 08:58 WIB
Ratusan petugas berkorban jiwa raga demi kelancaran Pemilu 2019
Petugas Pemilu 2019 di Bandarlampung, Provinsi Lampung sedang
menyelesaikan penghitungan suara. (FOTO: ANTARA Lampung/Budisantoso Budiman)
Lampung Timur (ANTARA) - Secara serentak rakyat Indonesia telah
menyerahkan mandatnya dengan memberikan suara di tempat pemungutan suara
(TPS) masing-masing pada Pemilu 2019 yang dilaksanakan Rabu 17 April lalu.
Rakyat dengan riang gembira menyambut pemilu dengan berbondong-bondong
mendatangi TPS sejak pagi sampai siang. Mereka rela antre di TPS untuk
menggunakan hak pilihnya.
Lewat mekanisme pemilu ini, rakyat berharap calon presiden-calon wapres
dan wakil rakyat yang terpilih dapat membawa negara ini lebih maju lagi
seperti yang mereka idam-idamkan.
Namun, kemeriahan dan antusiasme pemilu kali ini menyisakan luka
mendalam buat keluarga petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara
(KPPS), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Panitia Pemilihan Kecamatan
(PPK), menyusul banyak petugas penyelenggara pemilu ini meninggal dunia
dan jatuh sakit.
Ada ratusan petugas KPPS meninggal dunia selama menjalankan tugas dan
seribuan lebih lainnya jatuh sakit.
Tidak hanya dari petugas KPU, petugas Polri yang menjalankan tugas
pengamanan juga banyak yang meninggal dan sakit. Tidak luput juga para
pengawas pemilu yang sakit.
Secara nasional, data KPU RI hingga Sabtu, 27 April 2019, menyebutkan
jumlah petugas pemilu yang meninggal dunia sebanyak 272 orang, dan sakit
1.878 orang.
Adapun, di Kabupaten Lampung Timur sampai dengan Minggu (28/4) sebanyak
35 petugas pemilu dari unsur KPPS, PPS dan PPK jatuh sakit akibat
kelelahan. "Sampai dengan hari ini ada 35 orang yang sakit," kata
Komisioner Bidang Partisipasi Pemilih dan Sumber Daya Manusia KPU
Lampung Timur Maria Mahardini, di Lampung Timur, Minggu (28/4).
Satu dari unsur PPS dari Desa Jabung, Kecamatan Jabung atas nama Agus
Yusuf meninggal dunia, karena sakit akibat kelelahan, setelah mengikuti
rapat pleno tingkat PPK.
Menurut Maria Mahardini, nama-nama petugas pejuang demokrasi yang sakit
dan meninggal dunia dicatat, kemudian nama-nama mereka dikirim ke KPU
RI. "Kami catat dan laporkan," ujarnya lagi.
Kenapa para petugas pelaksana pemilu tersebut jatuh sakit, sampai banyak
yang meninggal dunia?
Anggota KPPS dari TPS 18 Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai
Sariman menuturkan pengalamannya menjadi petugas KPPS pada Pemilu
Serentak 2019 ini.
Menurut Sariman, tahapan yang dijalani seperti persiapan pemungutan
suara, pemungutan suara hingga penghitungan suara dan pencatatannya
harus dilakukan petugas pemilu ini.
Tahapan yang paling lama dan menyita waktu, tenaga, dan pikiran adalah
penghitungan suara, karena ada lima kotak suara yang dihitung surat
suaranya, surat suara Calon Presiden-Wakil Presiden, DPD RI, DPR RI,
DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
Penghitungan suara yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB baru selesai
pukul 04.00 pagi hari, keesokannya. "Luar biasa capeknya pemilu tahun
ini, tidak seperti pemilu sebelumnya, tanda tangan berkasnya banyak
banget," kata Sariman.
Khawatir salah menghitung dan mencatatnya, juga menjadi beban pikiran
petugas KPPS, sehingga harus ekstra teliti mengerjakannya dan semua
makan waktu lama.
Wajar karena itu, menurut Sariman, kemudian banyak petugas pemilu yang
jatuh sakit karena panjang waktu yang mereka lalui.
Sariman sendiri mengaku sempat sakit usai merampungkan tugasnya.
Pengalaman dari pemilu serentak ini, dengan surat suara dihitung dan
dicatat sangat banyak, sehingga dia berharap pemilihan untuk presiden
dan legislatif pada pemilu berikutnya bisa dipisahkan.
Dia juga berharap, honor petugas KPPS ditingkatkan karena tidak sesuai
dengan beban kerja. "Honor yang saya terima Rp500 ribu, kalau bisa naik
lagi," ujarnya pula.
Hermanto, anggota KPPS di TPS 17 Desa Margasari juga mengungkapkan
betapa lelah menjalani tugas pada pemilu tahun ini. "Lelah sekali,
menguras tenaga dan pikiran," ujar dia pula.
Kelelahan karena banyak surat suara yang dihitung dan harus dicatat.
"Belum berkas-berkas yang harus diisi, seperti formulir C1 yang harus
diberikan kepada saksi, padahal partainya banyak, berarti setiap saksi
partai harus dapat salinan C1-nya," katanya lagi.
Hermanto menginginkan pada pemilu mendatang, pilpres dan pemilihan wakil
rakyat dipisahkan saja, agar rekapitulasi suara cepat selesai. "Kalau
bisa dipisah, biar kami jangan banyak beban, karena kerjanya jadi
berjam-jam kalau terlalu banyak," ujarnya pula.
Sariman dan Hermanto menyatakan sebagai sesama petugas KPPS turut
berduka cita kepada mereka yang meninggal dunia dan mendoakan petugas
yang sakit cepat sembuh.
*Evaluasi Pemilu Serentak*
Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Lampung Timur Uslih
menegaskan perlu evaluasi pelaksanaan pemilu serentak ini.
"Perjalanan pemilu serentak ini luar biasa dan sangat menguras energi,
kami dari Bawaslu harus menyampaikan perlu dan harus ada evaluasi. Titik
poinnya harus ada pemisahan pilpres dan pileg ini," ujar Uslih.
Uslih mengatakan, pemilu serentak menguras energi tidak hanya bagi
petugas penyelenggara pemilu, namun juga buat pengawas pemilu, mengingat
frekuensi kerja kedua lembaga tidak jauh berbeda.
"Pengawasan oleh Bawaslu tidak pernah berhenti mulai dari distribusi
sampai pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara di TPS, PPS
dan pleno di kecamatan sampai kembalinya logistik, jadi frekuensi kerja
kami tidak jauh berbeda dengan KPU," ujarnya.
Uslih menyebut dua anggotanya, yakni Pengawas Pemilu Kecamatan
(Panwascam) jatuh sakit karena mengalami kelelahan.
"Ada dua orang yang sakit, Panwascam Braja Selebah dan Panwascam Bandar
Sribhawono, namun yang lain alhamdulillah pasukan kami jajaran Bawaslu
di tingkat bawah tetap sehat," ujar Uslih.
Uslih menilai banyak petugas pemilu yang sakit sampai ada yang meninggal
dunia, tidak hanya dipengaruhi faktor kondisi kesehatan, tapi juga
kesiapan mental psikologis petugas menjadi faktor yang ikut mempengaruhinya..
"Ada tingkat pemahaman penyelenggara yang kurang dalam melaksanakan
tugas, kurang pemahaman melaksanakan tugas ini membuat petugas jadi
takut salah, ini juga berpengaruh pada kondisi kesehatan," ujarnya pula.
Menurutnya, ke depan perlu ada penguatan oleh KPU kepada jajaran di
tingkat bawah, agar mereka lancar melaksanakan tugas tanpa ada lagi
kekhawatiran takut melakukan kesalahan.
Komisioner KPU RI Ilham Saputra menegaskan dalam waktu dekat Komisi
Pemilihan Umum melalui persetujuan Kementerian Keuangan RI akan segera
memberikan dana santunan bagi petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang
meninggal dunia maupun sakit.
Besaran dana santunan itu adalah tiga juta rupiah untuk petugas yang
sakit dan 30 juta rupiah bagi petugas yang meninggal dunia.
KPU RI bergerak cepat dengan membentuk tim verifikasi untuk mendata
jumlah petugas pemilu yang meninggal dunia dan sakit untuk
merealisasikan pemberian dana santunan tersebut.
Pemilu 2019 sudah berjalan dengan segala riuh rendah dengan hasil resmi
segera diumumkan KPU RI, beserta ratusan petugas terdampak sampai
meninggal dunia, ribuan lainnya mengalami sakit, umumnya akibat
kelelahan melaksanakan hajat demokrasi lima tahunan ini.
Pengorbanan besar hingga kehilangan nyawa telah ditunjukkan oleh para
petugas pelaksana pemilu dan petugas pendukung demi sukses Pemilu 2019
ini, hendaknya menjadi pembelajaran dan evaluasi maupun koreksi segera
bagi semua pihak berwenang agar ke depan tidak terjadi lagi.
Pewarta: Budisantoso Budiman & Muklasin
Editor: Yuniardi Ferdinand
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com