https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1518-ada-takbir-yang-mencemaskan
/*Ada Takbir yang Mencemaskan*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Selasa, 14
Mei 2019, 05:10 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1518-ada-takbir-yang-mencemaskan>
<https://twitter.com/home/?status=Ada Takbir yang Mencemaskan
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1518-ada-takbir-yang-mencemaskan
via @mediaindonesia>
Ada Takbir yang Mencemaskan
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/05/e10a454bdf7e48985bdaf979c092c5ed.jpg>
/MI/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
SETIAP zaman punya ceritanya sendiri. Setiap hasrat punya siasatnya
sendiri. Seperti cerita zaman ini. Cerita ketika Tuhan diklaim punya
kelompok tertentu dan yang lain seperti tak boleh memiliki. Hasrat
menemukan siasat.
Takbir yang teramat sakral, yang diajarkan para guru mengaji kami
dahulu di surau semasa kanak-kanak, mesti diucapkan penuh takzim. Di
zaman ini takbir kerap digemakan di jalanan, bahkan kadang bernuansa
ancaman. Ancaman pembunuhan. Kenapa Tuhan Yang Maharahman dilibatkan
untuk kejahatan?
Dengan takbir pula di kerumunan aksi di depan KPU, Jakarta, Jumat pekan
silam, seorang pemuda sesumbar hendak memenggal kepala pemimpin
tertinggi negara. “Dari Poso siap penggal kepala Jokowi. Insya Allah.
Allahu Akbar.”
Ia ulangi lagi setelah bergerak beberapa langkah ke depan. “Jokowi siap
kita penggal kepalanya. Dari Poso. Demi Allah.” Ringan saja ia
mengancam. (Tahun lalu seorang remaja bertelanjang dada, seperti kalap,
memaki-maki Jokowi, mengancam hendak menembaknya. Ayah anak ini kemudian
meminta maaf. Kenapa anak ini begitu benci?)
Poso, Sulawesi Tengah, yang disebut ialah lokus yang punya
cerita kekerasan. Sang pemuda itu punya referensi. Adakah nama Jokowi
yang disebutkan punya tafsir selain Joko Widodo, sang kepala negara
kita? Di mahkamah nanti akan menjadi benderang apa motifnya. Polisi toh
telah mencokoknya.
Frasa ‘Demi Allah’, tanda keseriusan hendak melakukan. Dalam video
kerumunan itu, dua ibu berhijab dengan riang dan serentak melafalkan
takbir tanda setuju kehendak sang pemuda. Memenggal kepala manusia,
bahkan kepala negara, seolah hal mulia.
Tak usah dicari jejak yang jauh. Sejak Pilkada Jakarta, dimulai kasus
Al-Maidah 51, seruan membunuh Ahok dipimpin pentolan FPI Muhammad Riza
Shihab nyaring diteriakkan. Tak aneh jika ada banyak yang mengikuti
jejak yang tak jauh itu. Seolah di negeri ini membunuh manusia semudah
orang meludah. Inilah pilkada dengan politik identitas yang paling
membelah yang terus dibawa ke Pemilu 2019.
Kasus sang pemuda itu menambah panjang senarai serupa itu, takbir untuk
laku mungkar. Sebagai muslim saya merasa tak nyaman setiap ada gema
takbir sebagai prolog atau epilog laku destruktif. Ada rasa cemas setiap
takbir digemakan di jalanan dengan nada jauh dari ketakziman.
Ini bulan Ramadan. Bulan penuh berkah dan ampunan. Bulan ketika muslim
dianjurkan menjaga lisan (dan tulisan). Bulan ladang pahala jika puasa
dilaksanakan dengan segenap jiwa raga. Seperti kata Imam Al Ghazali,
ibadah puasa secara paripurna dengan membersihkan hati dari hal-hal
busuk dan menjauhi segala perbuatan buruk.
Baik dan bijak pula anjuran di bulan Ramadan agar kita puasa bermain
media sosial. Salah satu yang menganjurkan ialah Ketua Umum PP
Muhammadiyah Haedar Nashir. Istilah yang kini populer ‘puasa jempol’
sebab lewat kuasa jempollah kabar dusta, fitnah, dan kebencian menyebar
bagai virus mematikan.
Namun, puasa kali ini mungkin kita hanya mendapat lapar dan dahaga sebab
kita belum juga jeda dari aksi saling menjelekkan dan umbaran
purbasangka. Tak sekali dua kali mereka yang mengaku ulama menghujat
sesama muslim lain, juga terhadap Jokowi. Ada sikap jemawa: Islam mereka
lebih sejati.
Menurut Syeikh Imam Nawawi Albantani, beberapa ciri-ciri ulama pewaris
nabi antara lain: memiliki iman yang kukuh, istikamah, dan konsisten
terhadap kebenaran. Ulama juga memiliki sifat kerasulan: jujur
(shiddiq), amanat (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan (tablig).
Karena itu, jika ada ulama yang merendahkan (fisik) sesama manusia,
menghasut untuk melakukan kekerasan, memaki-maki dengan kata-kata kotor,
menebar kabar dusta dan fitnah, sulit saya menaruh hormat kepada mereka.
Ulama, orang-orang berilmu itu, harus jadi pencerah umat. Bukan
pemecah umat.
Kita percaya, ulama sejati, para pencerah dan pemandu umat itu, tetap
setia pada tugas yang mulia. Mereka teguh. Tak gaduh dan riuh. Mereka
istikamah dan konsisten menjaga kebenaran. Mereka jadikan kejujuran dan
keadilan mahkota hidupnya sebab inilah ‘magnum opus’ ulama yang
sesungguhnya. Termasuk tugas besar meluruskan generasi pembenci nan
agresif hasil ‘didikan’ para penghasut lewat media sosial.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1518-ada-takbir-yang-mencemaskan>
<https://twitter.com/home/?status=Ada Takbir yang Mencemaskan
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1518-ada-takbir-yang-mencemaskan
via @mediaindonesia>