https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=
wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468
Selasa 30 April 2019, 15:26 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Prabowo, Hewan-Hewan, dan Matinya
Bahasa
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468#>
14 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4530721/prabowo-hewan-hewan-dan-matinya-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.207555418.872040371.1556646468-666929388.1556646468#>
Prabowo, Hewan-Hewan, dan Matinya Bahasa Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi:
Edi Wahyono)
*Jakarta* - Pak Prabowo bisa mengobrol dengan hewan-hewan. Dia paham
bahasa semut, bahasa nyamuk, bahasa kuda, bahasa anjing, dan entah
bahasa hewan apa lagi. Saat makanannya dikerubuti semut, Pak Prabowo tak
mau makanan itu dibuang. Ia cukup berbincang sebentar dengan semut-semut
di hadapannya, lalu pasukan binatang mungil itu pun bergerak menyingkir.
Hahaha. Hahaha. Entah berapa juta orang yang tertawa terpingkal
mendengar cerita-cerita itu. "/Wow/! Prabowo titisan Sulaiman! Titisan
Sulaiman telah datang! Hahaha!"
Syukurlah, saya tidak ikut tertawa. Saya mencium sejarah amat panjang
dari suara-suara tawa itu.
Tentu, kemampuan saya mencium aroma sejarah jauh di bawah kemampuan Pak
Prabowo dalam berbicara dengan hewan-hewan. Penciuman saya cuma berasal
dari pergulatan yang lumayan lama dalam memikirkan bangsa hewan. Ya,
memikirkan saja, bukan berinteraksi. Terus terang, saya bukan penyayang
hewan. Satu-satunya hewan yang saya sayangi hanyalah kambing, itu pun
jika si kambing muncul dalam format irisan kecil-kecil bersama lumuran
bumbu kecap.
***
Dalam bukunya /Sapiens/, bahkan kemudian disambung dan ditegaskan lagi
di /Homo Deus/, Yuval Harari pun bercerita tentang hewan-hewan. Nun
ribuan tahun silam, pada Era Berburu dan Mengumpul, manusia hidup
bersama alam, termasuk bersama hewan-hewan. Kita berbagi ruang hidup
bersama, berbagi sumber daya bersama, berkomunikasi satu sama lain
bersama-sama. Manusia mengambil apa pun dari alam seperlunya,
makan-minum secukupnya.
Kaum pemburu dan pengumpul ibarat musafir. Mereka senantiasa
berpindah-pindah, konsep menetap belum dikenal. Ketika sumber daya di
suatu wilayah tidak cukup lagi menarik hati, pergilah kaum pemburu itu.
Agar mudah bergerak, mereka tidak membawa beban banyak. Dalam kumpulan
manusia yang terus bergerak, koleksi properti jadi tak berguna,
penumpukan logistik yang terlalu berlebih pun sia-sia. Di alam pikiran
demikian, istilah hak milik pribadi tidak dikenal sama sekali.
Semuanya berubah drastis sejak domestikasi. Baik domestikasi tanaman,
maupun domestikasi hewan. Datanglah apa yang disebut dengan Revolusi
Pertanian. Kehidupan menetap dimulai. Rumah-rumah tinggal dibangun.
Properti dikumpulkan, hak milik ditegaskan, hama-hama pengganggu
kehidupan yang menetap itu dijauhkan.
Manusia membuat batas-batas area. Petak-petak tanah menjadi hak milik.
Apa yang sebelumnya dibagi sebagai ruang bersama, kini diprivatisasi
sebagai milik satu spesies saja. Seiring pengusiran hama-hama, interaksi
dengan hewan-hewan lain pun lenyap perlahan-lahan. Dengan ketiadaan
interaksi, jelas, lenyap pula kemampuan berkomunikasi.
Sudah 10.000 tahun berlalu sejak dimulainya Revolusi Pertanian. Sudah
sepuluh milenium sejak kita meninggalkan kemampuan berkomunikasi dengan
hewan-hewan. Kita sekarang tak lagi mengingat sedikit pun kemampuan itu,
dan tidak berkepentingan sedikit pun dengan itu. Antroposentrisme, alias
paham bahwa manusia merupakan pusat semesta, mencapai puncak
kejayaannya. Di deretan tangga hierarki peradaban, hewan-hewan selain
/Homo sapiens/ pun berposisi sebagai subordinat belaka.
Dalam kitab-kitab suci milik agama-agama, kemampuan berkomunikasi dengan
hewan masih dimunculkan meski cuma sedikit saja. Namun, secara umum,
antroposentrisme berkoalisi dengan agama-agama, lalu menetapkan
keyakinan bahwa hewan-hewan (juga apa pun yang ada di muka bumi)
diciptakan Tuhan semata-mata untuk mengabdi kepada kepentingan manusia.
Hasilnya, kita kemudian memang masih berinteraksi dengan hewan-hewan,
namun dalam porsi sangat minim dan berpola interaksi pengabdian.
Ayam-ayam dikembangbiakkan demi penumpukan laba, sapi-sapi digemukkan
demi industri, babi-babi diternakkan demi kejayaan korporasi. Kita
memang "berinteraksi", tapi sama sekali tidak berkomunikasi.
***
Maka, hari ini, berjuta orang beramai-ramai menertawakan Pak Prabowo.
Kelakuan berbicara dengan hewan bukan lagi cuma menjadi kemampuan yang
terlupakan secara komunal selama 10.000 tahun masa. Ia bahkan hanya
dianggap sebagai dongeng, atau lelucon tak berkelas. Berbicara dengan
hewan diposisikan tak lebih dari imajinasi orang yang kelebihan dosis
halusinasi.
Itu bagi orang yang tidak percaya bahwa Pak Prabowo bisa berbicara
dengan hewan. Bagi yang percaya, tetap saja posisi kemampuan itu
bukanlah kemampuan normal apa adanya. Ia dilihat sebagai kemampuan
supranatural. Kesaktian. Setara debus, santet, atau Ajian Jaran Goyang.
Sementara, satu hal ditempatkan dalam kategori supranatural karena ia
memang jauh melampaui apa-apa yang natural. Yang natural itu ya manusia
berkomunikasi dengan sesama manusia, begitu rumus bakunya. Jika ada
manusia bisa berkomunikasi dengan yang non-manusia, itu dianggap tidak
natural. Ia dianggap melampaui yang natural-natural, atau bahkan sama
sekali berada di luar koridor hal-hal natural. Ia supranatural.
Hal-hal yang dianggap supranatural ini bukan cuma urusan komunikasi
dengan hewan. Bahkan komunikasi dengan apa saja. Dengan pepohonan,
misalnya. Atau dengan gumpalan awan-awan.
Karenanya, saya pribadi sebagai produk zaman ini terkekeh-kekeh membaca
novel /Celestine Prophecy/-nya James Redfield. Penggambaran tentang para
petapa yang berbisik-bisik di hadapan sayur-mayur agar tetumbuhan itu
berkembang lebih cepat, lebih bahagia, dan lebih segar tak lebih dari
tutorial ilmu sihir di benak saya. Sama nasibnya dengan Hamzah, waktu
itu masih mahasiswa Filsafat UGM, yang dijadikan bahan gurauan karena
menjalankan profesi sebagai pawang hujan. Saat ditanya bagaimana dia
memindahkan awan-awan itu, Hamzah menjawab, "Ya diajak ngomong saja,
dirembuk baik-baik."
Semua itu benar-benar jadi lelucon untuk zaman ini. Semuanya
supranatural belaka. Karena masuk ranah supranatural, ia bukan natural.
Karena bukan wilayah natural, ia tidak dibicarakan oleh sains. Bukankah
sains memang hanya berurusan dengan alam, dengan hal-hal yang dianggap
natural?
Dan, karena tidak diakomodasi sains, semua itu serta-merta dipandang
sebagai tidak ilmiah. Karena tidak ilmiah, habislah mereka, sebab yang
muncul kemudian langsung berupa cap kuno, bodoh, primitif, dan
terbelakang. Ya, jelas primitif, sebab jauh dari nalar efektivitas
masyarakat modern.
Bukankah konyol sekali jika pada zaman ini kita masih menjalankan
hal-hal yang tidak efektif dan efisien? Untuk apa harus mengajak bicara
hewan-hewan, jika mereka cukup digiring, dimasukkan ke kandang-kandang,
untuk kemudian dipotong dan diperdagangkan? Kenapa harus bicara
baik-baik dengan awan-awan, jika mobil dan gedung-gedung besar sudah
sangat memadai sebagai solusi melawan guyuran air hujan? Buat apa harus
berembuk dengan pepohonan di rimba belantara berikut makhluk-makhluk
gaib penunggunya, jika tindakan yang paling menguntungkan secara cepat
adalah membawa /chainsaw/ raksasa, membabati batang-batang pohon itu
dengan paksa, lalu meleburnya jadi bubur /pulp/ untuk membuat buku-buku,
dan di buku-buku itu nantinya kita bisa membaca banyak teori tentang
pelestarian alam?
***
Persis dengan nasib banyak bahasa di dunia yang telah mati, bahasa yang
menghubungkan manusia dengan alam pun mati, bahkan jauh lebih dulu mati.
Saya sendiri tidak yakin-yakin amat dengan paparan Mas Yuval Harari.
Toh, dia juga cuma berspekulasi. Meski demikian, melihat pawang singa
dan macan masih eksis dan digaji rutin di Bonbin Gembiraloka, melihat
banyak orang begitu lekat secara emosional dengan anjing-anjing piaraan
mereka, mau tak mau saya membuka diri kepada kemungkinan-kemungkinan itu.
Ya, misalnya kemungkinan bahwa Pak Prabowo memang bisa berbicara dengan
semut-semut. Kenapa tidak? Saya toh juga berencana akan berbicara
baik-baik, dari hati ke hati, dengan kelinci-kelinci piaraan anak saya.
Saya akan bilang kepada mereka bahwa menggigiti kabel internet dan tali
sepatu hingga putus mungkin memang asyik dan menyenangkan, tapi buat
bangsa manusia lumayan menyebalkan.
Yang pasti, ada satu pola yang akan terus berulang dalam mata rantai
sejarah. Pada suatu masa, kita punya suatu kemampuan tertentu. Seiring
proses perjalanan waktu, kita akan membuang kemampuan itu, ribuan tahun
kemudian menertawakannya, sembari menyangkal bahwa ia pernah ada.
Dua ribu tahun dari sekarang, mungkin kita akan menganggap aktivitas
bertemu tatap muka secara fisik dengan para sahabat sebagai sesuatu yang
primitif, bahkan supranatural. "Wah, Bambang kemarin ketemu sama Eko!
Betul-betul ketemu fisik! Sakti sekali dia!"
Bahkan tiga ribu tahun dari sekarang, bukan tidak mungkin kita akan
melihat coblosan presiden sebagai satu mekanisme yang berada jauh di
luar nalar manusia waras. Sangat tidak logis, sangat tidak ilmiah, dan
dunia akademis pun tidak sudi membicarakannya. Situasinya akan persis
sebagaimana hari ini kita bicara tentang genderuwo, atau tentang
kemampuan mengobrol dengan margasatwa.
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)
*
**