Melihat kurs pada 1 titik tidak bisa subjektif. Ini data. Yg bisa subjektif itu 
persepsinya. Misalnya siajeg mau bilang Jokowi goblok gak bisa ngatur ekonomi. 
Persepsi ini gak benar, tetapi datanya benar yaitu menguat atau melemah.

 

Yg harus dipikirkan adalah kenapa menguat dan kenapa melemah.

Melemah dan menguatnya suatu mata uang mempunyai dampak positif dan negatif.. 
Ini yg kurang diketahui orang2 yg gak ngerti ekonomi.

Orang2 yg gak ngerti ekonomi berpikir mata uang menguat artinya positif terus. 
Ini salah. Ini cara berpikir yg hrs diperbaiki.

 

Saya sudah tulis berulang2 kali  yennya jepang itu luar biasa kuatnya. 
Sedangkan ekonominya setengah mati (bisa dilihat interest ratenya itu rendah 
sekali sampai2 zerro. Mereka sampai berpikir mau negative interest rate) krn 
eksport mereka menjadi mahal. Mereka menginginkan yen yg melemah shg hasil 
export akan lebih besar.

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Tuesday, May 14, 2019 7:03 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

 

  

 

Membandingkan nilai tukar mata uang secara selektif seperti ini sifatnya 
subyektif dan dari perbandingan ini kita tidak bisa mengambil kesimpulan 
apa-apa. 





Kita dapat dengan mudah memilih tanggal-tanggal tertentu dimana nilai tukar 
naik/turun sekian persen. Antara tanggal x dan hari ini naik 10%. Antara 
tanggal y dan hari ini turun 20%. Antara tanggal z dan hari ini tidak ada 
perubahan dan seterusnya.

 

Nilai tukar mata uang senantiasa bergerak 24x7 sehingga untuk mengambil suatu 
kesimpulan lebih baik menggunakan trend, nilai tertinggi, dan nilai terendah. 

 

Selain itu untuk trend juga tergantung periode yang dilihat. Misalnya untuk 
trend harian bisa saja kecenderungannya datar, tetapi untuk trend bulanan 
terjadi penurunan, dan untuk trend tahunan terjadi kenaikan, dan seterusnya..

 

Sebagai ilustrasi, sepanjang tahun 2014-2015 bisa saja terjadi penurunan (atau 
kenaikan) drastis disertai gejolak yang besar, tetapi untuk 2016-2019 trend 
menjadi stabil. Yang mana yang dipertimbangkan tergantung dari kebutuhan.

 



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <bhjo@.... 
<mailto:bhjo@...> > wrote :

Saya juga tidak mengerti apa maksud dari data yg ditulis dan juga kita tunggu 
jawaban2 bung Ajeg dari pertanyaan2 bung Nesare utk mencerahkan pengetahuan 
kita? 

 

Banyak mata uang negara2 lain juga melemah thd US Dollar tetapi ya tidak 
membuat resah. Misal: 

 

1 USD = 1.12 CAN$ Oktober 2014 (Kanada)

1 USD = 1.34 CAN$ Mei 2019

Jadi hilang value nya 17%

 

Kutipan:

USD = Rp 12.041,-  Oktober 2014
USD = Rp 14.482,-  Mei 2019
Jadi juga hilang value nya 17%.
 
 
  


---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Ente ini rajin bener ya nulis2 konversi kurs ini.

Ente mau ngomong apa?

Kalau mau ngasih tahu bahwa rejim Jokowi goblok gak bisa mengontrol kurs ini ya 
kasih tahu kita2 ini kenapa? Apa alasannya? Apakah kalau kurs menguat akan 
lebih baik? Ataukah kurs melemah akan lebih baik.

 

Karena ente ini modus operandinya menyerang Jokowi terus, ya ane berkesimpulan 
ente mau menyalahkan rejim Jokowi atas pelemahan rupiah atau US dollar.

 

Kalau ini bener, coba jawab kenapa rupiah harus menguat?

Kalau ini gak bener, ya ente asal cuap disini. Hanya saja aneh bagi ane koq 
rajin2nya nulis angka2 dan singkatan yg makan waktu mengetiknya hehehehehe..

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
<[email protected] <mailto:[email protected]> > 
Sent: Monday, May 13, 2019 1:17 PM
To: GELORA45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: [GELORA45] Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

 

 

13 Mei 2019
USD = Rp 14.482,- 
 
18 April 2019 
USD = Rp 14.136,- 
 
20 Oktober 2014
USD = Rp 12.041,- 
  
  
---
  

Dolar AS 'Ngamuk' Lagi Dekati Rp 14.500

  
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4547314/waduh-dolar-as-ngamuk-lagi-dekati-rp-14500

 

 

 



Kirim email ke