https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi
Kamis 02 Mei 2019, 16:08 WIB
Kolom
Generasi yang Tak Boleh Miskin Imajinasi
Muhammad Nur Alam Tejo - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi#>
Muhammad Nur Alam Tejo
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/generasi-yang-tak-boleh-miskin-imajinasi#>
Generasi yang Tak Boleh Miskin Imajinasi Foto: BBC World
*Jakarta* -
Agaknya tulisan Diwan Masnawi perihal /Perang dan Damai di Masa Kini
<https://news.detik.com/kolom/d-4533269/d-4522727/perang-dan-damai-di-masa-kini>/
terlalu berlebihan, jika bukan sebuah paranoia. Di balik kalimat prosaik
nan bersayap yang dituliskannya, ada beberapa asumsi yang disimpulkan
akibat kemiskinan imajinasi yang terbentuk secara laten dari angka
statistik yang dingin. Walhasil muncul tendensi mengkambinghitamkan
sosial media sebagai sumber kekerasan mental yang tak kalah mengerikan
ketimbang kekerasan fisik.
Tulisan ini merupakan tanggapan atas kegegabahan itu dan memperlihatkan
bahwasanya ada banyak alternatif yang dapat ditawarkan untuk membingkai
sosial media daripada sekadar mengkambinghitamkannya seolah ia adalah
"makhluk yang mengerikan".
*Miskinnya Imajinasi
*
Saya sepakat bahwa pada era ini perdamaian sedang dalam performa
terbaiknya. Para elite politik dan jenderal-jenderal kita lebih getol
mengurusi "kue ekonomi" alih-alih repot-repot kokang senjata dengan
persentase keuntungan yang tak seberapa. Pun saya juga sepakat bahwa
pada zaman yang serba cepat ini kekerasan mental adalah hal yang patut
untuk ditangani secara serius. Namun, saya mencoba berjarak dari tulisan
tersebut.
Ada banyak keluh-kesah dari tulisan yang dibangun oleh Diwan. Seolah ia
ingin mengkontekstualisasikan pandangan Jean Paul Sartre saat ia
berkata, "/Hell is other people/." Saat itu mungkin Sartre tak
membayangkan situasi yang terjadi puluhan tahun mendatang seperti
pengalaman personal Diwan /gegoleran/ sembari memegang hape dan
mengalami krisis eksistensial akibat terlalu sering ber-/solilokui/.
Media sosial belum ada saat Sartre hidup. Sekarang, hampir semua orang
tahu betapa /toxic/-nya perkataan orang lain, tidak peduli betapa
indahnya tampilan Instagram mereka. Sialnya kebanyakan orang, termasuk
Diwan, tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap maraknya ekspansi
media sosial selain menjadikannya kambing hitam. Media sosial seolah
telah menjadi "vampir pengisap" kebermaknaan eksistensi mereka dan terus
dibicarakan dengan cara yang sedemikian pesimistis dan kolot macam itu.
Sebagai sesuatu yang baru, media sosial seolah selalu berada di luar
kendali sehingga terkesan "mengerikan".
Paranoia tersebut adalah bukti dari miskinnya imajinasi. Bukankah narasi
yang dipaparkan oleh Diwan merupakan narasi lama ketika kita belum punya
pegangan kokoh tentang cara memandang dunia /online/ di luar narasi rasa
takut, kecanduan, dan sesuatu yang berlebihan? Di kolom-kolom berita
nasional dan televisi pun banyak memberitakan bahwa medsoslah yang
bertanggung jawab atas gangguan kesehatan mental seseorang. Bahkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan kecanduan
bermedsos sebagai salah satu gangguan kesehatan mental.
Sebagai generasi yang lahir di pengujung milenium kedua, saya menolak
anggapan bahwa sosial media adalah salah satu palagan yang mengerikan
bagi generasi ini. Anggapan media sosial sebagai salah satu sumber
lahirnya kekerasan mental merupakan tuduhan serius atas ketakutan yang
berlebihan terhadap sesuatu belum sepenuhnya dipahami dengan baik.
Secara ilmiah memang banyak riset yang menunjukkan bahwa media sosial
ikut bertanggung jawab atas maraknya kasus bunuh diri dan segala bentuk
penyakit mental lainnya. Namun, bukan berarti media sosial secara
esensial bersalah atas segala kegilaan zaman pada masa transisi itu.
Seolah-olah kita tutup mata bahwa ada banyak hal yang telah diberikan
oleh sosial media sebagai katalis-sosial perubahan zaman.
Dalam tulisannya Diwan sendiri mengakui bahwa "perpindahan dari
kehidupan yang nyata di sini, ke dunia maya...menimbulkan
rintang-rintang kesulitan adaptasi, kalau kita memang tidak bisa
mengelak dari digitalisasi, dan mau tidak mau /taken for granted/." Apa
yang menjadi keresahan Diwan telah dilampaui dengan baik oleh Franco
Bifo Berardi. Filsuf asal Italia itu dalam bukunya yang berjudul
/Futurability: The Age of Impotence and the Horizon of Possibility/
(2017) telah memperkenalkan konsep /futurabilty/. Konsep yang berupaya
membentuk kesadaran aktif yang radikal guna melampaui keputusasaan, dan
kemampuan membayangkan segala yang mungkin di luar parameter yang
ada/terberi begitu saja pada saat ini.
Misalnya saja kita membayangkan keruwetan Pilpres 2019, hajatan besar,
yang menyedot perhatian dan emosi warganet. Kekesalan itu timbul dari
parameter zaman yang telah berubah. Politik, bagi Berardi, telah
memasuki zaman impotensi karena alasan struktural dan sistemik. Bukan
karena politisi terlalu lemah atau bodoh. Temporalitas politik, yang
mengisyaratkan kemampuan mengambil keputusan secara berdasarkan
pemikiran kritis, telah dikalahkan oleh temporalitas ruang informasi.
Arus informasi yang sedemikian cepat, terlalu rumit untuk pemahaman
politik, kritik politik, dan keputusan politik. Semacam ada keterpatahan
yang menimbulkan ketidaksesuaian proses pengambilan keputusan politik.
Lalu apa yang terjadi? Kita menjadi sedemikian muak dengan apa yang ada
dan pada akhirnya menjadikan media sosial kambing hitam atas kekesalan
kita, seperti yang dilakukan oleh Diwan.
Di persimpangan jalan, yang seolah telah jadi palagan, penting bagi
generasi muda kita saat ini untuk tidak kehilangan kemampuan
imajinatifnya. Saya percaya bahwa selalu ada alternatif bagi setiap
permasalahan yang muncul. Selalu ada alternatif lain bagaimana
mengaplikasikan pengetahuan, akan selalu ada potensi baru berbeda di
tiap harinya. Media sosial pun selalu demikian.
Saya berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi kiamat yang kita
ciptakan sendiri saat ini adalah transformasi mendalam segala bentuk
teknologi. Bagaimana menempatkan teknologi untuk membebaskan manusia
dari jeratan kerja yang membosankan, memberikan orang kemungkinan untuk
bertahan hidup lebih lama, memberikan penghasilan dasar, dan memberikan
masing-masing individu hak untuk mewujudkan segala potensi yang dimilikinya.
*Lebih Realistis
*
Diwan membayangkan kekerasan yang paling menyebar dan mengerikan adalah
kekerasan mental yang disebabkan oleh misal tekanan sosial,
keterasingan, kesulitan ekonomi, atau pengaruh buruk media sosial.
Namun, bagi saya kekerasan fisik itu juga belum sepenuhnya hilang,
bahkan keduanya malah semakin intens berkolaborasi.
Kegilaan yang menyebar dalam masyarakat kontemporer disebabkan oleh
pemisahan otak manusia dari tubuh. Otak digital saling bertukar,
penafsiran gagasan semakin banyak, tetapi pola komunikasi yang
melingkupi tubuh semakin sedikit. Walhasil, kita berusaha mencari jalan
pintas tercepat bagi semua permasalahan ini, yaitu bergabung dengan
gerakan ekstremis atau bunuh diri. Jika sudah demikian kita tidak lagi
bisa memandang internet dan segala bentuk turunannya secara esensialis.
Media sosial sudah didesain sedemikian rupa untuk memungkinkan seseorang
tersugesti untuk terus berbelanja, berjudi, atau menonton video lucu.
Hal ini menimbulkan perdebatan di kalangan para psikolog mutakhir untuk
mengklasifikasikan perihal klasifikasi kecanduan. Menariknya, langkah
bijak pertama untuk mengatasi efek negatif media sosial adalah mengakui
ketidakberdayaan manusia mengatasi masalah secara individual, sebab
individu seringkali membuat membuat pilihan yang buruk, bahkan tak masuk
akal, untuk hidupnya sendiri.
Memang terkesan ganjil, namun nyatanya perubahan yang telah terjadi
secara besar-besaran inilah yang mempengaruhi cara hidup bermasyarakat
kita hari ini. Permainan sentimen identitas dalam politik kontemporer
telah membangkitkan populisme kanan, neo-nazi, dan kebangkitan kembali
rasisme akibat persoalan imigran. Distraksi sudah tidak lagi dianggap
masalah personal, melainkan juga masalah politis. Begitu juga polarisasi
yang muncul akibat minimnya nuansa, kemarahan masyarakat, dan
berkurangnya dialog menjadi sekadar ocehan monolog di sosial media.
Pendekatan yang lebih realistis terhadap internet dan media sosial
diperlukan di sini. Pendekatan yang lebih menonjolkan kewaspadaan
terhadap dunia digital dibandingkan ketakutan tidak berdasar atas apa
yang baru dan belum bisa dikontrol. Kita juga harus mengakui
ketidakpahaman kita atas situasi yang berkembang sedemikian cepat.
Sebab, hanya dengan cara itulah kita dapat berpikir sejenak dan mencari
jalan baru sebagai alternatif atas apa yang telah ada begitu saja.
*Muhammad Nur Alam Tejo* /mahasiswa Filsafat UGM, editor Lingkar Studi
Filsafat Cogito
/
//
//
*(mmu/mmu)
*
**