Dari reputasinya selama ini kecil sekali kemungkinan Babinsa membohongi 
atasannya. Juga mustahil mereka buka mulut kepada pers. 
Silakan periksa semua media yang tiba-tiba "mengkhawatirkan", tapi tidak ada 
alasan untuk membredel.

-

Soal Wacana Wiranto, BW: Ngeri Kalau Ini Sinyal Rezim Akan Otoritarian
SELASA, 07 MEI 2019 | 14:48 WIB | LAPORAN: BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRARMOL. 
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto 
menyebut akan menutup media yang dianggap ikut menyebarkan pemberitaan yang 
melanggar hukum terkait dengan isu seputar Pemilu 2019.

Menanggapi ini, Mantan Pimpinan KPK Bambang Widjojanto menilai Wiranto harusnya 
hati-hati dalam bicara, terlebih saat ini situasi pasca pemilihan umum..

"Menurut saya sih ini Pak Wiranto bicaranya harus agak hati-hati, jadi 
bicaranya itu harus meneduhkan jangan memprovokasi dalam situasi seperti ini, 
ya harus mengerti dulu, mengendalikan sikap dan perilakunya," jelasnya di 
Balaikota DKI Jakarta, Selasa (7/5).

Menurutnya, hal ini harus segera diselesaikan secara cepat, karena bila tidak, 
ini akan berdampak pada penilaian masyarakat yang bisa saja muncul persepsi 
bahwa pemeritahan atau rezim ini akan memerintah dengan otoriter.

"Otoriter itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya otoritas. Kan sebagai 
Menko kan otoriter hanya bisa dilakukan oleh yang punya otoritas dan Pak 
Wiranto, orang yang punya otoritas. Yang paling ngeri kalau ini bagian dari 
signal bahwa rezim akan menjadi otoritarian, itu yang paling mengerikan," 
tambahnya.

Sebelumnya, Wiranto ingin ada langkah hukum yang lebih konkret dalam menangani 
media yang dianggap ikut menyebarkan pemberitaan yang melanggar hukum terkait 
dengan isu seputar Pemilu 2019.

"Media mana yang nyata-nyata membantu pelanggaran hukum, kalau perlu kami 
shutdown, kami hentikan. Kami tutup demi keamanan nasional," ujar dia kemarin 
dalam jumpa pers di kantornya, Senin (6/5). []



Kirim email ke