Mari kita hormati pilihan Prabowo maupun Gerindra
Bahwa Prabowo menyatakan menolak hasil pemilu versi KPU itu adalah bagian dari 
kebebasan berpendapat. Sikap yang kekanak-kanakan memang, tapi tidak ada UU 
yang melarang seorang yang sudah tua yang mau bersikap seperti anak-anak..
Lain lagi dengan Partai Gerindra. Apa sikapnya sebagai partai? Apakah Gerindra 
menerima hasil pemilu? Kalau ya, maka Prabowo jadinya berbeda pandangan dengan 
Gerindra. Konsekuensi logisnya, Prabowo sebaiknya mundur dari Ketua Umum 
Gerindra. Kalau tidak mau, Gerindra sebaiknya mengganti Ketua Umumnya.
Kalau Gerindra juga menyatakan menolak hasil Pemilu, ini tentu berbeda dengan 
sikap Prabowo sebagai pribadi, karena Gerindra adalah partai. Adalah hak 
Gerindra untuk menyatakan menolak hasil resmi Pemilu. Tidak ada UU yang 
melarang sebuah partai politik untuk menyatakan tidak setuju dengan hasil KPU. 
Tapi itu berarti, Gerindra harus meninggalkan parlemen. Karena parlemen itu 
adalah hasil pemilu. Bagaimana dia mau masuk dan kerja di suatu entitas, yang 
keberadaannya tidak dia akui?
Keluarnya Gerindra dari parlemen otomatis akan menambah porsi kursi dari 
partai-partai lain yang tembus ambang batas 4 persen. Karena sekalipun Gerindra 
keluar dari parlemen, jumlah kursi di parlemen tidak jadi berkurang, jumlahnya 
tetap.
Jadi, setuju atau tidak setuju hasil pemilu sebenarnya terserah pada tiap-tiap 
orang dan tiap partai. Kalau ada partai tidak setuju dan tidak mau percaya lagi 
pada prosedur pemilu dan hasilnya tanpa menyertakan bukti-bukti dan tanpa 
mengajukan pengaduan sesuai prosedurnya, silahkan tarik diri dari parlemen. 
Tidak akan ada konsekuensi praktisnya untuk roda pemerintahan maupun kerja 
parlemen. Jadi kalau mereka mau memilih begitu, mari kita hormati pilihannya..
Yang penting, Gerindra sekarang harus mengatakan secara gamblang, apakah dia 
sebagai partai mau menarik diri dari parlemen karena tidak setuju hasil resmi 
perhitungan KPU, ya atau tidak. Itu saja. Agar pembagian kursi bisa nanti 
segera dirampungkan, dan parlemen bisa segera bekerja, dengan atau tanpa 
Gerindra.
Indonesia tidak akan bubar, hanya karena Gerindra tinggalkan parlemen. 
Indonesia tidak akan bubar, hanya karena seorang Prabowo tidak mau mengakui 
perhitungan resmi KPU. Mari kita hormati kebebasan berpendapat di alam 
demokrasi.


HENDRA SUHENDAR | Redaktur DW Jerman.

Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone

Kirim email ke