Tulalit Penemuan terbaru dari ilmuwan Intan Paramita (hayah!). Bahwa ada hubungan yang sangat erat antara “tulalit” dan “kesombongan”. Hubungan di antara kedua hal tersebut mengakibatkan negara Indonesia sampai sekarang masih berstatus negara berkembang, belum bisa terganti dengan label negara maju.
Saya belum bisa menemukan makna yang sesungguhnya dari kata “tulalit”, yang jelas secara pragmatik, saya mengenal kata itu sebagai arti dari “tidak nyambung”. Jadi, begini kaitan antara “tulalit” dan “kesombongan”: Contoh kasus pertama Kalimat pernyataan: “Dibutuhkan guru Sejarah untuk tingkat SMA. Bagi yang berminat, kirim lamaran ke SMA BlaBlaBla.” Kalimat tanggapan: 1. “Saya guru Sejarah tapi sudah mengabdi di SMA Lalala.” 2. “Saya bisa ngajar Sejarah tapi sekarang jadi kepala sekolah.” 3. “Saya dulunya ngajar Sejarah, tapi sekarang jadi pegawai bank.” Nah, coba Anda cermati contoh kasus pertama tersebut. Antara kalimat pernyataan dengan kalimat tanggapan TIDAK NYAMBUNG. Terindikasi juga bahwa sang penanggap bukan ingin menanggapi kalimat pernyataan, tapi justru ingin mengungkap kesombongan atas jabatan yang telah dimiliki. Contoh kasus kedua Kalimat pertanyaan: “Hai teman-teman, pada udah pernah ke Gua Jomblang di Gunung Kidul, belum?” Kalimat tanggapan: 1. “Ayo kita ke sana yuk, mumpung tabungan gue masih ada nih.” 2. “Gue sih pengennya jalan-jalan ke Singapur aja.” 3. “Gue belum tau nih bisa ke sana or ga karna nyokap ngajakin jalan ke Raja Ampat.” Nah, coba Anda cermati juga contoh kasus kedua tersebut. Bukankah kalimat pertanyaan itu hanya membutuhkan jawaban singkat, antara “sudah” atau “belum”. Demikianlah penemuan analisis terbaru dari saya. Semoga “kebodohan” oknum rakyat Indonesia teretas. Salam kopi tubruk.
