https://www.jawapos.com/ekonomi/finance/15/05/2019/pemerintah-waspadai-pelebaran-defisit-neraca-perdagangan/
*Pemerintah Waspadai Pelebaran Defisit Neraca Perdagangan* FINANCE <https://www.jawapos.com/ekonomi/finance/> 15 Mei 2019, 20:26:32 WIB *JawaPos.com –* Neraca perdagangan Indonesia mengalami pelebaran defisit sampai ke angka USD 2,5 Miliar pada April 2019. Jika diakumulasi sejak awal tahun, neraca perdagangan nasional semakin melebar sebesar USD 2,65 Miliar. Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa defisit neraca perdagangan tersebut harus diwaspadai. Sebab, laju ekspor Indonesia terus mengalami penurunan bersamaan dengan meningkatnya impor pada April 2019 ini. “Walaupun impornya kontraksi, tapi ekspor kontraksinya juga lebih dalam lagi. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan. Kita juga harus waspada,” ujarnya ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/5). Berdasarkan data BPS, peningkatan neraca impor nasional 12,25 persen atau USD 15,10 miliar banyak dipengaruhi oleh laju impor komponen migas yang naik sebesar 46,99 persen atau USD 714,6 juta. Artinya, laju impor komponen migas seperti minyak mentah, hasil minyak dan gas memiliki andil menekan peningkatan angka impor nasional. Namun menurut Sri, peningkatan impor sektor migas terus naik lantaran volume permintaan dari masyarakat meningkat setiap harinya. Pemerintah dinilai tidak bisa menekan permintaan masyarakat dalam sektor migas yang begitu besar. “Kita enggak bisa minta volume turun dengan pertumbuhan (ekonomi) di atas 5 persen. nggak mungkin permintaan terhadap energi itu turun. Jadi pasti akan meningkat,” tuturnya. Di sisi lain, menurut Sri, pemerintah masih mempunyai pekerjaan rumah mengenai pembangunan sektor produksi migas nasional. Dia menyampaikan, produksi migas nasional masih stagnan. “Malah kemarin kita struggle untuk minyak. Lifting enggak sesuai asumsi APBN. Sementara permintaan terus meningkat,” tuturnya. Lebih jauh, Sri Mulyani menyatakan bahwa bahan bakar alternatif Biodiesiel 20 (B20) belum mampu menutup lubang impor di sektor migas yang begitu besar. Itu terbukti bahwa Pertamina diketahui masih lakukan impor migas yang begitu besar, meski B20 telah diperkenalkan ke masyarakat. “Nanti kita lihat apa yang terjadi. Misalnya, menunggu menteri ESDM atau menteri ekonomi dari sisi (migas) itu. Tapi memang ini kalau trade account kita defisit dengan situasi gonjang ganjing, ini akan nimbulkan risiko yang lebih tinggi bagi ekonomi kita,” tegasnya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan neraca perdagangan Indonesia April 2019 mengalami defisit USD 2,5 miliar. BPS mencatat, nilai neraca impor Indonesia saat ini berada di angka USD 15,09 miliar, sementara itu nilai neraca ekspor hanya sebesar USD 12,59 miliar. Kepala BPS Suhariyanto menyampaikan, defisit yang dialami pada bulan ini banyak dipengaruhi oleh defisit neraca migas yang sebesar US$1,49 miliar. Sedangkan pada nonmigasnya, defisit di angka US$1,01 miliar. Secara akumulatif, sepanjang Januari-April 2019, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 2,65 miliar. Defisit paling banyak disumbangkan oleh neraca migas yang mengalami defisit sebesar USD 2,76 miliar. “Kita harapkan ke depan neraca perdagangan kita akan membaik,” kata Suhariyanto, di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/5). Editor : Mohamad Nur Asikin Reporter : Igman Ibrahim
