https://fokus.tempo.co/read/1203389/harga-bawang-putih-melonjak-produksi-minim-atau-telat-impor


 Harga Bawang Putih Melonjak, Produksi Minim atau Telat Impor?
Reporter: Tempo.co
Editor: Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Rabu, 8 Mei 2019 16:55 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki pekan pertama di bulan Mei yang bertepatan
dengan bulan suci Ramadan ini, masyarakat harus menelan pil pahit karena
lonjakan harga bawang putih
<https://ramadan.tempo.co/read/1201737/mentan-100-ribu-ton-bawang-putih-impor-masuk-menjelang-ramadan>.
Winarsih, salah satu pedagang di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, misalnya..

Baca: Mentan akan Blacklist Importir Bawang Putih yang Mainkan Harga
<https://bisnis.tempo.co/read/1202185/mentan-akan-blacklist-importir-bawang-putih-yang-mainkan-harga>

Perempuan berusia 43 tahun itu terkejut harga jual bawang putih melambung
hingga Rp 90 ribu per kilogram. “Kalau biasanya Cuma Rp 45 ribu,” ujarnya
ketika ditemui di Pasar Kramat Jati, Sabtu, 4 Mei 2019.

Meski harga melonjak, Winarsih tak langsung meraup untung. Pasalnya, para
pembeli langsung mengerem pembelian. Biasanya, dalam sehari Winarsih bisa
menjual 4-5 kilogram bawang putih, tapi dengan harga tinggi seperti
sekarang, terjual 1 kilogram saja sudah dianggap untung. “Yang beli
sedikit. Kebanyakan kaget karena harganya. Kalau pun ada yang beli paling
cuma satu-dua ons,” ucap dia.

Kenaikan harga bawang sebetulnya terjadi jauh hari sebelum bulan Ramadan.
Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi pada April 2019 yang
mencapai 0,44 persen terutama dipicu oleh lonjakan harga tiket pesawat dan
bahan makanan. Dalam hitungan BPS, inflasi April secara tahunan atau
yoy mencapai 2,8 persen, sedangkan inflasi tahun kalender selama Januari
hingga April tercatat 0,8 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi bulan April tergolong tinggi bila
dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya. Khusus harga bawang
putih turut menjadi penyumbang inflasi karena secara umum di pasaran, harga
bahan makanan tersebut naik dengan rata-rata kenaikan 0,09 persen.

Terus naiknya harga komoditas itu terjadi sejak menjelang Pemilihan Umum
2019 lalu juga diamini oleh pedagang besar bawang putih di Pasar Induk
Kramat Jati, Sribit. Ia menduga pemicu harga bahan dapur itu melambung
tinggi adalah lantaran minimnya stok yang masuk. "Karena barangnya tidak
ada. Kemarin stop, satu karung pun tidak ada saya jual," ujarnya.

Oleh karena itu, Sribit mempertanyakan langkah pemerintah yang telat
menggelontorkan stok bawang putih impor itu ke pasar. Padahal, menurut dia,
produk impor itu sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok itu sejak beberapa
hari lalu. "Kenapa tidak segera dikeluarkan, kenapa baru hari ini menjelang
puasa, harusnya bisa dari kemarin."

Pernyataan Sribit menanggapi digelarnya operasi pasar bawang putih oleh
Kementerian Pertanian pada Ahad pekan lalu. Operasi pasar dilakukan dengan
menggelontorkan empat kontainer bawang putih dengan kapasitas mencapai 30
ton per kontainer dengan harga Rp 25 ribu per kilogram dan ditargetkan
harga maksimal sampai ke konsumen Rp 30 ribu per kilogram.

Kirim email ke