Tiongkok Tidak Akan Terganggu Masalah Taiwan
http://indonesian.cri.cn/20190509/23542328-c954-50a2-41d4-60e0e3bdc820.html
2019-05-09 16:03:00
Dewan Perwakilan Rakyat AS pada 7 Mei lalu menerima baik apa yang
disebut “resolusi komitmen AS atas pelaksanaan UU Hubungan dengan Taiwan
atau TRA. Tindakan AS tersebut dinilai Tiongkok sebagai aksi politik
yang secara kasar mengintervensi urusan dalam negeri Tiongkok, dan
dimaksudkan untuk membendung perkembangan damai Tiongkok.
Pada 1 Januari 1979, yakni pada masa pemerintahan Jimmy Carter, Tiongkok
dan AS secara resmi menjalin hubungan diplomatik penuh. Tahun ini
bertepatan peringatan 40 tahun penggalangan hubungan diplomatik
Tiongkok-AS. Jimmy Carter dalam wawancaranya dengan harian The
Washington Post memperingatkan, saat ini hubungan kedua negara berada
pada periode sensitif, kesalahpahaman dan salah perhitungan apa pun yang
terjadi berpotensi menimbulkan “malapetaka global”. Para negarawan di
Kongres AS harus menyadari bahwa intriknya untuk menggunakan masalah
Taiwan guna membendung perkembangan Tiongkok pasti akan menemui jalan
buntu dan sia-sia belaka karena mereka sudah melakukan tiga kesalahan
serius.
Pertama, secara tuntas merugikan fondasi perkembangan hubungan
Tiongkok-AS. Sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar dan kekuatan politik
penting di dunia, hubungan Tiongkok-AS yang bedasar kokoh akan
menyediakan jaminan kuat bagi dunia yang stabil. Dasar hubungan
Tiongkok-AS sudah ditegaskan dalam Tiga Komunike Tiongkok-AS, yakni di
dunia ini hanya ada satu Tiongkok, Daratan dan Taiwan termasuk satu
Tiongkok, dan RRT adalah satu-satunya pemerintah sah Tiongkok. DPR AS
yang sengaja meningkatkan UU Hubungan dengan Taiwan menjadi UU Komitmen
kepada Taiwan bermaksud memperlakukan Taiwan sebagai negara berdaulat,
yang sama sekali bertentangan dengan prinsip satu Tiongkok, dan secara
serius merugikan patokan hukum internasional.
Kesalahan kedua adalah masalah Taiwan digunakan untuk mencoba bottom
line Tiongkok. Pada saat hubungan Tiongkok-AS mengalami kesulitan,
masalah Taiwan selalu digunakan AS untuk tawar menawar dengan Tiongkok.
Akan tetapi, masalah Taiwan tak pernah, dan juga mutlak bukanlah alat
yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang muncul dalam
hubungan Tiongkok-AS. Sebabnya ialah, masalah Taiwan adalah urusan
intern Tiongkok, yang menyangkut kepentingan negara, serta martabat dan
perasaan rakyat Tiongkok. Masalah itu tidak boleh diintervensi oleh
kekuatan asing mana pun, lebih-lebih tidak boleh ditawar menawar.
Partai Progresif yang berasas tujuan mewujudkan “kemerdekaan Taiwan”
mengalami kegagalan mutlak dalam pemilihan umum di daerah Taiwan,
sehingga berprospek muram dalam pemilihan pemimpin Taiwan tahun depan.
DPR AS yang menerima baik UU Komitmen kepada Taiwan pada saat ini justru
untuk menyelamatkan kekuatan “Taiwan Merdeka”, sehingga akan
membahayakan perdamaian kawasan bahkan dunia.
Pada April lalu, Presiden AS Donald Trump berbicara dengan mantan
Presiden Jimmy Carter via telepon, meminta pendapat bagaimana menangani
hubungan AS dengan Tiongkok. Dilaporkan, salah satu usul dari Jimmy
Carter adalah “jangan terlibat perang dengan Tiongkok”. Jika para
negarawan AS ingin menembus bottom line Tiongkok dalam masalah Taiwan,
atau berani mengirim kapal militer ke Taiwan, maka hal itu sama dengan
mendorong Daratan menyatukan tanah airnya.
Presiden Tiongkok Xi Jinping berkali-kali menegaskan bahwa Tiongkok
mendukung diadakannya koordinasi dan kerja sama antar negara besar, agar
dapat hidup berdampingan secara rukun, tidak berkonfrontasi, saling
menghormati dan menang bersama. Tiongkok berharap hubungan Tiongkok-AS
dapat terus berkembang dengan di atas dasar prinsip koordinasi dan kerja
sama. Hal ini tidak boleh berubah. Para negarawan AS diimbau agar tidak
meremehkan tekad orang Tiongkok dalam masalah Taiwan.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com