Sudah saya tulis sebelumnya bahwa kalau suatu mata uang melemah akan bikin 
barang import mahal karena importir harus menggunakan rupiah yg lebih banyak 
utk membayar dalam bentuk dollar. Ini sudah benar tetapi salah kalau mengatakan 
akan menyebabkan inflasi.

 

Import naik tidak menyebabkan inflasi.

Import naik utk menutupi kelangkaan barang, artinya produksi dalam negeri tidak 
cukup shg harus import dari luar. Kalau tidak import malahan harga bisa naik 
alias inflasi. Malahan import utk meredam supaya harga tidak/jangan naik. Kalau 
gak import, ya konsumen akan susah beli barang krn barangnya langka. Ini akan 
bikin harga naik. Makanya harus import supaya pasokan barang cukup dan harga 
stabil atau diturunkan.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Tuesday, May 14, 2019 12:46 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

 

  

Betul pelemahan mata uang akan menguntungkan export dan bisa menaikan 
pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya ada segi kerugiannya yaitu import menjadi lebih 
mahal dan bisa menyebabkan inflasi. Menang, sebaliknya, penguatan mata uang, 
juga ada untung ruginya. Jadi tidak bisa dibilang pelemahan mata uang selalu 
jelek dalam situasi tertentu.

 

BH Jo



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Kurs itu = harga. Harga itu ditentukan oleh supply and demand.

Ini dasarnya pemikirannya.

Jadi gak benar kalau kurs nya menguat atau melemah diidentikkan dgn kehebatan 
atau ketidakhebatan dari suatu mata uang.

Orang gak ngerti aja yg berpikiran mata uang harus menguat.

Banyak orang ini tidak mengerti bahwa kalau mata uang negaranya menguat, itu 
artinya barang yg diproduksinya kalau diexport akan mahal. Jadi pembeli akan 
berkurang atau sama sekali tidak mau beli.

Begitu juga banyak orang tidak mengerti kalau mata uang negaranya melemah, itu 
artinya lebih gampang eksport produksi dalam negeri, tetapi juga melemahnya 
mata uang juga refleksi ada suatu masalah didalam negeri.

 

Jadi kurs yg ditentukan oleh demand supply itu akan selalu berfluktuasi 
mengikuti berbagai faktor. Faktor ini bukan faktor ekonomi saja. Ceteris 
paribus memang faktor ekonomi yg paling dominan. Tetapi kalau ada political 
crisis misalnya kudeta, ya babak belur mata uangnya akan jatuh. Begitu juga 
segampang misalnya ada gempa bumi, kebakaran akan mempengaruhi mata uangnya. 
Apa saja bisa mempengaruhi. Hanya saja besarnya pengaruh2 itu yg akan 
menentukan kurs nya. 

 

Disinilah pentingnya mengenal arti titik equilibrium dari foreign exchange itu. 
Titik equilibrium akan selalu berubah menurut sikon. Tetapi titik equilibrium 
itu tidak mencerminkan baik/hebat atau tidak.

 

Segini dulu

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
<[email protected] <mailto:[email protected]> > 
Sent: Monday, May 13, 2019 3:24 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: RE: [GELORA45] Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

 

 

Saya juga tidak mengerti apa maksud dari data yg ditulis dan juga kita tunggu 
jawaban2 bung Ajeg dari pertanyaan2 bung Nesare utk mencerahkan pengetahuan 
kita? 

 

Banyak mata uang negara2 lain juga melemah thd US Dollar tetapi ya tidak 
membuat resah. Misal: 

 

1 USD = 1.12 CAN$ Oktober 2014 (Kanada)

1 USD = 1.34 CAN$ Mei 2019

Jadi hilang value nya 17%

 

Kutipan:

USD = Rp 12.041,-  Oktober 2014
USD = Rp 14.482,-  Mei 2019
Jadi juga hilang value nya 17%.
  
  
  


---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Ente ini rajin bener ya nulis2 konversi kurs ini.

Ente mau ngomong apa?

Kalau mau ngasih tahu bahwa rejim Jokowi goblok gak bisa mengontrol kurs ini ya 
kasih tahu kita2 ini kenapa? Apa alasannya? Apakah kalau kurs menguat akan 
lebih baik? Ataukah kurs melemah akan lebih baik.

 

Karena ente ini modus operandinya menyerang Jokowi terus, ya ane berkesimpulan 
ente mau menyalahkan rejim Jokowi atas pelemahan rupiah atau US dollar.

 

Kalau ini bener, coba jawab kenapa rupiah harus menguat?

Kalau ini gak bener, ya ente asal cuap disini. Hanya saja aneh bagi ane koq 
rajin2nya nulis angka2 dan singkatan yg makan waktu mengetiknya hehehehehe..

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
<[email protected] <mailto:[email protected]> > 
Sent: Monday, May 13, 2019 1:17 PM
To: GELORA45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: [GELORA45] Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

 

 

13 Mei 2019
USD = Rp 14.482,- 
  
18 April 2019 
USD = Rp 14.136,- 
  
20 Oktober 2014
USD = Rp 12.041,- 
  
  
---
  

Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

  
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4547314/waduh-dolar-as-ngamuk-lagi-dekati-rp-14500

 

 

 



Kirim email ke