https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun
Sabtu 11 Mei 2019, 10:08 WIB
Pustaka
Menyibak Sejarah Madiun
Heri Priyatmoko - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun#>
Heri Priyatmoko
<https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun#> Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun#> Share
*0* <https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun#> 2
komentar <https://news.detik.com/kolom/d-4545125/menyibak-sejarah-madiun#>
Menyibak Sejarah Madiun Foto: istimewa
*Jakarta* - *Judul Buku: /Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priayi dan
Petani di Karesidenan Madiun Abad XIX/; Penulis: Ong Hok Ham; Penerbit:
KPG, November 2018; Tebal: 374*
Ong Hok Ham sohor sebagai sejarawan dan kolumnis yang produktif pada
masanya. Karya utama sejarawan berkepala pelontos ini yang
ditunggu-tunggu pembaca ialah disertasi perihal sejarah sosial Madiun
periode kolonial. Sekarang, publik bernapas lega sebab karya tersebut
akhirnya terbit jua selepas mengalami tidur panjang selama empat dekade
lebih!
Kehadiran pustaka /Madiun dalam Kemelut Sejarah/ tersebut penting di
panggung literasi Indonesia. Buku yang digarap di Universitas Yale
(1975) ini punya makna mendalam bagi kita tatkala menggumuli dan
menafsirkan riwayat perjalanan bangsa. Seperti yang disinggung Peter
Carey dalam Prolog bahwa disertasi Ong diharapkan mampu membebaskan
orang Madiun dari "trauma" yang mereka alami gara-gara pemberontakan PKI
pada September 1948 yang dipimpin Musso (1897-1948). "Nahkoda" /kraman/
alias kerusuhan itu bukan warga Madiun, melainkan lahir di Pagu, Kediri.
Celakanya, masyarakat luas kadung memahami seolah sejarah Madiun
terpatri hanya pada kejadian tersebut dan tidak punya /before/ dan
/after/. Buahnya, warga Madiun dicap sebagai "komunis abadi".
Aspek spasial yang menjadi fokus kajian ialah Karesidenan Madiun. Pada
permulaan abad XX, karesidenan ini terdiri atas lima kabupaten dengan
lima asisten residen dalam administrasi Belanda: Madiun, Ponorogo,
Pacitan, Ngawi, dan Magetan. Karesidenan Madiun kurang lebih dibatasi
oleh bentang alam. Di sisi barat ada Gunung Lawu yang memanjang sampai
pegunungan di selatan Jawa membelah Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta.
Di bagian utara dijumpai Gunung Kelud yang menceraikan Karesidenan
Madiun dengan Rembang. Sementara di sebelah timur bercokol Gunung Wilis
yang memisahkan dari Karesidenan Kediri. Ditilik dari segi geografi ini,
gampang ditebak, Madiun berikut penghuninya terisolasi, jauh dari
pengawasan pihak kerajaan. Tak ayal, kekerasan dan penyimpangan mudah
tersulut di area /mancanagari/ itu.
Ong mengemukakan, pajak merupakan salah satu sumber perkara. Ada puluhan
jenis pajak yang diterapkan sehingga mencekik leher masyarakat, terutama
kelas /wong/ /cilik/. Selain pajak tanah yang harus dibayar pengelola,
warga (buruh) juga wajib kerja bakti untuk kerajaan atau perangkat lain
di atas desa seperti kawedanan dan bupati. Selain arsip kolonial, Ong
memanfaatkan pula data lokal berupa /Babad Patjitan/ untuk menerangkan
peristiwa yang terjadi di Madiun lampau. Dijelaskan, komplotan elite
lokal ingin membunuh Belanda yang dianggap bersalah atas tingginya pajak
tanah. Mereka mengaku datang dari Yogyakarta, Kertosono, dan Banyuwangi
guna membebaskan rakyat di Ponorogo yang menderita lantaran pajak kolonial.
Kala itu, orang kecil bahkan tidak mampu memakai celana karena uangnya
dipakai untuk membayar pajak. Kepada polisi Rejosari, barisan
"pemberontak" ini koar-koar hanya butuh waktu tiga hari berperang di
Ponorogo dan merebut kekuasaan kolonial demi membebaskan penduduk dari
pajak. Di belahan dunia mana pun, orang yang membayar pajak adalah orang
yang berpenghasilan dan berpunya. Namun, Belanda memukul rata.
Pemerintah kolonial emoh menganggap tingginya pajak sebagai biang
keladi. Justru menafsirkan rasa frustrasi warga dan harapan kejayaan
(datangnya Ratu Adil) sebagai penyebab pemberontakan.
Ong cermat menyigi pemerintah Hindia Belanda tidak berkuasa secara
langsung. Mereka menjalankan kekuasaan melalui bupati dengan
memanfaatkan jaringan aparat dan makelar kekuasaan tidak resmi seperti
kepala desa, jago, /palang/, /weri/, dan sebagainya. Bupati adalah
kepala institusi sosial dan birokrasi di dalam masyarakat Jawa. Selama
masa Tanam Paksa, bersama para residen Belanda, mereka adalah manajer
puncak produksi perkebunan. Belanda menjalin kontak tingkat pertama
dengan masyarakat Jawa lewat bupati. Dari bupati lantas diturunkan titah
menjaga keamanan dan ketertiban hingga melibatkan priayi tingkat bawah.
Fenomena tersebut sejatinya menggambarkan despotisme oriental. Kendati
demikian, Ong mendobrak kesadaran pembaca untuk jujur mengakui bahwa ide
tentang despotisme Jawa berasal dari monarki Mataram. Pemerintah Walanda
merupakan ekspresi yang lebih despotik ketimbang monarki Jawa yang lebih
lunak.
Ibarat seorang detektif, Ong dengan sabar mengumpulkan serpihan fakta
yang bersekam dalam arsip guna memotret kejahatan keluarga bupati.
Namanya bupati Sumoroto, pernah kesandung perkara pembunuhan hingga
dipecat dari jabatannya. Istri penghulu Ponorogo bernama Jeminah
menjalin asmara dengan bupati yang juga menantu wedana bupati Madiun
tersebut. Semula, aksi penghilangan nyawa wanita itu berjalan mulus dan
rapi lantaran melibatkan keluarga dan jaringan penegak hukum yang
dijanjikan promosi jabatan serta disogok. Kasus ini terungkap jua karena
faktor rivalitas di antara elite bupati Sumoroto dan Ponorogo. Semua
pihak yang tersangkut masalah ini dipecat dan diasingkan di ibu kota
Karesidenan Madiun (hlm 118).
Jabatan bupati memang lahan "basah", maka sering diperebutkan. Sekalipun
tidak punya tanah secara langsung atau bukan tuan tanah, tetapi mereka
mengambil upeti dari petani dalam bentuk hasil produksi. Sayangnya, para
bupati Madiun bukanlah pengelola keuangan yang baik. Laporan umumnya
tertulis seperti ini: "para bupati dan pemimpin wilayah di Madiun tidak
baik kondisi keuangannya. Kenaikan gaji bahkan tidak banyak memberi
kemajuan, karena mereka gagal mengelola, abai, tak paham masalah
keuangan, terlalu banyak kerabat yang miskin dan pengikut yang tidak
produktif." Pentolan elite kekuasaan ini suka hutang pada orang Tionghoa
demi menuruti gaya hidup dan gengsi sosial.
Menyimak pustaka ini tidak melulu perkara pengetahuan ilmiah, namun juga
kehidupan unik Ong dan belum banyak diketahui publik sebagaimana
dituliskan David Reeva dalam Epilog. Sepulang dari Yale, Ong mengawali
menelurkan artikel populer di media massa dan jurnal /Prisma/. Ia
terkaget mendapati aneka tulisannya mampu mendongkrak namanya secara
nasional-international, malah menjadi selebritas. Rupanya status
selebritas itu menjadi satu alasan mengapa dia emoh membukukan
disertasinya, meski dirinya pernah "bersemedi" selama setahun di
Institute of Southeast Asia Studies (ISEAS) Singapura pada 1978-1979
khusus untuk tujuan penerbitan itu. Ketimbang melakoni tugas tersebut,
Ong justru menghabiskan waktunya untuk makan dan minum, dua elemen utama
dalam hidupnya. Kini, Ong Hok Ham telah menghidangkan buku apik ini
kepada kita untuk bahan refleksi sejarah, sekaligus melabrak: Madiun
bukan hanya perkara "1948"!
*Heri Priyatmoko* /dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata
Dharma, /founder/Solo Societeit/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*