----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Kamis, 16 Mei 2019 
15.50.57 GMT+2Judul: [nasional-list] Bowo macam Trump tapi bukan Trump..
     

 
 Bowo macam Trump tapi bukan Trump..

By Aboeprijadi

Bowo bekerja ala Trump.Pola propaganda Trumpian. Trump degan enteng berdusta 
macam-macamihwal dalam kampanye mau pun semasa pemerintahannya. Bowo 
berbicaranormatif, political correct dulu, jangan begini atau begitu, yang 
diasendiri praktekkan, tapi kemudian, selang bebrapa waktu, dia tuduhkantelah 
dilakukan oleh lawannya. Di Amerika barangkali publik tak mudahdisesatkan 
seperti itu. Maka sarana publik - media mainstream danmedsos - menjadi krusial. 
Disini Bowo dan Trump berbeda instrumentapi bernalar praxis politik serupa. 

Semacam ini salahsatu rumus Trump: Trump akan fait accompli degan satu atau 
duakeputusan untuk kemudian  menyalahkan media pers. Masalah akantertunda untuk 
jadi materi hukum yang akan meledak belakangan(seperti soal peran hackers Rusia 
dlm kampanye Pilpresnya) atau jadiarsip sejarah kelak. Peduli setan, kata 
Trump. 

BedanyaBowo menyampaikan pesannya tidak pakai twitter spontan ala Trump,tapi 
pakai acara-acara megah macam simposium atau socalled ‘pidatokebangsaan’ atau 
Sujud Syukur. Yang terakhir ini tentu sajademagogi manipulatif terhadap massa 
mitra koalisi yang religius-minded. 

Sebaliknya Trump sangat praktis: diacukup bersenjata twitter dan massa 
pendukungnya boleh baca media ygpd gilirannya dia akan hujat habis. Bagi Bowo 
ini harus berbedakarena sifat publik akar rumput berbeda. Dalam banyak hal ini 
jadilebih mudah: Bowo berurusan dengan massa yang manut religi secarasetengah 
membabibuta. Untuk itu dia cukup mengerahkan Cyber Army danpasukan Partai 
Gendruwo untuk masuk basis akar rumput denganhoaks-hoaks simpel dan melakukan 
operasi serangan fajar. 

Makabagi Trump: The King is dead. Long live the King. Tapi Bowo bukanKing 
melainkan the President who never was, karena itu, ini harus diatuntaskan 
dengan mengaku memenangi Pilpres, sudah terpilih jadiPresiden dan baru 
belakangan mengklaim telah terjadi banyakkecurangan. Logika terbalik tapi 
disengaja demikian demi strategimenjaga koalisi dan keutuhan dan keberlanjutan 
semangat massakaumnya. Sedangkan Trump sementara bisa berlaku seolah King. 
BagiPrabowo: Long live the Presiden who never was - and never will be....



Sent from my iPhone



    

Kirim email ke