https://www.harianterbit.com/nasional/read/105925/Beban-Bunga-Utang-Rp70-Triliun-RI-Bisa-Kedodoran-Seperti-Malaysia



Beban Bunga Utang Rp70 Triliun, RI Bisa Kedodoran Seperti Malaysia
Safari
Senin, 29 April 2019 - 12:35 WIB
Ilustrasi utang luar negeri pemerintah Indonesia. Grafis: idx

*Jakarta, HanTer—Akhir Maret 2019 pemerintah membayar bunga utang Rp70,6
triliun. Besarnya bunga utang yang harus dibayar hingga akhir Maret 2019
ini harus diwaspadai karena bila tidak dimanage dengan benar, Indonesia
akan mengalami krisis utang yang bisa berujung menjadi krisis ekonomi.*

Pengamat ekonomi Gede Sandara mengemukakan, siapapun pemerintah mendatang,
akan terpaksa alokasikan anggarannya lebih banyak untuk membayar bunga
utang ini setiap tahun dan tentu pelunasan utang yang jatuh tempo. Otomatis
anggaran-anggaran untuk program-program yang lain, pendidikan, kesehatan,
dan industri, dan peningkatan konsumsi masyarakat harus berkorban demi
membayar bunga utang dan utang jatuh tempo yang terus membengkak.

Kecuali, lanjut Gede,  bila pemerintahan yang mendatang memiliki strategi
khusus untuk menaikkan rasio penerimaan pajak dari yang saat ini berkisar
di 10% menjadi 16%, maka ceritanya akan berbeda. Akan ada ekstra anggaran
untuk membayar bunga utang termasuk melunasi utang jatuh tempo, dan juga
anggaran untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Tetapi ada strategi yang lain, bila tak mampu tingkatkan tax ratio, yang
umumnya diterapkan oleh pemerintah kita termasuk oleh Jokowi. Yaitu tambah
utang baru untuk menutup kurangnya anggaran karena bayar bunga utang dan
lunasi utang lama. Ini namanya gali lubang tutup jurang. model memacu
pertumbuhan ekonomi menggunakan utang ini umumnya diterapkan di
pemerintahan yang menganut model neoliberal. Dalam model neoliberal ini
pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari 6%, tetapi utang akan
menggunung.

“Bila tak mampu bayar utang maka yang terjadi Indonesia akan mengalami
situasi yang dinamakan Krisis Utang. Ini situasi yang blum lama terjadi di
Argrntina, dimana pemerintahannya tidak mampu lagi bayar utang kepada bond
holder dan akhirnya default. Kepercayaan investor asing akan anjlok. Krisis
utang bila tidak dimanage dgn baik dapat menjadi krisis ekonomi,” kata
aktivis Pergerakan Kedaulatan Rakyat ini kepada *Harian Terbit*, Minggu
(28/4/2019).

*Tidak Baik*

Sementara itu, pemerhati masalah sosial masyarakat, Frans Saragih
mengatakan, bila kita lihat perjalanan panjang republik ini memang angka
pertumbuhan hutang kita meningkat cukup tinggi.

Menurutnya, beban bayar cicilan utang yang menyentuh angka Rp70 triliun
perlu diwaspadai, karena ini dikhawatirkan dapat mengganggu neraca
perekonomian negara. Walaupun analisis para pemangku kebijakan ekonomi
masih dalam batas aman, tetapi tetap saja mengkhawatirkan apabila ini
berkelanjutan.

"Yang dikhawatirkan adalah apabila kita tidak segera menemukan formula
khusus dalam mengatur rencana keuangan kita, terutama dalam pengelolaan
utang," paparnya dihubungi, Minggu.

Frans mengatakan, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5%
dan pembayaran utang yang sangat tinggi maka dikhawatirkan akan berbahaya
untuk tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun berjalan. Hal hal seperti ini
sudah pernah terjadi di beberapa negara, dan akhirnya mereka mengalami
krisis ekonomi berkepanjangan. Semoga pemerintah segera menemukan formula
untuk mengatasi masalah ini.

"Sebagai pemerhati sosial saya lebih menyarankan agar pemerintah lebih
menghidupkan sektor sektor retail dan home industri. Karena pada masa
krisis, industri rumah tangga kita terbukti mampu menghadapi krisis, dan
jenis seperti ini menjamur sampai ke tingkat pedesaan," jelasnya.

Sedangkan industri industri besar, lanjut Frans, diharapkan diberikan
formula untuk.meningkatkan jumlah produksinya dan sesuai dengan standard
International. Selain itu mari kita awasi perjalanan negara ini dan kita
berantas korupsi. Karena korupsi akan menghancurkan sendi-sendi kemajuan
suatu negara.

"Saya yakin masih sangat banyak orang Indonesia yang cerdas dan memiliki
hati siap membantu pengelolaan keuangan negara dengan baik dan benar,"
paparnya.

Dihubungi terpisah, pengamat kebijakan publik dari Indonesia Public
Institute (IPI) Jerry Masie mengatakan, utang bisa dihentikan dengan
menghentikan sementara mega proyek. Contoh Malaysia dimana keberanian
Mahathir Mohamad yang menyetop investasi China senilai Rp 281 triliun atau
1 juta ringgit. Pasalnya bunga 2 persen cukup tinggi yakni Rp 3,4 triliun.

Langkah yang selanjutnya tax amnesty harus jalan. Karena program tax
amnesty tidak berjalan maksimal. Ditjen pajak mencatat penerimaan negara
dari program tax amnesty mencapai Rp 135 triliun, meliputi uang tebusan Rp
114 triliun, pembayaran bukti permulaan Rp 1,75 triliun, dan pembayaran
tunggakan Rp Rp 18,6 triliun.

"Padahal tax amnesty mencapai Rp 4.813 triliun. contoh di AS lembaga mereka
IRS (Internal Revenue Service) begitu ketat dalam hal tax atau pajak,"
jelasnya.

*Tiga Bulan*

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan
Luky Alfirman  mengatakan,  pemerintah membayar bunga utang Rp 70,6 triliun
hingga akhir Maret 2019. Jumlah bunga utang yang dibayarkan pada tiga bulan
pertama 2019 itu naik 3,1% dari periode yang sama di 2018 yaitu sebesar Rp
68,5 triliun.

"Realisasi asumsi makro jika dilihat masih on track hingga saat ini,
termasuk inflasi," kata  Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan
Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman  saat jumpa pers APBN Kita di
Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2019).

Menurutnya, pembayaran bunga utang ini masuk ke komponen belanja pemerintah
pusat. Total belanja pemerintah pusat di akhir Maret 2019 tercatat Rp 260,7
triliun, naik 11,4%.

Belanja pemerintah didorong tingginya Belanja Pegawai untuk pembayaran gaji
PNS dan tunjangan yang mencapai Rp 84,1 triliun. Sedangkan belanja barang
mencapai Rp 37,7 triliun dan belanja modal Rp 9,1 triliun.

Salah satu pos yang naik tinggi di triwulan I-2019 adalah bantuan sosial
dengan peningkatan 106,6% menjadi Rp 37,7 triliun dari periode yang sama
tahun sebelumnya sebesar Rp 17,9 triliun. Sedangkan realisasi subsidi yang
masuk pos belanja pemerintah mencapai Rp 21,8 triliun.
#UTANGLUARNEGERI <https://www.harianterbit.com/readtag/UtangLuarNegeri>

   - WHATSAPP
   - FACEBOOK
   
<https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https://www.harianterbit..com/nasional/read/105925/Beban-Bunga-Utang-Rp70-Triliun-RI-Bisa-Kedodoran-Seperti-Malaysia>
   - TWITTER
   
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Beban%20Bunga%20Utang%20Rp70%20Triliun,%20RI%20Bisa%20Kedodoran%20Seperti%20Malaysia%20https://www.harianterbit.com/nasional/read/105925/Beban-Bunga-Utang-Rp70-Triliun-RI-Bisa-Kedodoran-Seperti-Malaysia%20%20&hashtags=UtangLuarNegeri>
   - GOOGLE+
   
<https://plus.google.com/share?url=https://www.harianterbit.com/nasional/read/105925/Beban-Bunga-Utang-Rp70-Triliun-RI-Bisa-Kedodoran-Seperti-Malaysia>

------------------------------

------------------------------

BACA JUGA :

   - *NASIONAL* | SENIN, 29 APRIL 2019 - 12:35 WIB
   Beban Bunga Utang Rp70 Triliun, RI Bisa Kedodoran Seperti Malaysia
   
<https://www.harianterbit.com/nasional/read/105925/Beban-Bunga-Utang-Rp70-Triliun-RI-Bisa-Kedodoran-Seperti-Malaysia>
   ------------------------------


<https://www.harianterbit.com/readiklan/17/gowet>

Kirim email ke