* Bowo macam Trump tapi bukan Trump..* By Aboeprijadi
Bowo bekerja ala Trump. Pola propaganda Trumpian. Trump degan enteng berdusta macam-macam ihwal dalam kampanye mau pun semasa pemerintahannya. Bowo berbicara normatif, political correct dulu, jangan begini atau begitu, yang dia sendiri praktekkan, tapi kemudian, selang bebrapa waktu, dia tuduhkan telah dilakukan oleh lawannya. Di Amerika barangkali publik tak mudah disesatkan seperti itu. Maka sarana publik - media mainstream dan medsos - menjadi krusial. Disini Bowo dan Trump berbeda instrumen tapi bernalar praxis politik serupa. Semacam ini salah satu rumus Trump: Trump akan fait accompli degan satu atau dua keputusan untuk kemudian menyalahkan media pers. Masalah akan tertunda untuk jadi materi hukum yang akan meledak belakangan (seperti soal peran hackers Rusia dlm kampanye Pilpresnya) atau jadi arsip sejarah kelak. Peduli setan, kata Trump. Bedanya Bowo menyampaikan pesannya tidak pakai twitter spontan ala Trump, tapi pakai acara-acara megah macam simposium atau socalled ‘pidato kebangsaan’ atau Sujud Syukur. Yang terakhir ini tentu saja demagogi manipulatif terhadap massa mitra koalisi yang religius-minded. Sebaliknya Trump sangat praktis: dia cukup bersenjata twitter dan massa pendukungnya boleh baca media yg pd gilirannya dia akan hujat habis. Bagi Bowo ini harus berbeda karena sifat publik akar rumput berbeda. Dalam banyak hal ini jadi lebih mudah: Bowo berurusan dengan massa yang manut religi secara setengah membabibuta. Untuk itu dia cukup mengerahkan Cyber Army dan pasukan Partai Gendruwo untuk masuk basis akar rumput dengan hoaks-hoaks simpel dan melakukan operasi serangan fajar. Maka bagi Trump: The King is dead. Long live the King. Tapi Bowo bukan King melainkan the President who never was, karena itu, ini harus dia tuntaskan dengan mengaku memenangi Pilpres, sudah terpilih jadi Presiden dan baru belakangan mengklaim telah terjadi banyak kecurangan. Logika terbalik tapi disengaja demikian demi strategi menjaga koalisi dan keutuhan dan keberlanjutan semangat massa kaumnya. Sedangkan Trump sementara bisa berlaku seolah King. Bagi Prabowo: Long live the Presiden who never was - and never will be ... Sent from my iPhone
