Sudah 2 minggu siaran ILC menghilang.

-

Pembungkaman Media: Bang Karni Ilyas Semoga Tetap Sehat dan Waras

11 jam ago

Oleh : Hersubeno Arief.

“Mas mulai hari ini kami tidak boleh menayangkan berita-berita kecurangan. 
Selesai kita mas,” ujar seorang produser di TV One melalui jaringan pribadi WA 
dua pekan lalu.

Seorang redaktur pelaksana media online juga menunjukkan pesan dari seorang 
petinggi TKN. “Tolong untuk berita kecurangan dan berbagai deklarasi dukungan 
jangan ditayangkan.”

Pesan-pesan tersebut melengkapi berita di balik layar, latar belakang cutinya 
Karni Ilyas, pembawa acara program talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV 
One. Karni mengumumkannya melalui cuitan di akun twitternya Senin (22/4).

@karniilyas : Dear Pencinta ILC: Selama hampir setahun ILC sudah bekerja 
memberikan informasi, pendidikan publik dan ikut mengawal dari kampanye sampai 
pemilu. Karena itu mulai Senin besok, saya memutuskan untuk mengambil cuti. 
Mohon maaf dan sampai ketemu ILC yad

Bang KI—begitu dia dipanggil di kalangan dekat— bukan hanya cuti selama dua 
pekan seperti umumnya para karyawan. Ternyata dia memutuskan cuti panjang.

Tak jelas sampai kapan tayangan yang berkali-kali mendapat penghargaan 
Panasonic Award itu akan kembali mengudara. Jumat (3/4) Bang KI kembali mencuit 
Mohon maaf saya dan ILC lagi cuti panjang. Sampai ketemu di ILC mendatang.

Cuitan KI menjawab status guru besar Universitas Indonesia Prof Ronnie Higuchi 
Rusli yang menantang para pemilik lembaga survei untuk buka-bukaan metode quick 
count di program ILC.

Cuti panjang Bang KI ini mengundang banyak spekulasi. Mantan Sekretaris 
Kementerian BUMN M Said Didu termasuk yang meyakini adanya tekanan yang sangat 
kuat sehingga Bang KI berhenti siaran.

@msaid_didu : Bagi yg berakal sehat pasti meyakini bhw hanya “bom besar” atau 
“tekanan kuat” yg bisa mematikan acara TV terpopuler @ILCtv1 dan “memaksa” 
presenter sekaliber @karniilyas untuk “cuti”

Didu membalas status Bang KI sebelumnya : Sekali lagi mohon maaf untuk yang 
kecewa ILC cuti. Saya pernah mengatakan, “Tidak semua yg saya tahu bisa saya 
katakan. Tidak semua yg saya alami bisa saya ceritakan.”

Bahwa Bang KI mendapat tekanan yang sangat kuat tidak perlu diragukan. Tapi 
kemudian dia memilih menepi dan mengambil cuti panjang, pasti bukan hanya 
karena tekanan secara pribadi kepadanya.

ILC adalah bayi yang diasuh dan dibesarkan oleh Bang KI sejak masih menjadi 
pemimpin redaksi majalah Forum Keadilan. Acara tersebut tayang pertama kali di 
SCTV pada bulan Mei 1998 dengan nama Jakarta Lawyers Club (JLC).

Acara ini mengikuti kemanapun Bang KI mengembara. Ketika dia bergabung menjadi 
pemimpin redaksi SCTV, acara ini tayang secara rutin. Begitu pula ketika dia 
pindah menjadi pemimpin redaksi ANTV.

JLC yang kemudian ganti nama menjadi ILC mencapai puncak kepopulerannya ketika 
Bang KI diminta keluarga Bakrie membenahi dan mengubah Lativi menjadi stasiun 
berita TV One.

Sebagai wartawan, Bang KI bukan jenis wartawan yang mudah tunduk pada tekanan. 
“Saya ini orangnya sombong dan keras kepala,” katanya suatu kali. Sebuah sikap 
yang melekat pada beberapa orang wartawan sukses.

Seperti wartawan senior lainnya, dia juga kenyang dengan kerasnya tekanan 
terhadap media pada masa rezim Orde Baru. Namun dia tetap bersuara lantang.

Jangan lupa dia adalah orang Minang. Di kalangan orang Minang ada sebuah 
pepatah “Takuruang nak dilua, taimpik nak diateh.” Terkurung hendak di luar, 
terhimpit hendak ke atas.

Dalam konotasi yang positif ujaran itu mengajarkan sebuah sikap yang ulet, 
tidak mudah putus asa. Meskipun terhimpit, kita harus mencari celah dan keluar 
dari persoalan yang sedang dihadapi. Pepatah petitih inilah salah satu kunci 
keuletan dan kesuksesan urang awak termasuk Bang KI.

Sudah cukup lama TV One dan terutama ILC menjadi sasaran kemarahan dan tekanan 
dari penguasa. Ketika semua media massa, terutama televisi dapat ditundukkan 
dan melakukan kompromi-kompromi, TV One tetap mencoba berselancar di tengah 
karang.

Aburizal Bakrie kepala keluarga klan Bakri pasang badan ketika berlangsung 
hiruk pikuk Aksi Bela Islam (ABI) menjelang Pilkada DKI 2017. ILC tetap tayang 
kendati mendapat tekanan. Sebagai balasan, pemerintah memotong sejumlah bisnis 
keluarga Bakrie di sektor migas. Beberapa kontrak proyek bernilai trilyunan 
dibatalkan.

ILC pernah mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) setelah 
menayangkan episode “Setelah Ahok Minta Maaf.” Pada rentang November 2016-Mei 
2017 ILC mengalami beberapa kali tidak tayang.

Soal kecurangan Pilpres

Cuti panjangnya Bang KI tampaknya sangat erat kaitannya dengan massifnya 
pemberitaan kecurangan seputar pilpres. Seperti media lainnya TV One berhenti 
menayangkan berita kecurangan pilpres. Mereka juga tidak menayangkan berbagai 
kegiatan elemen masyarakat yang melakukan deklarasi maupun protes atas 
kecurangan tersebut.

Sejumlah wartawan bercerita, mobil Satelit (SNG) TV One terpaksa dibongkar dan 
ditarik pulang dari arena Ijtima Ulama III di Hotel Lor In Sentul Rabu (1/5). 
Tarik ulur menghadapi tekanan itu terlihat dari kebijakan redaksi.

Sebelumnya mereka boleh melakukan siaran langsung ( live ) dan menayangkan 
beritanya. Namun kemudian hanya boleh menayangkan berita, tapi tidak boleh 
live. “Tiba-tiba tidak boleh menayangkan kedua-duanya. Padahal sudah kami 
proyeksikan,” ujar seorang kru TV One.

Bersamaan dengan menghilangnya berita kecurangan, TV One mulai menayangkan 
hasil penghitungan suara Situng KPU. Aplikasi Situng itu ditayangkan di semua 
stasiun televisi dan media online. Ribuan protes dari masyarakat tak digubris.

Sejumlah akademisi, penggiat dan relawan IT menemukan bukti adanya puluhan ribu 
entry data pada Situng KPU. Namun KPU bersama media seakan tidak peduli. 
“Anjing menggonggong kafilah berlalu.”

Tak salah bila banyak yang meyakini —seperti halnya quick count, —publikasi 
Situng KPU melalui media adalah upaya cuci otak publik yang sangat terencana. 
Mereka menjalankan permainan psikologi mind games. Memanipulasi dan 
mengintimidasi pikiran publik bahwa Jokowi sudah memenangkan Pilpres.

Semoga Bang KI tetap sehat dan tetap berperan menjaga akal waras publik.

Menepi bukan berarti menyerah. Selamat cuti dan beristirahat sejenak Bang. 
Jangan terlalu lama keasyikan menjadi orang “dungu”! 

end






Kirim email ke