Tepat begitulah, si Nesare bermaksud mengatakan kemenangan Jokowi bisa terjadi karena garis keras tidak lagi mendukung Prabowo. Si Chan kelihatannya mengasumsikan FPI itulah garis keras. Menurut survei LSI sekitar 42-47% FPI mendukung Jokowi-Ma'ruf, dus hampir separuh. Ditambah yg lain2 bisa jadi garis keras yg mendukung Jokowi-Ma'ruf lebih banyak daripada yg mendukung Prabowo, atau setidaknya hampir sama. Pada kenyataannya kedua kelompok saling berebut dan memakan fuyonghai itu, cuman yang satu munafik.
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Itu ibarat seloyang fuyonghai dibagi 2. Anda dapat 62%, saya 37%, dan 1% remah-remah di piring. Logikanya, yang 1% ini tetap saja fuyonghai. Artinya, Anda dan saya menyantap menu yang sama. Taruhlah kita sepakat bayar sendiri-sendiri, dan kalau saya terlihat lebih menang eh lebih kenyang lantaran di bill tertulis saya harus bayar yang 62%, ya si kasir atau pemilik warung tinggal bilang, "oh itu kesalahan entry data"... Gitu logika kenapa saya kelihatan menang eh kenyang. ha he hoh.... --- jonathangoeij@... wrote:coba anda artikan tulisan Nesare itu kutipan:Kalau yg garis keras pilih Prabowo yg mengakomodasikan kelompok islam garis keras masih tetap memilih Prabowo, gimana logikanya Jokowi bisa menang? --- djiekh@... wrote : Lha kan anda yang kutip tulisannya bung Nesare, tetapi bagaimana kok bisa anda sampai ke kesimpulan :jokowi bisa menang karena dipilih garis keras. Pada tanggal Kam, 2 Mei 2019 pukul 23.51 Jonathan Goeij menulis: rasanya kok bukan anda yg ngomong dibawah On Thursday, May 2, 2019, 2:47:58 PM PDT, kh djie wrote: Bagaimana penjelasannya kok sampai bisa menyimpulkan begitu ? Pada tanggal Kam, 2 Mei 2019 pukul 17.19 Jonathan Goeij menulis: Saya cuman menyimpulkan tulisan anda yg implied Jokowi bisa menang karena dipilih garis keras. kutipan:Kalau yg garis keras pilih Prabowo yg mengakomodasikan kelompok islam garis keras masih tetap memilih Prabowo, gimana logikanya Jokowi bisa menang? _
