"Cogito ergo sum," kata Descartes. "Aku berpikir maka aku ada," gumam teman 
sebangku menghafal terjemahannya. Kupikir biarlah dia mengingat-ingat 
keberadaannya di atas dunia. 
Itu puluhan tahun lalu di bangku sekolah. Tahun ini, 2019, sekumpulan anak 
sekolah berbaju hitam-hitam kelihatan kasat mata di jalanan menyusup ke acara 
Mayday. Keberadaannya nyata anarkis dan betul-betul mencuri perhatian di tengah 
riuhnya kecurangan pemilu yang tak terbantahkan sampai panitia, KPU, terpaksa 
mondar-mandir minta maaf.
Cilakanya, semakin baju hitam yang diperkenalkan polisi sebagai pengikut 
Anarcho syndicalist itu menyedot pikiran, kok yang ada malah harga beras, cabe, 
bawang, listrik dll... Nyata ada perbedaan harga lagi. Naik semua.
Lalu, ke mana perginya si baju hitam dari pikiran? Apa keberadaannya di dunia 
nyata juga bakal lenyap begitu saja seperti angka '0' (nol) yang oleh KPU 
disamakan dengan "tidak ada"? Senasib dengan suara golput/abstain yang tidak 
ikut dihitung bahkan dianggap bukan warganegara RI?
Wah, ke mana perginya akal sehat? Kenapa 'ada' dan 'tiada' di dalam pikiran 
maupun di dunia nyata ditentukan penguasa? Adakah pikiran di kekuasaan itu? 
Atau mereka pikir mereka sudah berpikir...?
Hm,  lama-lama perlu pemilu nih untuk menentukan ada-tidaknya otak... Dengan 2 
surat suara. Satu untuk memilih ada-tidaknya otak dalam pikiran, satu lagi 
untuk memilih ada-tidaknya otak di dunia nyata 😁😁😁
Selamat Hari Pendidikan Nasional
2 Mei 2019
....
https://m.detik.com/news/berita/d-4532456/polri-usut-massa-berpakaian-hitam-yang-susupi-aksi-hari-buruh



Kirim email ke