https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1520-petarung-dan-pemenang/
/
//
//
/*Petarung dan Pemenang*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Kamis, 16 Mei
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1520-petarung-dan-pemenang>
<https://twitter.com/home/?status=Petarung dan Pemenang
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1520-petarung-dan-pemenang
via @mediaindonesia>
Petarung dan Pemenang
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/05/295c433c43c13c73c7fc958247c032ab.jpg>
/MI/ebet/
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
ADA fakta psikologis yang menarik hati. Fakta itu ialah semakin
bertambah orang yang membahasakan dirinya sebagai petarung.
Terkadang sebutan petarung itu disertai dengan predikat 'sejati'. Sang
diri pun bertambah kukuh menjadi petarung sejati.
Kata 'sejati' kiranya kata yang kerap digunakan justru di masa kita
menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Di masa kita
hidup dalam sistem otoriter, di masa Orde Baru, rasanya kata 'sejati'
tidak 'eksis'. Apa yang bikin dia kini eksis?
Barangkali karena kita tidak lagi memercayai ada diri yang asli sehingga
kita perlu menyebut 'diri sejati'. Untuk meyakinkan khalayak pembaca,
misalnya, kita memulai kalimat dengan "Sejatinya..." yang menggantikan
"Sesungguhnya...".
Dalam hal petarung rupanya ada petarung palsu, atau petarung kulit luar
tok, sehingga orang perlu membahasakan diri sebagai 'petarung sejati'.
Inilah petarung benaran, luar dan dalam. Bukan hanya kulitnya, melainkan
juga isinya.
'Petarung', sejati ataupun palsu, akan kehilangan makna bila tidak
dikaitkan dengan 'pemenang'. Petarung tidak hidup di alam angan-angan,
atau di alam nyata berupa shadow boxing, tapi tidak pernah naik ring.
Jarak petarung dan pemenang pendek. Sekalipun jaraknya pendek, petarung
belum tentu menjadi pemenang. Saya pikir itulah yang dialami Liverpool
di Liga Primer. Sejauh ini, hingga musim ini yang punya kedua-duanya
(petarung dan pemenang) ialah Manchester City.
Pemenang bisa ditumbangkan, bahkan dengan dramatis, bila kehilangan
karakter petarung. Hal yang jarang terjadi karena itu sangat
menggegerkan bila sampai terjadi. Hemat saya, itulah yang diderita
Barcelona, sang pemenang, yang ditumbangkan Liverpool, sang petarung, di
Liga Champions. Barca telah unggul 3-0 di kandang, tapi kemudian
dihabisi 4-0 dalam laga tandang. Kenapa? Karena Barca kehilangan jiwa
petarung. Maaf, di Anfield dia menjadi ayam sayur.
Contoh lain bagaimana Ajax, sang pemenang, ditumbangkan Tottenham
Hotspur, sang petarung, juga di Liga Champions. Ajax pun telah lebih
dulu unggul 1-0 di kandang lawan. Bahkan, pada mulanya membuat kejutan
dengan mudah menyikat Tottenham 2-0 di Stadion Johan Cruyff. Dengan
agregat 3-0 seperti mustahil Tottenham menjadi pemenang. Kenyataannya
kemudian Ajax ditumbangkan dengan skor 3-2. Kendati agregat 3-3, berkat
lebih banyak menggasak gol tandang, Tottenham yang maju ke final
berhadapan dengan Liverpool.
Saya pikir kehebatan karakter petarung dan kehebatan karakter pemenang
itulah yang sekarang kita saksikan di Liga Primer. Hasilnya, untuk
pertama kali empat klub Inggris (Liverpool, Tottenham, Chelsea, dan
Arsenal) yang tampil di final kejuaraan Eropa.
Kehebatan karakter petarung dan karakter pemenang itulah pula yang bikin
Manchester City hanya unggul satu poin saja daripada Liverpool untuk
menjadi juara Liga Primer. Itu pun harus menanti sampai detik terakhir
musim ini.
Kata Juergen Klopp, pelatih Liverpool, tidak mudah mengalahkan City
dengan kekuatannya yang sekarang dan keuangan yang dimilikinya.
Sebaliknya, Pep Guardiola, pelatih City, berterima kasih kepada
Liverpool yang membuat level mereka musim ini lebih tinggi daripada
musim sebelumnya.
Demikianlah petarung dan pemenang saling menghormati. Hemat saya, itulah
pula yang hendaknya bersama kita wujudkan dalam pilpres.