https://news.detik.com/kolom/d-4539175/perlawanan-dalam-pencurian-ikan
Selasa 07 Mei 2019, 12:15 WIB
Kolom
Perlawanan dalam Pencurian Ikan
Fahmi Alfansi P Pane - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/fahmi.defense>
FAHMI PANE <https://connect.detik.com/dashboard/public/fahmi.defense>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4539175/perlawanan-dalam-pencurian-ikan#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4539175/perlawanan-dalam-pencurian-ikan#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4539175/perlawanan-dalam-pencurian-ikan#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4539175/perlawanan-dalam-pencurian-ikan#>
Perlawanan dalam Pencurian Ikan Foto: Instagram/@susipudjiastuti115
*Jakarta* -
Insiden penabrakan KRI Tjiptadi-381 oleh kapal pengawas perikanan
Vietnam KN-213 saat menangkap kapal pencuri ikan perlu ditanggapi lebih
serius oleh pemerintah dan DPR, serta institusi operasional seperti TNI,
Badan Keamanan Laut, Polri, dan lain-lain.
Terlebih, sebelum insiden 27 April 2019 di Laut Natuna Utara tersebut
juga terjadi beberapa insiden serupa. Misalnya, pada 3 April di Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia perairan Selat Malaka, kapal dan helikopter
Malaysia mendesak pembebasan dua kapal pencuri ikan dari Malaysia yang
sedang digiring oleh kapal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) KP
Hiu-08. Kapal dan helikopter tersebut bermanuver mengikuti kapal KKP.
Pada 9 April terjadi insiden serupa di Selat Malaka saat KP Hiu Macan
Tutul menggiring dua kapal pencuri ikan asal Malaysia. Saat menangkap
dua kapal pencuri ikan asal Vietnam pada 16 April, kapal patroli Polri
Baladewa-8002 juga dihadang kapal penjaga pantai Vietnam di perairan
Natuna.
Pada 19 Maret 2016 kapal penjaga pantai China menabrak KM Kway Fey 10078
sebagai upaya meloloskan kapal pencuri ikan tersebut dari kapal KKP yang
sedang menariknya. Pada 27 Mei 2016 saat KRI Oswald Siahaan-354
menangkap kapal pencuri ikan Gu Bei Yu asal China, kapal penjaga pantai
China membayangi pergerakan KRI 354. Pada 17 Juni 2016 KRI Imam
Bonjol-383 menangkap kapal pencuri ikan Han Tan Cou dan sempat diganggu
oleh kapal pengawas China. Diperkirakan ada selusin kapal pencuri ikan
China saat itu, tetapi sebagian berhasil lolos.
Keberanian perlawanan aparat asing terhadap aparat keamanan laut,
termasuk TNI AL, dapat merefleksikan tiga persepsi negara sekitar akan
kondisi Indonesia. Persepsi asing itu bisa benar atau salah, tetapi
ketiga persepsi itu mempengaruhi pengambilan keputusan di lapangan dan
level strategis.
Persepsi pertama adalah lemahnya penegakan kedaulatan dan hukum
Indonesia. Persepsi ini dapat muncul karena dua alasan. Alasan pertama
adalah tidak ada penenggelaman kapal pencuri ikan sejak kuartal keempat
2018 hingga sepanjang 2019. Laporan Kinerja KKP 2018 yang disampaikan
Maret 2019 menunjukkan sebanyak 488 kapal yang telah ditenggelamkan
terjadi pada periode Oktober 2014 hingga Agustus 2018. Sebanyak 276 dari
488 kapal tersebut berasal dari Vietnam.
Ketiadaan penenggelaman kapal pencuri ikan pasca-putusan pengadilan
dapat dibaca negara asing sebagai menurunnya ketegasan pemerintah.
Meskipun pemerintah secara legal juga dapat melelang kapal tersebut
kepada badan usaha Indonesia, tetapi sebagian kapal pencuri ikan
terlelang oleh pemilik lama dan sebagian malah tertangkap kembali. Hal
ini menunjukkan pemilik kapal pencuri ikan dapat menyiasati aturan.
Alasan kedua, munculnya polemik di antara elite politik tentang
penenggelaman kapal pencuri ikan. Polemik ini muncul beberapa bulan
menjelang pemungutan suara dan langsung atau tidak langsung mempengaruhi
keputusan terhadap kapal pencuri ikan yang disita. Tetapi, seperti
urusan menoleransi pemakaian cantrang hingga batas waktu tertentu,
negara seharusnya kembali menunjukkan sinyal ketegasan kepada negara
tetangga setelah pemilu. Usai insiden 27 April, Menteri KKP Susi
Pudjiastuti menyatakan di akun Twitter-nya akan menenggelamkan 51 kapal
ilegal asing, mayoritas dari Vietnam.
Persepsi kedua adalah lemahnya kekuatan militer dan aparat keamanan
Indonesia. Persepsi asing dapat muncul dari pendapat atau persepsi elite
Indonesia sendiri tentang kekuatan militer dan polisi Indonesia, apalagi
bila elite tersebut mempunyai pengaruh politik yang meluas dan dianggap
mengetahui kondisi militer. Ironisnya, kepentingan politik sering
membuat elite melebih-lebihkan penilaian situasi. Akibatnya, terbentuk
persepsi pada sebagian pihak bahwa militer Indonesia terlalu lemah
dibanding negara tetangga, dan pada sebagian yang lain berpersepsi
militer Indonesia mampu mengatasi semua ancaman dan menjangkau seluruh
wilayah Indonesia secara simultan.
Data historis mengenai kesiapan alutsista (alat utama sistem
persenjataan) TNI dan almatsus (alat material khusus) Polri juga dapat
mempengaruhi persepsi asing. Terlebih, sebagian data dapat diakses di
internet. KRI Tjiptadi misalnya, dideskripsikan di Wikipedia sebagai
kapal korvet kelas Parchim buatan dekade 1980-an atau 1990-an yang
diserahkan kepada TNI AL tahun 1993. Informasi tersebut tidak meleset.
Keadaan kapal TNI AL yang lain yang menangkap kapal pencuri ikan juga
terakses publik.
Pemberitaan media massa dalam dan luar negeri juga mempengaruhi persepsi
negara luar. Misalnya, laporan Majalah /Asian Military Review/ edisi
November 2018 atau /Jane's/ /Navy International/ edisi Oktober 2018
memaparkan program pengadaan kapal perang dan sistem persenjataan kapal
cepat rudal (KCR) TNI AL. Paparan tersebut dapat membentuk persepsi
bahwa kapal-kapal perang Indonesia berukuran relatif kecil dan
persenjataannya tidak ideal karena mempertimbangkan ketersediaan anggaran.
Memang, dibanding negara-negara ASEAN lain kondisi kapal perang
Indonesia tidak tertinggal, tetapi sulit menjamin efek penggentaran
(/deterrence effect/) akan tercipta. Ironisnya, pemberitaan media hankam
asal luar negeri tentang alutsista TNI justru tidak terakses oleh banyak
orang Indonesia.
Persepsi ketiga adalah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
dipersepsikan melemah akibat pembelahan pilihan politik. Pemilu Presiden
telah membuat bangsa seolah-olah terbelah dua, apalagi dipompakan
informasi bahwa pemilu berlangsung curang, brutal, dan tidak dapat
dipercaya. Bila informasi itu dipompa secara kontinu melalui media
sosial, warga yang tidak mampu mengakses informasi pembanding akan
percaya. Berikutnya, mereka tidak akan percaya kepada lembaga-lembaga
negara dan lebih percaya kepada informasi yang diteruskan dari rekan
separtai atau rekan segolongan pilihan politik.
Beberapa dekade lalu opini suatu bangsa sulit diketahui negara asing,
kecuali mereka mendatangi kota, desa, dan rumah-rumah. Namun, kini
dengan mengandalkan pengetahuan bahasa Indonesia, pihak asing lebih
mudah mengetahui opini publik Indonesia dengan mengandalkan media
sosial. Karena itu, mereka berani melakukan "tes ombak".
Ketiga persepsi asing tersebut dapat diperbaiki pemerintah dan bangsa
Indonesia. Pemerintah harus kembali menunjukkan ketegasan secara
konsisten, antara lain penenggelaman kapal pencuri dan pelarangan
pembelian kembali kapal asing oleh pihak asing atau proksi mereka.
Jumlah kapal perang harus ditambah, termasuk kapal-kapal patroli Polri,
KKP, Bea Cukai, Bakamla, dan sebagainya. Sistem persenjataan juga harus
kredibel dan dapat menimbulkan /deterrent effec/t. Untuk itu, perlu
kesepakatan nasional penambahan anggaran pertahanan dan keamanan,
utamanya belanja modal (pengadaan) alutsista TNI dan belanja barang
untuk operasional, pemeliharaan dan perawatan alutsista.
Selain itu, pemerintah dan semua elite politik perlu memperkuat
soliditas bangsa Indonesia kembali. Pertemuan antarelite politik dapat
meredakan tensi. Para elite juga harus menegaskan kepercayaan mereka
kepada lembaga-lembaga negara, dan sekiranya ditemukan ketidakberesan
disalurkan melalui mekanisme hukum. Hanya dengan persatuan Indonesia
yang kuat, negara-negara lain akan segan.
*Fahmi Alfansi P Pane* /tenaga ahli DPR dan alumnus Universitas
Pertahanan Indonesia (Unhan)/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
kri tjiptadi-381
<https://www.detik.com/tag/kri-tjiptadi-381/?tag_from=tag_detail>
pencurian ikan
<https://www.detik.com/tag/pencurian-ikan/?tag_from=tag_detail>