https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801
Minggu 05 Mei 2019, 12:50 WIB
Jeda
Di Depan Mahkamah "Netizen"
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4536617/di-depan-mahkamah-netizen?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.170392614.721803491.1557077801-513997059.1557077801#>
Di Depan Mahkamah Netizen Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - /Netizen/, siapa kamu -siapa dia, siapakah mereka?
Kami duduk di dua bangku panjang yang berhadapan, berseberangan meja di
The People's Cafe di Pasaraya Blok M pada suatu sore tanggal merah,
menyeruput kopi, menikmati es goyobot, nyemil jamur goreng dalam suasana
santai tapi serius oleh pertanyaan yang kami lontarkan dalam obrolan
untuk dibahas bersama. Makhluk apakah /netizen/ itu? Di mana sehari-hari
mereka berada, menjalani kehidupan macam apa, dengan pergaulan sosial
yang bagaimana?
Kami berdiskusi sambil tertawa-tawa. Membayangkan mereka, membuat
analisis-analisis untuk berusaha memahaminya, mencoba-coba merumuskannya
dalam satu kalimat ringkas yang memudahkan kami untuk bersama-sama
mengimajinasikannya, dan menerimanya dengan kebulatan gambaran,
pandangan, dan gagasan. Satu per satu kami melontarkan pendapat,
bertukar pikiran, dan saling menyahuti untuk menambah dan melengkapi.
Semua itu bermula dari salah satu teman kami, Candra Aditya, yang baru
saja menjadi pergunjingan di jagad maya, lalu mengisi laman-laman
pemberitaan sejumlah media /online/ gara-gara aksinya memamerkan kamar
kosnya. Ia belum lama pindah ke sebuah tempat kos yang baru di Pondok
Pinang, dan merenovasi kamar tersebut hingga terlihat cantik, setidaknya
begitulah yang tampak di foto yang kemudian menyebar itu.
Tentu saja, sebelumnya kami sudah sering mendengar ungkapan yang
populer, berbunyi "/netizen/ yang maha benar", sebuah frasa yang bernada
"menyindir" dan "mengejek". Faktanya, atau makna "sebenarnya", ungkapan
itu lebih ingin mengatakan bahwa /netizen/, siapapun dia atau mereka,
adalah orang atau sekelompok orang yang "tak bisa salah" dalam
konotasinya yang negatif. Namun, kami baru benar-benar memikirkan subjek
dengan sebutan "/netizen/" itu setelah teman kami menjadi /viral/
gara-gara kamar kosnya itu.
Kami sudah lama mengenalnya, dan tentu saja ikut bangga bahwa teman kami
akhirnya menjadi "seleb" di dunia digital, walaupun sebenarnya ia
bukanlah orang yang asing-asing amat di ranah jagad media sosial.
Tulisan-tulisan /review/ filmnya selalu /viral/. Ia sebenarnya seorang
lulusan sekolah film yang tengah merintis karier dengan memproduksi
film-film pendek dan /webseries/. Ia juga selalu mempromosikan
karya-karyanya itu, yang telah merambah berbagai festival dan ajang
pemutaran film.
Tapi, foto kamar kosnyalah yang kemudian justru mengantarkannya menjadi
sumber kehebohan. Sebagai teman yang mengenalnya sejak lama, sekali
lagi, tentu kami ikut bangga. Salah satu di antara kami sejak awal
langsung menasihatinya, "Tetap /humble/ ya, Can!" Saya pun tak
ketinggalan, menyarankannya untuk segera membuka jasa dekorasi dan
renovasi kamar kos, sebagaimana Marie Kondo membuka jasa beres-beres
rumah, dan kemudian mendunia --bukunya laris, punya tayangan di /Netflix./
Maka, sebelum ketenarannya makin tak terbendung, kami pun berinisiatif
untuk mengajaknya bertemu. Semacam jumpa fans. Kami ingin tahu, apa yang
dirasakannya setelah popularitasnya melambung tinggi. Bagaimana rasanya
dibicarakan, dikomentari, dinilai, dan disalahpahami oleh orang-orang
yang tidak dia kenal di media sosial, dan menjadi berita di media massa.
Selama beberapa hari, selalu ada media atau akun medsos populer yang
memberitakannya, dan komentar diikuti perdebatan pun semakin meluas. Ia
bahkan sampai menolak permintaan sebuah media yang ingin mendatangi
secara langsung kamar kosnya.
Seandainya para /netizen/ itu tahu, dan mau berusaha sedikit saja
mencari informasi. Candra Aditya bukanlah anak orang kaya atau golongan
dari mereka yang punya /privilege/, seperti mereka "dituduhkan" dengan
riuh rendah, dengan komentar-komentar penuh prasangka yang sangat
dangkal dan menyedihkan. Intinya, hampir semua yang komentar menyatakan:
/kamu anak orang kaya, banyak duit, mau ngapain aja bisa/. Mau lihat
salah satu komen, biar tahu bagaimana mereka misalnya menyimpulkan hal
itu? "Lihat rak sepatunya bisa disimpulkan anak orang kaya kok." Bahkan,
ada yang menyimpulkan hanya dari namanya --"Namanya saja Candra Aditya,
pasti anak orang kaya!". HA HA HA.
Ada pula komentar yang bernada stereotip, semisal "Kuliahnya desain
interior nih!" Yang jelas, nyaris tidak ada satu pun komentar yang
melihat (foto) kamar itu sebagai hasil dari sebuah kreativitas, atau
sesuatu yang diusahakan. Tentu saja, semua itu memang perlu biaya. Dan,
Candra sebenarnya sudah menjelaskannya dalam sebuah "utas" bahwa kamar
--yang disebut oleh judul sebuah berita dengan ungkapan "super nyaman"
itu-- tidak turun begitu saja dari langit langsung menjadi seperti itu,
bukan simsalabim. Dia merancangnya sangat lama --ada proses, ada
tahapan-tahapan. Dengan kata lain, seperti diungkapkan oleh Candra
sendiri, dia mencicilnya sedikit demi sedikit.
Sejak di kamar kos lamanya --yang selalu kebanjiran, dan itulah sebabnya
ia kemudian pindah-- dulu Candra sudah kreatif menghiasinya dengan
bola-bola lampu layaknya diskotik, dan poster-poster film yang dibingkai
--yang tampak memberi perbedaan dan sentuhan yang memang sangat keren
itu. Di kamar kos barunya itu, yang benar-benar baru hanyalah tempat
tidur yang dibuat menempel di dinding, dengan ketinggian tertentu,
sehingga bagian bawahnya merupakan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan.
Tempat tidur itu dirancang dengan "bantuan" dari penjual /online/,
sesuai bujet yang ada. Ditambah pot-pot tanaman, rak penuh buku, dan
sepatu-sepatu yang dirapikan di rak khusus, maka jadilah kamar yang
kemudian penampakannya viral itu.
Dengan menjelaskan (kembali) semua itu, saya tidak sedang membelanya.
Pun, jika saya katakan, bahwa sebenarnya sama sekali tidak ada
"kemewahan" pada kamar itu --sebagaimana yang ditangkap oleh /netizen/
dan itulah salah satu pangkal berdebatannya-- saya bukannya tidak
mengapresiasi hasil jerih payahnya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa
seandainya mereka, ya /netizen/ itu, tahu siapa Candra Aditya, mestinya
mereka malu.
Kami teman-teman dekatnya kenal betul Candra, yang datang dari Malang,
Jawa Timur oleh dorongan kuat obsesinya yang luar biasa untuk menjadi
/filmmaker./ Segala keterbatasan tak menghalangi cita-citanya. Lulus
STM, ia menjadi mahasiswa generasi pertama sekolah film yang kala itu
baru saja dibuka di Binus International School, Jakarta tanpa biaya
sepeser pun, karena ia mendapatkan beasiswa penuh.
Jika capres Sandiaga Uno mengaku bahwa dulu dikirim ayahnya ke Amerika
tanpa dibekali tiket pulang, maka Candra bahkan pergi ke Jakarta tanpa
kepastian bagaimana nanti tinggal dan hidup di sana. Dan, ia
membuktikan, mampu menghidupi dirinya tanpa kiriman uang dari
orangtuanya. Dia bekerja, menjadi penulis lepas di mana-mana, dan
berbagai usaha lainnya.
Bagi saya, apa yang dilakukan Candra dengan "memamerkan" hasil renovasi
kamar kosnya itu --"/Gue udah nyangka bakalan rame, tapi gue nggak
nyangka bakal serame/ /itu/"-- tanpa dia sadari adalah sebuah
"eksperimen sosial" yang brilian, yang dengan telak berhasil menguak
realitas kelam, siapa itu kaum /netizen/, yang selalu ingin komentar,
dengan energi yang negatif, berusaha keras untuk kontra terhadap apapun,
melihat segala sesuatu dengan sudut pandang dangkal, malas, dan ya,
apalagi kalau bukan bodoh.
Ini bukan soal perspektif. Jangan latah pula untuk mengait-ngaitkannya
dengan "/post-truth/". Ini soal jiwa yang telah kalah oleh teknologi.
Bagaimana /smartphone/ membuat sebagian orang menjadi tidak /smart/ sama
sekali, dan terpuruk ke titik terendah. Bagaimana /gadget/ membuat
jempol-jempol menjadi jauh lebih terampil dan terdepan dibanding otak.
Atau, kalau kita mengikuti pemikir Nassim Nicholas Taleb, ini soal
perbudakan oleh teknologi. Menurut Taleb, teknologi bisa merusak (dan
membahayakan) tiap aspek kehidupan orang bodoh sambil meyakinkan dia
bahwa kehidupannya jadi lebih efisien.
Yang tragis adalah, beda antara teknologi dan perbudakan: budak sadar
mereka tidak merdeka.
Dengan teknologi /gadget/ yang memudahkan hampir semua aspek kehidupan
dan menjadikannya terangkum dalam satu genggaman tangan, kebanyakan
orang tidak sadar bahwa dirinya kemudian justru menjadi tidak merdeka.
Mereka tak mau lagi berpikir. Semua diserahkan pada teriakan "spontan".
Pokoknya harus bersuara dulu, /nimbrung/, ikut arus, hadir --berpikir
bukan hanya belakangan, tapi sudah tidak diperlukan lagi.
Maka, kita sebenarnya tidak perlu heran --atau sebenarnya selama ini
kita memang hanya berpura-pura terheran-heran?-- mengapa banyak
orang-orang terdidik yang begitu mudah memamah /hoax/, dan lebih banyak
lagi "kaum emak-emak" yang termakan berita bohong, dan dengan riang
gembira ikut menyebarkannya, dengan sepenuh keyakinan. Tidak diperlukan
teori apapun untuk memaknai fenomena ini. Kata Taleb: untuk membuat
"bangkrut" orang yang bodoh, beri saja dia informasi!
Ketika seorang sutradara terkenal nge-/tweet/ sesuatu tentang politik,
maka seorang /netizen/ akan dengan entengnya menyahut: /lagi nggak ada
job ya?/ Padahal sutradara yang dia ledek itu justru sedang
jaya-jayanya, hampir setiap hari mempromosikan /trailer/ film terbarunya
dan rajin meng-/update/ proyek-proyek dia berikutnya yang sudah
menunggu. Bagi si /netizen/, informasi tidak pernah berarti apa-apa.
Sebagian /netizen/ telah memilih untuk menjadi katak yang menciptakan
semesta di bawah tempurungnya, membangun kenyamannya dalam dunianya sendiri.
Maka, sekali seorang pemimpin dibilang oleh lawan-lawan politiknya
sebagai "antek asing", "keturunan PKI", dan berbagai label "seram"
lainnya, informasi lain apapun yang datang belakangan untuk membantahnya
tidak akan pernah "masuk" ke mereka. Bahkan ketika ada yang bilang,
entah siapa tidak pernah jelas, bahwa jika capres tertentu menang maka
azan akan dilarang di Indonesia, mereka pun menelannya bulat-bulat
begitu saja, betapa pun tak masuk akalnya "informasi" itu.
Di depan mahkamah /netizen/, akal membeku --apapun yang tidak ingin
mereka percayai, karena tidak seusai dengan kepentingannya, bertentangan
dengan hasrat-hasratnya yang paling tersembunyi, menjadi "mentah" dan
"mental". Informasi tak bicara apa-apa. Pengetahuan tidak dipercaya.
Kehidupan hilang maknanya.
Jadi, siapakah kamu, /netizen/?
*Mumu Aloha* /wartawan, penulis, editor/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*