https://news.detik.com/kolom/d-4534583/jaka-tingkir-gus-dur-dan-politik-kita-hari-ini
Jumat 03 Mei 2019, 14:00 WIB
Kolom
Jaka Tingkir, Gus Dur, dan Politik Kita Hari
Ini
Sarjoko Subejo - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/jejakpelamun>
Sarjoko Subejo <https://connect.detik.com/dashboard/public/jejakpelamun>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4534583/jaka-tingkir-gus-dur-dan-politik-kita-hari-ini#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4534583/jaka-tingkir-gus-dur-dan-politik-kita-hari-ini#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4534583/jaka-tingkir-gus-dur-dan-politik-kita-hari-ini#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4534583/jaka-tingkir-gus-dur-dan-politik-kita-hari-ini#>
Jaka Tingkir, Gus Dur, dan Politik Kita Hari Ini Foto: Rifkianto Nugroho
*Jakarta* -
Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir si Raja Jawa menjanjikan hadiah
kepada siapa saja yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang, adipati
Jipang Panolan yang mengklaim paling berhak atas tahta Demak Bintara.
Bagi Arya Penangsang, Jaka Tingkir yang "hanya" menantu sultan Trenggana
tidak memiliki hak untuk mewarisi tahta. Hadiah yang dijanjikan itu
berupa sebuah kadipaten bernama Pati di pesisir utara Jawa dan hutan
Mentaok di pesisir selatan.
Arya Penangsang menantang duel sang penguasa Jawa itu di sebuah tempat
di seberang sungai Bengawan Solo. Pada hari yang ditentukan, Arya
Penangsang sudah menunggu. Namun ia merasa dilecehkan karena Hadiwijaya
tidak datang. Sultan Jawa itu justru mengirim anak angkatnya bernama
Sutawijaya yang masih sangat muda. Terbakar emosi, Arya Penangsang
melawan bocah itu secara membabi buta. Dalam sebuah momen, Sutawijaya
berhasil melukai Arya Penangsang hingga isi perutnya keluar dan adipati
Jipang itu tewas.
Sutawijaya memilih hutan Mentaok atas saran dari ayah kandungnya, Ki
Pemanahan. Di wilayah itu, Sutawijaya membangun kerajaan yang semakin
hari semakin besar. Kerajaan yang diberi nama Mataram Islam itu kemudian
menyerang kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Jaka Tingkir dan mendapat
kemenangan. Pusat kerajaan Islam berpindah ke wilayah pesisir selatan.
Sutawijaya kemudian memberi gelar dirinya sebagai Panembahan Senopati
alias Hamengkubuwana I.
Pasca kekalahan yang mengecewakan, Jaka Tingkir pergi ke Madura, tempat
asal ibunya, untuk membangun kekuatan guna melakukan balas dendam kepada
Sutawijaya. Setelah merasa cukup, Jaka Tingkir berangkat dengan kekuatan
besar yang siap menggempur pusat kerajaan Islam Mataram. Abdurrahman
Wahid atau Gus Dur pernah mengulas kisah ini dalam sebuah artikel di
buku /Membaca Sejarah Nusantara/ (LKiS, 2010).
Alkisah, di Lamongan Jaka Tingkir bertemu dengan seorang ulama yang
sangat dihormatinya. Ia diberi nasihat untuk mengurungkan niatnya
menyerang Mataram. Jika alasannya adalah kemaslahatan rakyat, ada banyak
cara yang bisa dilakukan tanpa harus menjadi raja. Nasihat itu didengar
oleh Jaka Tingkir. Ia memutuskan untuk menetap di desa Paciran dan
membangun kemandirian masyarakat di akar rumput melalui basis pesantren.
Oleh Gus Dur, apa yang dilakukan Jaka Tingkir disebut sebagai contoh
kerja /non-governmental organization/ (NGO) alias lembaga swadaya
masyarakat (LSM). Jaka Tingkir telah mencontohkan kepada generasi
penerus bahwa rakyat bisa memiliki peran kepada rakyat lain tanpa
melalui jalur politik kekuasaan.
Ratusan tahun kemudian, peristiwa politik memilukan terjadi di
Indonesia. Gus Dur yang telah menjadi presiden keempat dilengserkan oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melalui sebuah sidang istimewa.
Dalam situasi yang kian memanas, para pendukung Gus Dur bersiap datang
ke ibu kota untuk membela. Banyak cerita di mana para pendukungnya
menyiapkan skenario berani mati demi membela Gus Dur, yang konon masih
memiliki hubungan darah dengan Jaka Tingkir.
Namun Gus Dur menahan para pendukungnya demi mencegah terjadinya konflik
horizontal. Baginya, kekuasaan tidak perlu dipertahankan dengan tetesan
darah. MPR yang dipimpin Amien Rais kemudian mengangkat Megawati sebagai
presiden kelima.
Setelah tidak menjabat presiden, Gus Dur kembali ke kehidupan lamanya
yaitu mendampingi masyarakat di akar rumput. Gus Dur tetap membela
kepentingan rakyat dengan cara yang hampir sama dengan apa yang
dilakukan oleh leluhurnya ratusan tahun silam itu. Sebagai orang yang
tidak berada di lingkaran kekuasaan, Gus Dur tidak pula menjadikan
dirinya sebagai oposisi pemerintahan yang ada. Ia menjadi penyeimbang
sembari terus melakukan pendampingan masyarakat yang membutuhkan.
Sikap negarawan seperti yang ditunjukkan oleh Jaka Tingkir dan Gus Dur
sangat penting untuk diteladani oleh para elite politik kita hari ini.
Di tengah suhu politik yang memanas, peran elite untuk mendinginkan
suasana sangat dibutuhkan. Sudah sangat lama rakyat dibenturkan demi
hajatan politik kekuasaan. Setelah pemilihan selesai pun belum ada
tanda-tanda situasi politik mereda.
Parahnya, para elite kita bukanya menjadi juru damai, mereka justru
memanfaatkan masyarakat untuk terus bertikai demi kekuasaan yang mereka
perjuangkan. Berbagai /statement/ soal kecurangan, klaim kemenangan,
delegitimasi pihak penyelenggara, hoaks, dan berbagai pernyataan negatif
yang menjurus pada perpecahan terus diproduksi setiap hari. Rakyat tidak
diberi ruang untuk mendapatkan pendidikan politik yang baik dan
membangun. Rakyat bahkan diajak untuk berpolitik penuh curiga.
Jika situasi ini tidak berubah, maka demokrasi kita akan berjalan di
tempat atau bahkan mundur jauh ke belakang. Cita-cita kemandirian
masyarakat tidak lagi menjadi prioritas karena rakyat terus-terusan
dijadikan sebagai objek perebutan kekuasaan, alih-alih menjadi agen
kemajuan.
Sikap mendahulukan kepentingan rakyat dengan mengesampingkan dendam
pribadi tidak dimiliki oleh para elite politik kita. Bahkan,
kecenderungannya persoalan pribadi sebisa mungkin jadi pembahasan di
akar rumput agar pertikaian tak kunjung usai. Mental politik /devide et
impera/ alias adu domba masyarakat oleh sebagian elite politik tentu
sangat membahayakan iklim demokrasi di negara multikultural seperti
Indonesia.
*Nasihat Ulama
*
Kisah Jaka Tingkir mungkin akan berbeda jika di tengah perjalanan menuju
Mataram ia bertemu dengan orang yang mengobarkan kebencian dan
memintanya untuk menghabisi kerajaan Mataram Islam. Beruntung karena
Jaka Tingkir bertemu dengan seorang ulama yang mengutamakan nilai-nilai
kebaikan sehingga mampu meredam gejolak amarah dan mematikan kobaran api
balas dendam. Politik memaafkan yang diajarkan oleh ulama tersebut
nyatanya mampu mengangkat derajat Jaka Tingkir.
Begitu juga sikap yang diambil oleh Gus Dur. Meski pun ia dilengserkan
dengan cara yang bertentangan dengan konstitusi, ia sama sekali tidak
menaruh dendam kepada lawan politiknya. Di dalam sebuah wawancara
stasiun TV swasta, Gus Dur mengutarakan bahwa dirinya sudah memaafkan
dan terus berhubungan baik dengan siapa saja, termasuk Amien Rais dan
Megawati yang paling bertanggung jawab atas pelengseran dirinya.
Politik kita hari ini membutuhkan nasihat para ulama yang menenteramkan
dan kedewasaan berpolitik sebagaimana kisah Jaka Tingkir dan Gus Dur di
atas. Tetapi kita memiliki beberapa tantangan yang tidak mudah. Pertama,
banyak orang kini mengklaim dirinya sebagai ulama. Pada masa lalu,
orang-orang yang tinggi ilmunya enggan disebut sebagai ulama. Mereka
lebih memilih disebut sebagai /al-faqir lil 'ilmi/ atau orang yang masih
membutuhkan banyak belajar. Sementara hari ini, orang bisa dengan mudah
mengklaim dirinya sebagai ulama meski tidak memiliki kapasitas keilmuan
yang mumpuni. Ulama jenis ini menjadi pelecut kebencian, alih-alih
meredamnya.
Kedua, sikap elite politik kita yang kurang dewasa dalam berdemokrasi.
Rakyat yang semestinya menjadi pihak dampingan malah dijadikan
tunggangan untuk berbagai kepentingan. Para elite tidak segan-segan
mengerahkan rakyat hingga membenturkan satu sama lain demi tujuan-tujuan
kekuasaan. Karenanya kita tentu berharap agar para ulama bisa menjadi
pembisik yang baik bagi pemimpin dan para elite politik kita. Kita juga
berharap para elite politik kita bisa bersikap sebagai negarawan sejati.
Bahwa memperjuangkan rakyat tidak hanya bisa dilakukan melalui jalur
politik kekuasaan. Berhentilah menyulut pertikaian dengan cara
mengatasnamakan rakyat.
/*Sarjoko* Gusdurian, tinggal di Yogyakarta
/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*