https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1514-hakikat-kebaikan-manusia/
/
//
/*Hakikat Kebaikan Manusia*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Kamis, 09 Mei
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1514-hakikat-kebaikan-manusia>
<https://twitter.com/home/?status=Hakikat Kebaikan Manusia
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1514-hakikat-kebaikan-manusia
via @mediaindonesia>
Hakikat Kebaikan Manusia
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/05/2a06e5146b0fb984af675bf8a88f1cb5.jpg>
/MI/
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
SEPERTINYA kita perlu menyelami kembali hakikat kebaikan manusia. Di
antaranya ialah membuat orang lain menjadi lebih baik.
Orang yang membuat orang lain menjadi lebih baik boleh dicandrakan
dirinya sendiri orang baik dan ingin menjadi lebih baik lagi. Sampai di
mana? Rasanya tidak ada batasnya. Di atas langit masih ada langit.
Kita sekarang sedang menunggu hasil kebaikan manusia Indonesia secara
nasional dalam berbangsa dan bernegara. Kebaikan itu ialah menggunakan
haknya di dalam pemilu presiden. Dalam perkara ini ada dua macam
kebaikan yang perlu ditegakkan.
Yang pertama orang baik percaya bahwa yang terbaik yang menang. Orang
datang ke TPS dengan keyakinan bahwa dia tahu siapa yang terbaik yang
bakal dicoblosnya.
Yang kedua juga percaya kepada yang sebaliknya, yaitu yang terpilih
dengan suara terbanyak yang terbaik. Orang-orang baik dengan pilihannya
itu lebih banyak daripada orang-orang baik lainnya dengan pilihannya.
Itulah moral politik demokrasi. Sangat menghormati suara terbanyak dan
sangat percaya bahwa suara rakyat ialah suara Tuhan, Yang Mahabaik.
Demikianlah setelah pemilu serentak, terutama pilpres selesai kiranya
kita sebagai anak bangsa memuliakan hakikat kebaikan manusia dan
meninggalkan hakikat keburukan manusia.
Tidak ada manusia yang sempurna. Yang dunia perlu tahu ialah bahwa anak
bangsa Indonesia yang tidak sempurna itu berkemampuan memenangkan
hakikat kebaikan manusia daripada hakikat keburukan manusia.
Sesungguhnya tidak seorang pun akan berkata bahwa kerusuhan bernilai
bagi suatu masyarakat. Kenyataannya hal itu harus dipertimbangkan
sebagai kepentingan yang dapat terjadi di masyarakat mana pun.
Karena itu, relevan mengajukan pertanyaan, bagaimanakah caranya kita
dapat memenangkan hakikat kebaikan manusia itu? Pemerintah, dalam hal
ini kementerian yang mengoordinasikan politik, hukum, dan keamanan yang
dipimpin Wiranto, berkeputusan memenangkan hakikat kebaikan manusia itu
dengan cara membentuk tim hukum nasional, "Yang akan mengkaji ucapan,
tindakan, dan pemikiran tokoh-tokoh tertentu, siapa pun dia, yang
nyata-nyata melanggar dan melawan hukum."
Wiranto juga menyebut tujuan tim itu untuk mencegah upaya
pendelegitimasian penyelenggaraan pemilu, yang merupakan perbuatan
melanggar dan melawan hukum.
Dalam perkara itu pemerintah tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk
mendefinisikan sendiri siapa yang berupaya melakukan pendelegitimasian
itu. Kira-kira, itulah tugas tim yang terdiri atas orang-orang
terpelajar dan terhormat di bidang hukum itu, yakni membantu pemerintah
dengan pandangan yang bebas kepentingan.
Salah satu yang aneh di ruang publik dalam konteks pilpres ialah selalu
muncul penilaian bahwa apa pun yang dilakukan pemerintah dinilai buruk.
Gagasan memindahkan ibu kota negara dinilai sebagai upaya mengalihkan
perhatian publik dari penghitungan suara. Pembentukan tim hukum nasional
dinilai sebagai kurang kerjaan.
Apakah saya boleh menilai upaya pendelegitimasian pilpres sebagai kurang
kerjaan? Sepertinya kita memang perlu menyelami kembali hakikat kebaikan
manusia demi kebaikan bangsa dan negara.