----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Marco 45665 [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: Ronggo Gmail ronggo. 
<[email protected]>; Sheila Kartika [email protected] 
[PERS-Indonesia] <[email protected]>; Chalik Hamid 
<[email protected]>; Eric DMS 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; Temu Eropa <[email protected]>; RKB 
<[email protected]>; Group <[email protected]>Cc: 
Bismo Gondokusumo <[email protected]>; SUTEDJA GUSTI 
<[email protected]>Terkirim: Sabtu, 11 Mei 2019 10.31.42 GMT+2Judul: Re: 
[nasional-list] Ibu Kota Segera Dipindahkan dari Jakarta
     





Topic Berita tentang:

Ibu Kota Segera Dipindahkan dari Jakarta   ....

===========================================================================


OPINI ; 

Nampaknya  dipandang dari banyak sudut , maka yang tAlternatif terbaik adalah : 
Alternatif ketiga, yaitu > memindahkan ibu kota langsung ke luar Jawa, seperti 
contoh misalkan Brazil yang memindahkan dari Rio de Janeiro ke Brasilia (Nama 
resmi Ibu kota yang baru dari Rep.Fed.Brazilia  / red./  ) yang jauh di pusat 
negara itu dekat hutan Amazon, kemudian Canberra diantara Sydney dan Melbourne. 
Demikian juga Astana-Kazakhstan karena ibu kotanya ini dipindah lebih dekat ke 
arah tengah dari negaranya dan Naypyidaw yang juga lebih ke dalam negara 
Myanmar.

(Marc.)


==============================================================================


“Nah kemudian ketiga, memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Intinya kita ingin 
lebih menyebarkan perekonomian Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa 
yang saat ini menyumbang 58% dari PDB tapi juga mulai bergerak untuk membuat 
kegiatan tambahan di luar Jawa,” katanya..

Syarat utama alternatif ketiga ini adalah ketersediaan lahan yang luas karena 
pada intinya adalah membangun kota baru, dan tentunya akan dibutuhkan biaya 
yang tidak sedikit di samping tentunya para pegawai negeri (aparatur sipil 
negara/ASN) harus juga pindah dari posisi mereka sekarang di Jakarta ke kota 
baru tersebut.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengusulkan memindahkan keluar 
Pulau Jawa di lokasi yang secara geografis ada di tengah wilayah Indonesia.

“Tengah ini adalah memperhitungkan Barat ke Timur maupun Utara ke Selatan untuk 
merepresentasikan keadilan dan mendorong percepatan pembangunan khususnya 
wilayah kawasan Timur Indonesia. Jadi kita dorong ibu  kota yang 
Indonesiasentris,” katanya.

Pemerintah juga memiliki lahan luas yang bisa langsung dibangun tidak lagi 
memerlukan biaya pembebasan.

Ibu kota baru itu juga harus bebas bencana gempa bumi, gunung berapi, tsunami, 
banjir, erosi maupun kebakaran hutan dan lahan gambut. Selain itu, harus 
tersedia sumber daya air yang cukup dan bebas pencemaran lingkungan.

Untuk efisiensi dalam investasi awal infrastruktur, Menteri PPN/Kepala Bappenas 
itu mengusulkan lokasi ibu kota baru tersebut dengan kota yang sudah ada 
(existing), kota kelas menengah yang sudah existing.

“Maksudnya kota yang sudah punya akses mobilitas atau logistik. Misalkan kita 
tidak perlu membangun bandara baru di kota tersebut, bisa menggunakan bandara 
yang sudah ada demikian juga pelabuhan dan sebagian jalan connecting,” katanya.

Ibu kota baru itu juga tidak jauh dari pantai karena bagaimanapun Indonesia 
adalah negara maritim.
On Mon, 29 Apr 2019 at 19:10, Sunny ambon [email protected] [nasional-list] 
<[email protected]> wrote:

     

https://koransulindo.com/ibu-kota-segera-dipindahkan-dari-jakarta/ 

Ibu Kota Segera Dipindahkan dari Jakarta
29 April 2019
 Koran Sulindo – Presiden Joko Widodo mengatakan gagasan pemindahan ibu kota 
negara sudah dinyatakan sejak zaman Presiden Soekarno tapi wacana tersebut 
timbul tenggelam karena tidak pernah diputuskan. Menurut Presiden Jokowi, jika 
semua sepakat akan menuju negara maju pertanyaan pertama terutama yang harus 
dijawab adalah apakah di masa yang akan datang DKI Jakarta sebagai ibu kota 
negara mampu memikul 2 beban sekaligus, yaitu sebagai pusat pemerintahan dan 
layanan publik dan sekaligus sekaligus pusat bisnis.

“Sekali lagi, kita ingin kita berpikir visioner untuk kemajuan negara ini. Kita 
harus berbicara tentang kepentingan yang lebih besar untuk bangsa, negara, dan 
kepentingan visioner dalam jangka yang panjang sebagai negara besar dalam 
menyongsong kompetisi global,” kata Jokowi, pada Rapat Terbatas tentang tentang 
Tindak Lanjut Rencana Pemindahan Ibu Kota, di Kantor Presiden, di Jakarta, 
Senin (29/4/2019), seperti dikutip setkab..go.id.

Beberapa negara mengantisipasi perkembangan negaranya memindahkan pusat 
pemerintahannya, antara lain Malaysia, Korea Selatan, Brazil, Kazakhstan, dan 
Myanmar. Namun memindahkan ibu kota memerlukan persiapan yang matang, persiapan 
yang detail, baik dari sisi pilihan lokasi yang tepat termasuk dengan 
memperhatikan aspek geopolitik, geostrategis, kesiapan infrastruktur 
pendukungnya, dan pembiayaannya.

“Tapi saya meyakini insyaallah kalau dari awal kita persiapkan dengan baik, 
maka gagasan besar ini akan bisa kita wujudkan,” kata Jokowi.

Luar Jawa di Wilayah Tengah Indonesia

Sementara itu Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, mengatakan 
terdapat 3 alternatif dalam kajian rencana pemindahan Ibu kota negara dari 
Jakarta itu.

Alternatif pertama adalah ibu kota tetap di Jakarta tetapi dibuat government 
district atau distrik khusus untuk pemerintahan, yaitu daerah di seputaran 
istana dan Monas dan sekitarnya itu akan dibuat khusus hanya untuk kantor 
pemerintahan, khususnya kementerian lembaga.

“Itu adalah alternatif pertama yang berarti harus tentunya mengubah peruntukan 
di wilayah seputaran Istana dan Monas,” kata Bambang, di Istana Negara Jakarta, 
Senin (29/4/2019), seperti dikutip setkab.go.id.

Kerugian alternatif pertama ini adalah hanya akan menguatkan Jakarta sebagai 
pusat segalanya di Indonesia dan dikhawatirkan dampak urbanisasi terhadap 
pertumbuhan ekonomi tidak optimal.

Untuk alternatif pertama ini harus dibuat konektivitas dengan LRT atau monorel 
sehingga mudah untuk bergerak di antara kantor kementerian/lembaga di seputaran 
istana dan Monas.

Alternatif kedua, seperti dilakukan Malaysia dengan memindahkan pusat 
pemerintahan ke wilayah dekat Jakarta, misalnya di seputaran Jabodetabek, 
tentunya dengan ketersediaan lahan. Kelemahannya adalah tetap membuat 
perekonomian Indonesia terpusat di daerah Jakarta dan sekitarnya atau wilayah 
Metropolitan Jakarta.

Untuk alternatif kedua, alternatifnya radius 50 sampai 70 km dari Jakarta, 
misalkan daerah yang pernah dibahas zaman Presiden Soeharto yaitu Jonggol-Jawa 
Barat maupun daerah Maja yang ada di Banten.

Alternatif ketiga, memindahkan ibu kota langsung ke luar Jawa, seperti contoh 
misalkan Brazil yang memindahkan dari Rio de Janeiro ke Brasilia yang jauh di 
pusat negara itu dekat hutan Amazon, kemudian Canberra di antara Sydney dan 
Melbourne. Demikian juga Astana-Kazakhstan karena ibu kotanya ini dipindah 
lebih dekat ke arah tengah dari negaranya dan Naypyidaw yang juga lebih ke 
dalam negara Myanmar.

“Nah kemudian ketiga, memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Intinya kita ingin 
lebih menyebarkan perekonomian Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa 
yang saat ini menyumbang 58% dari PDB tapi juga mulai bergerak untuk membuat 
kegiatan tambahan di luar Jawa,” katanya.

Syarat utama alternatif ketiga ini adalah ketersediaan lahan yang luas karena 
pada intinya adalah membangun kota baru, dan tentunya akan dibutuhkan biaya 
yang tidak sedikit di samping tentunya para pegawai negeri (aparatur sipil 
negara/ASN) harus juga pindah dari posisi mereka sekarang di Jakarta ke kota 
baru tersebut.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengusulkan memindahkan keluar 
Pulau Jawa di lokasi yang secara geografis ada di tengah wilayah Indonesia.

“Tengah ini adalah memperhitungkan Barat ke Timur maupun Utara ke Selatan untuk 
merepresentasikan keadilan dan mendorong percepatan pembangunan khususnya 
wilayah kawasan Timur Indonesia. Jadi kita dorong ibu  kota yang 
Indonesiasentris,” katanya..

Pemerintah juga memiliki lahan luas yang bisa langsung dibangun tidak lagi 
memerlukan biaya pembebasan.

Ibu kota baru itu juga harus bebas bencana gempa bumi, gunung berapi, tsunami, 
banjir, erosi maupun kebakaran hutan dan lahan gambut. Selain itu, harus 
tersedia sumber daya air yang cukup dan bebas pencemaran lingkungan.

Untuk efisiensi dalam investasi awal infrastruktur, Menteri PPN/Kepala Bappenas 
itu mengusulkan lokasi ibu kota baru tersebut dengan kota yang sudah ada 
(existing), kota kelas menengah yang sudah existing.

“Maksudnya kota yang sudah punya akses mobilitas atau logistik. Misalkan kita 
tidak perlu membangun bandara baru di kota tersebut, bisa menggunakan bandara 
yang sudah ada demikian juga pelabuhan dan sebagian jalan connecting,” katanya.

Ibu kota baru itu juga tidak jauh dari pantai karena bagaimanapun Indonesia 
adalah negara maritim.

Untuk meminimumkan potensi konflik-konflik sosial, masyarakat di sekitar 
wilayah tersebut mempunyai budaya yang terbuka terhadap pendatang, karena 
bagaimanapun nanti ASN ini akan berdatangan dari Jakarta ke kota baru tersebut..

“Dan kemudian dari sisi pertahanan keamanan, kita harus memastikan perimeternya 
sesuai, yaitu untuk meminimumkan vulnerability dari state dan juga untuk 
menjaga wilayah teritorialnya dan tidak dekat dengan wilayah perbatasan 
negara,” kata Bambang..

Pusat Bisnis Tetap di Jakarta

Menurut Bambang, Presiden memilih alternatif ketiga, yaitu memindahkan ibu kota 
ke luar Jawa.

“Jadi ini barangkali salah satu keputusan penting yang dilahirkan hari ini dan 
tentunya akan dilanjutkan Ratas berikutnya yang akan bicara lebih teknis, 
bicara desain, dan bicara mengenai masterplan dari kota itu sendiri,” kata 
Bambang.

Bambang juga mengatakan banyak faktor yang menjadi pertimbangan perlunya 
memindahkan Ibu kota negara dari DKI Jakarta. Saat ini Jakarta menjadi kota 
terburuk keempat berdasarkan kondisi lalu lintas saat sibuk dari 390 kota yang 
disurvei. Peringkat 9 terburuk untuk kepuasan pengemudi, serta kinerja 
kemacetan terburuk, 33.240 Stop-Start Index serta grid lock yang mengakibatkan 
komunikasi dan koordinasi antar kementerian lembaga kadang-kadang tidak efektif.

“Kerugian ekonomi yang diakibatkan tahun 2013 sebesar 56 triliun per tahun, 
yang kami perkirakan angkanya sekarang sudah mendekati Rp100 triliun per tahun 
dengan makin beratnya kemacetan di wilayah Jakarta,” kata Bambang.

Selain masalah kemacetan, masalah lain adalah banjir, yang tidak hanya banjir 
yang berasal dari hulu, tetapi juga ada penurunan muka tanah di pantai utara 
Jakarta, dan kenaikan permukaan air laut di mana 50% wilayah Jakarta itu 
kategorinya rawan bajir atau memiliki tingkat kerawanan banjir di bawah 10 
tahunan. Idealnya sebuah kota besar kerawanan banjirnya bisa minimum 50 tahunan.

Jakarta sekarang ini dalam sejarah berasal dari Batavia yang dibangun oleh VOC 
sebagai kota pelabuhan untuk perdagangan dan perkebunan dan kemudian 
dikembangkan menjadi pusat pemerintahan dari pemerintahan kolonial Belanda.

“Karenanya kita ingin nantinya ingin punya ibu kota baru. Selain mencerminkan 
identitas Indonesia juga menjadi kota yang modern, berkelas internasional atau 
dengan istilah simpelnya smart, green, and beautiful city,” katanya.

Posisi ibu kota baru hanya untuk pusat pemerintahan, yaitu eksekutif, 
kementerian/lembaga, legislatif parlemen (MPR/DPR/DPD), kemudian yudikatif; 
kejaksaan, Mahkamah Konstitusi (MK) dan seterusnya, kemudian pertahanan 
keamanan; Polri-TNI, serta kedutaan besar dan perwakilan organisasi 
internasional yang ada di Indonesia.

Adapun fungsi jasa keuangan, perdagangan dan industry, menurut Menteri 
PPN/Kepala Bappenas itu, tetap akan di Jakarta, misalkan Bank Indonesia, OJK 
(Otoritas Jasa Keuangan), BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).

“Ini konsep yang kita coba tiru dari beberapa best practice yang sudah 
dilakukan di negara lain,” katanya.

Tujuan pembangunan ibu kota baru adalah pemisahan pusat bisnis dan pusat 
pemerintahan.

“Jakarta tetap akan menjadi pusat bisnis bahkan harus sudah menjadi pusat 
bisnis yang levelnya regional atau level Asia Tenggara,” kata Bambang.

Anggaran Rp323 – Rp466 Triliun

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencana Pembangunan 
Nasional (Bappenas) memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk memindahkan ibu 
kota negara dari Jakarta ke kota lain di luar Pulau Jawa ini sekitar Rp323 
hingga Rp466 triliun.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan sumber pembiayaan 
bisa berasal dari 4 sumber, yaitu dari APBN khususnya untuk initial 
infrastructure dan juga fasilitas kantor pemerintahan dan parlemen, kemudian 
dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk infrastruktur utama dan fasilitas 
sosial. Kemudian KPBU, Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha untuk beberapa 
unsur utama dan juga fasilitas sosial, dan swasta murni khususnya yang terkait 
dengan properti perumahan dan fasilitas commercial.

Untuk merealisasikan pemindahan ibu kota ini harus dibentuk badan otorita yang 
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Nanti badan ini mengelola dana 
investasi pembangunan kota baru, serta melakukan kerja sama baik dengan BUMN 
maupun swasta. Selain juga mengelola aset investasi dan menyewakan aset 
tersebut kepada instansi  pemerintah atau pihak ketiga, serta mengelola proses 
pengalihan aset pemerintah di Jakarta untuk membiayai investasi pembangunan 
kota baru.

Badan otorita ini juga harus melakukan persiapan  dan pembangunan dari menyusun 
struktur pola tata ruang, membangunan infrastrukturnya dan gedung fasilitas 
pemerintahan, mengendalikan proses pembangunan sarana prasarana, serta 
mengelola dan memelihara gedung dan fasilitas publik lainnya. [Didit Sidarta]


   
    

Kirim email ke